Keberanian Perempuan Tajuk Kayong Tinggalkan Tradisi Bakar Lahan

Ketapang

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 393

Keberanian Perempuan Tajuk Kayong Tinggalkan Tradisi Bakar Lahan
USIR HAMA- Petani dari kelompom tani Sinar Harapan, Desa Lembah Hijau, Kecamatan Nanga Tayal, Kabupaten Ketapang, sedang mempraktikkan bagaimana membuat pestisida organik dengan memanfaatkan bahan dari alam. (SP/Agus Wahyuni)
Bukan peralatan pemadam kebakaran yang canggih, bukan pula imbauan larangan petani tidak membakar lahan, sebagai rujukan mengurangi kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Di Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat, keberadaan petani perempuan justru mengubah sudut pandang semuanya. Keberanian meninggalkan tradisi lama dengan beralih bertani secara ekologis, langkah ampuh menurunkan jumlah titik api di desa mereka.

SP - Mardiana (35) tidak bisa melupakan peristiwa kelam, malam itu, dua tahun lalu. Di Desa Tajuk Kayong, kecamatan Nanga Tayap, tempat tinggal Mardiana, dengan mata kepala sendiri, ia melihat bagaimana bunga api tampak kemerahan dari hutan, terlihat terbang kemudian membakar sejumlah kawasan di sekitarnya, dan nyaris membakar desa Mardiana. 

Beruntung, warga dan petugas pemadam dengan sigap memadamkan api, dalam hitungan jam api berhasil dipadamkan.  Tapi, pasca peristiwa Karhutla tadi, Mardiana dan petani lainnya mengalami dilema. Mereka menjadi takut, begitu musim kering kemudian turun ke ladang dan membuka lahan dengan cara membakar.  

"Padahal cara ini  sudah menjadi tradisi kami. Cara membakar lahan sudah kami lakukan secara turun-temurun," kata Mardiana. 

Mardiana satu di antara peladang tradisional di Desa Tajok Kayong. Tepatnya Kecamatan Nanga Tayap, Kabupaten Ketapang. Ia asli suku Dayak. Suku mayoritas di desa tersebut. Desa ini satu di antara 12 desa yang wilayahnya masuk dalam kawasan konsesi perkebunan sawit, di mana mayoritas penduduknya bekerja di perkebunan.

Meski begitu, mereka masih punya lahan pertanian yang selalu digarap secara turun-temurun. Lahan ini lah, dimanfaatkan warga, untuk mencukupi kebutuhan pokok keluarga dari bercocok-tanam, selain mengandalkan penghasilan dari perusahaan. 

Hanya saja, sejak keluar larangan dari pemerintah meminta petani tidak membuka ladang dengan cara membakar, para petani di sini mulai khawatir. Mardiana misalnya.  Perempuan dengan kulit sedikit legam ini takut, bila larangan itu diindahkan, ia bisa berurusan dengan hukum. 

"Kalau kami buka ladang tanpa membakar, berarti kami meninggalkan tradisi berladang dari nenek moyang kami, katanya, minggu pertama Februari 2018. 

Di Desa Tajuk Kayong sendiri, para petani mulai membuka ladang setiap memaski September-Agustus. Pada bulan itu, para petani di desanya, secara gotong-royong, turun ke ladang. Mereka mulai menebas semak belukar. Lalang dan kayu yang ditebas, kemudian dibakar. Tak heran, asap pun mengepul begitu lahan satu hektare dibakar.

“Tradisi berladang kami, jika lahan sudah dibakar, kami diamkan selama sebulan. Setelah itu baru kami tanam bibit padi di lahan yang kami bakar,” kata Nimia, petani lainnya di Desa Tajuk Kayong.

Belakangan, para petani baru menyadari. Teknik berladang seperti itu memang praktis dan mengirit biaya. Tapi belakangan, dianggap tidak cocok dan kerap dituding penyebab penyumbang titik api dan kabut asap. Bahkan hasil panen dari berladang ini hasilnya juga belum bisa diandalkan untuk meningkatkan penghasilan keluarga. 

"Untuk satu hektare ladang yang kami garap, hasil panen padi kami hanya 700 kilo. Padi kami selain dijual ke pasar, sebagian habis untuk makan hari-hari bersama keluarga," kata Nimia.    

Beruntung, dilema dialami petani di sana mulai terkikis. Masuknya program Desa Makmur Peduli Api, digagas, PT Agrolestari Mandiri, anak perusahaan Sinarmas Food and Agribisnis, para perempuan di desanya mulai mengambil peran.  

