Ojek Mayat Tambang, Minum Arak Sebelum Bawa ‘Omprengan’

Ketapang

Editor K Balasa Dibaca : 1596

Ojek Mayat Tambang, Minum Arak Sebelum Bawa ‘Omprengan’
Yani ketika ditemui di warung kopi. (SP/Theo)

Kisah Tukang Ojek Pembawa Mayat (bagian dua)


Tak semua pengojek berani menerima kerjaan membawa mayat dari lokasi tambang. Hanya ada belasan tukang ojek yang berani. Satu diantaranya adalah Yani. Rasa takut tetap ada. Namun, karena kebutuhan ekonomi, rasa takut itu dilawannya. Salah satu cara mengatasinya, minum alkohol sebelum bawa mayat.

Tukang ojek yang mangkal bareng Yani, sebagian besar dari Kecamatan Matan Hilir Selatan. Seperti dari Pelang, Pesaguan dan Kecamatan Benua Kayong. Sebelum bawa mayat, biasanya minum arak. Hampir satu botol.

“Jadi, tidak ada rasa takut. Konsentrasi juga tidak hilang, malah semakin fokus bawa motornya, asalkan tidak sampai mabuk. Kan kita juga kontrol," kenang Yani.

Selain menyiasati rasa takut dalam diri, kesulitan lain yang dihadapi adalah, perjuangan bonceng mayat dari lokasi tambang menuju Pelabuhan Teluk Batang. Kondisi jalan sempit dan dikelilingi hutan, jadi tantangan tersendiri. Jalan di lokasi masih berupa tanah kuning. Kalau musim hujan jalan hancur. Jika ada kendaraan berlawanan arah masuk menuju lokasi tambang, mereka mesti menepi dulu.

Hampir setiap bulan, ada pekerja meninggal akibat kecelakaan kerja. Jumlahnya mencapai puluhan pekerja. Mereka dievakuasi dengan ojek. Sekali ojek, tarifnya cukup mahal. Apalagi ada kategori tarif, bagi mayat-mayat tertentu.

"Untuk biaya paling murah Rp800 ribu. Tergantung kondisi mayat, apakah kondisinya masih utuh atau sudah hancur. Kalau hancur atau tubuhnya besar, biayanya Rp1,5 juta," jelas Yani.

Selama bekerja jadi tukang ojek dari 1998 hingga 2002, Yani pernah lima kali bawa mayat. Ia tak selalu sendiri ketika bawa mayat. Pernah terjadi kecelakaan kerja di lokasi tambang, beberapa pekerja meninggal. Ia dan beberapa rekannya, turun bersama ke lokasi tambang, dan membawa mayat menuju Pelabuhan Telok Batang.

"Kalau ada orderan lebih dari satu, turunnya sama teman ojek lain. Biasa sama Ilham, orang Padang dan Harun, orang Pesaguan. Kita iring-iringan bawa mayat," tuturnya.

Selama jadi pengojek mayat, dia selalu jalan malam hari. Jalan relatif sepi. Warga jarang keluar rumah, dibandingkan siang atau sore hari.

"Bukan rahasia umum lagi, soal tukang ojek bawa mayat. Orang bisa dengan mudah menebak, tukang ojek bawa mayat. Jika motor yang digunakan banyak tanah kuning, bawa barang dibungkus seng melintang, itu sudah pasti mayat yang dibawa," ceritanya.

Kini, sudah belasan tahun ia berhenti dari pekerjaan tersebut. Namun, ingatan tentang kejadian-kejadian aneh di luar nalar manusia, tak mudah dilupakan. Sampai sekarang, ia selalu ingat kejadian itu.

Ada kejadian lucu, ketika terjatuh bersama mayat yang dibawanya di meting jalan Desa Pelang. "Mayatnya juga ikut jatuh karena ikatannya lepas. Saat itu hari sudah larut, tidak ada lampu penerangan, sekeliling juga masih hutan,” ujarnya.

Ia tidak sanggup mengangkat mayat itu. Berat sekali. Ia menepi sambil menunggu orang lewat. Tak ada handphone untuk menelepon. Beruntung ada teman lewat. “Ia bantu menaikkan dan mengikat mayat ke atas motor saya," akunya.

Kejadian mistis pun sering dialami. Seperti, anjing menggonggong bersahutan, ketika dirinya melintas. Begitu pun hembusan angin yang kadang dingin dan panas. Datang silih berganti. 

Ia juga kerap melihat pohon-pohon di sepanjang jalan, bergoyang seolah melambai dirinya. "Saat itu tidak ada angin kencang. Tapi pohonnya seperti melambai-lambai,” ceritanya.

Pernah juga motor seperti tak bergerak. Ada yang menahan. Padahal, motor sudah digas. Menghadapi itu, hal penting yang mesti dilakukan adalah, tetap fokus bawa motornya.

Yani terakhir kali menerima permintaan bawa mayat tahun 2002. Ketika itu, anaknya berusia satu tahun. Ada hal menarik yang mendasari dirinya, berhenti jadi pengojek mayat.

Dia menutupi pekerjaan itu dari istri yang dinikahinya sekitar tahun 2000, dan keluarganya. Pekerjaan sambilan itu terbongkar, ketika dia bawa pulang mayat ke rumahnya.

Saat itu, dia sudah tak tahan berkendara lagi. Lelah sekali. Ia memutuskan singgah ke rumahnya. Istirahat sejenak. Sampai di rumah, motor berpenumpang mayat di parkir di bawah pohon mangga.

Sang ibu melihat dan bertanya.

“Apa yang dibawa di motor itu?” tanya sang ibu.

“Mayat,” jawabnya singkat.

Sontak saja, ibu dan istrinya marah. Ia bergegas bawa motor beserta mayat menuju Pelabuhan Telok Batang.

Setelah kejadian itu, ia berhenti jadi pengojek mayat. Selain karena nasehat orangtua, fisik tak mampu lagi.

“Saya tobat. Dibayar berapa pun saya tidak mau lagi. Lebih enak bawa 1000 orang, daripada bawa satu mayat," ujarnya (bersambung). (theo bernadhi/lis)