Selasa, 24 September 2019


Ratusan Mahasiswa STAI Al-Haudl Ikuti Seminar Kebangsaan

Editor:

K Balasa

    |     Pembaca: 416
Ratusan Mahasiswa STAI Al-Haudl Ikuti Seminar Kebangsaan

Seminar kebangsaan STAI Al-Haudl Ketapang. (ist)

KETAPANG, SP - Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Al-Haudl Ketapang menggelar kegiatan seminar kebangsaan deradikalisasi dengan tema "Memperkokoh Wawasan Kebanggsan Pemuda Dalam Nilai Islam" Sabtu (21/4) di aula Gedung Kampus Stai Al-Haudl Ketapang. 

Kegiatan dihadiri seratus mahasiswa Al-Haudl. Ketua MUI Kabupaten Ketapang, KH Faisol Maksum, President Asean Muslim Students Association (AMSA) Safwan Noor, Pembantu Ketua I Stai Al-Haudl, Ucup Supriatna.

Ketua BEM STAI Al-Haudl Ketapang, Hengky Setiawan sangat mengapresiasi antusias para mahasiswa yang hadir dalam kegiatan ini. Padahal diakuinya kegiatan seminar dialog seperti ini memang jarang dilakukan, sehingga dengan adanya kegiatan ini diharapkan para mahasiswa yang merupakan generasi muda dapat memahami dan mengantisipasi paham-paham radikalisme.

"Khususnya di dalam lingkungan akademisi atau kampus. Saya bersyukur kegiatan bisa terlaksana," ungkapnya, Minggu (22/4).

Sementara itu, Pembantu Ketua I Kampus STAI Al-Haudl Ketapang, DR Ucup Supriatna menilai kegiatan seminar seperti ini penting dilaksanakan khususnya terhadap para pemuda lantara maju dan mundurnya suatu bangsa juga ditentukan oleh generasi muda.

"Apalagi 70% penduduk Indonesia pada tahun 2030-2045 diisi oleh para pemuda yang juga merupakan usia produktif," terangnya.

Untuk itu, para pemuda harus memiliki kemampuan baik diri dalam bersaing dan menolak paham-paham yang merusak diri sendiri, lantaran jika 70% pemuda tidak mempunyai kompetensi maka ke depan tidak akan dapat bersaing dan mengelola sumber daya alam yang dimiliki Indonesia.

Presiden AMSA, Sapwan Noor menilai Indonesia memiliki SDA yang melimpah sehingga bukan tidak mungkin banyak pihak luar yang ingin menguasi dan menghancurkan Indonesia. Satu diantaranya dengan mengadu sesama anak bangsa, melakukan propaganda dan memasukkan paham radikalisme ke Indonesia.

"Makanya para pemuda harus memiliki pola pikir linier, mengisi keseharian dengan hal positif seperti membaca dan menjaga pikiran masing-masing dari paham-paham radikalisme," pungkasnya. (teo)