Sabtu, 07 Desember 2019


Masjid Jami' At-Taqwa, Masjid Tertua di Kabupaten Ketapang

Editor:

K Balasa

    |     Pembaca: 1274
Masjid Jami' At-Taqwa, Masjid Tertua di Kabupaten Ketapang

Ernansyah menunjukkan dokumen terkait Masjid At-Taqwa Ketapang. (SP/Theo)

KETAPANG, SP - Berbicara soal masjid tertua di Ketapang, maka hampir semua masyarakat Ketapang mengarahkan gelar tersebut ke Masjid At-Taqwa yang terletak di Kelurahan Kauman, Kecamatan Benua Kayong. 
Bagaimana tidak, masjid yang dibangun tahun 1950 silam ini, bisa dikatakan sebagai reinkarnasi dari dari Masjid Jami' Kerajaan Matan yang berdiri pada tahun 1876.

Sebelum dibangun dan diubah namanya menjadi Masjid At-Taqwa, terlebih dahulu berdiri Masjid Jamik Kerajaan Matan yang kokoh dan merupakan masjid satu-satunya yang ada di Ketapang kala itu. 

Unik dibandingkan peninggalan sejarah kerajaan Melayu di daerah lainnya, yang mana letak masjid jami' lainnya yang selalu berdekatan dengan istana atau keraton kerajaan. Di Ketapang Masjid Jami' Kerajaan Matan terletak di Kampung Kauman. 

Sedangkan Kerajaan Matan berada di Kelurahan Mulia Kerta.
Satu di antara Tokoh Masyarakat Kelurahan Kauman, Ernansyah (61) saat ditemui Suara Pemred di kediamannya, menceritakan pembangunan Masjid Jami' Kerajaan Matan bermula ketika Panembahan Gusti Muhammad Sabran ingin memindahkan pusat Kerajaan Matan dari Tanjungpura ke wilayah Benua Kayong.

Saat itu, sang raja meminta bantuan kepada seorang tokoh agama di Kampung Kaum bernama H Muhammad Ali atau yang bergelar Datok Kaye Laksamana Setia Raja yang berasal dari Brunei Darussalam. Sang raja meminta lokasi tanah yang tinggi dan dekat dengan perairan untuk memindahkan pusat kerajaan.

"Datok kaye menyanggupi permintaan raja. Namun ia juga menawarkan syarat, yakni pembangunan Masjid Jami' Kerajaan Matan diminta untuk dibangun di Kampung Kauman, sedangkan kerajaan di Kelurahan Mulia Kerta. Hal ini disetujui sang raja," terangnya sembari membuka catatan lama serta referensi tentang Masjid Jami' Kerajaan Matan.

Maka pada tahun 1876 dibangunlah Masjid Jamii Kerajaan Matan serta Kerajaan Matan di wilayah Benua Kayong. Berjalannya waktu, Masjid Jami' Kerajaan Matan menjadi satu-satunya pusat pembelajaran agama Islam bagi masyarakat. Bahkan, raja kerap salat dan datang ke Masjid Jami' menggunakan kuda. Di samping itu, terdapat juga Madrasah Islamiah Mataniah (MIM) atau para santri belajar ilmu agama Islam. 

"Saat itu raja juga mempercayai Datok Kaye untuk menjaga perairan Ketapang mulai dari Kuala Pendek, Kuala Panjang serta Celincing dari penjajah baik itu Jepang, Belanda hingga para bajak laut atau biasa disebut lanon. Masjid Jami' Kerajaan Matan menjadi tempat berkumpul dan bermusyawarah serta menyusun strategi menjaga kawasan perairan Ketapang," tuturnya. (teo/bob)