Program, bertani tanpa membakar lahan bahkan kini menjadi tranding topik dan kebanggaan bagi pemerintah daerah, lantaran dianggap mampu nengedukasi dan memberdayakan masyarakat lokal.  

Desa Makmur Siaga Api ini dimulai pada 2016. PT Agrolestari Mandiri, anak perusahaan Sinar Mas Food and Agrikultur, mengedukasi sekitar 60 petani lokal dan 70 persennya adalah perempuan. Melalui program Desa Makmur Siaga Api, pihak perusahaan mengenalkan teknik ekologis, bagaimana berladang yang ramah dengan lingkungan. Adapun tujuan akhirnya adalah mengurangi jumlah titik panas dan titik api di tiap wilayah, begitu musim kemarau tiba. 

Baru pada 2017, program teknik membuka lahan tanpa membakar diterapkan. Tapi untuk mengajak semua petani beralih dengan cara bercocok tanam teknik dianggap baru ini belum semuanya bisa diterima petani.

"Mereka sulit menerima pola ini, karena mereka merasa membuka ladang dengan membakar lebih praktis dan juga bagian melanjutkan tradisi nenek moyang kami," kata Ahmadi, Ketua kelompok Tani Mitra Bedulor, Desa Tajok Kayong.

Buktinya, di desa Ahmadi tinggali, dari anggota kelompok tani yang semula bergabung dengan jumlah anggota 30 orang, kini malah tersisa 12 orang, yang menerapkan bertani secara ekologis tadi.

Ahmadi menyebutkan, konsep dari ekologis yang dikenalkan kepada petani di desanya sebenarnya sederhana. Sebelum ladang digarap untuk ditanami padi, petani diharuskan menggarap lahan dengan cara mencangkul. 

“Sebelum mencangkul, kayu dan lalang terlebih dulu kita tebas,” kata Ahmadi. “Nah, setelah lahan lapang, bibit padi bisa langsung disemai,” tambahnya.  

Di sini, yang membedakan teknik berladang ala nenek moyang dengan sekarang. Jika, dahulu, petani hasil membakar lahan, petani tidak melakukan pemupukan, lantaran lahan pembakaran dianggap pengganti pupuk. 

Tapi, dalam konsep ekologis, bagaimana petani bisa membuka ladang padi dan mendapatkan hasil panen bisa lebih banyak, kuncinya sebenarnya justru ada pada pada perawatan. Di sini, model perawatan yang dikenalkan beda dengan yang lain. 

Di mana setiap tahapan perawatan justru  dilakukan secara organik alias tanpa harus menggunakan pupuk kimia.  Dan yang terpenting. Bahan-bahan organik untuk pemupukan itu sangat mudah diperoleh di desa.

Misalnya, agar padi tumbuh subur, petani menggunakan batang pisang, kemudian dicincang dan direndam ke dalam air sisa pencucian beras. Setelah itu, petani lalu mengendapkan selama seminggu. Setelah batang pisang sudah mengurai dengan air, petani kemudian menebarnya ke sawah. 

“Kami menyebutnya pupuk kompos ala kami,” kata Ahmadi.

Selain menggunakan dua bahan yang disebutkan. Kelompok tani binaan Ahmadi, juga menerapkan pemberian pupuk kandang, yang diambil dari kotoran sapi, yang sudah tercampur dengan koke dan gulma, yang sudah diolah petani. 

“Kebetulan di desa kami, juga ada bantuan sapi dan kambing dari perusahaan. Jadi kotoran ternak yang kami kelola dimanfaatkan untuk pupuk pertanian kami,” katanya.

Cara ini sebenarnya lebih hemat, ketimbang menggunakan pupuk kimia.  Ahmadi membandingkan, sebelumnya, petani selalu mengandalkan pupuk kimia dan untuk mendapatkannya ternyata sulit.  Pmisalnya diharuskan membeli pupuk  ke pasar. Sementara   akses perjalanan dari desa ke kecamatan bisa memakan waktu berjam-jam lamanya. Nah, biasanya, karena alasan infrastruktur tadi, banyak dari petani enggan untuk membeli pupuk untuk lahan pertanian mereka. 

"Hal itu yang menyebabkan hasil panen padi kami sebelumnya tidak memuaskan, " kata Ahmadi.

Tapi, setelah beralih ke pupuk organik, terbukti. Pada kebun percontohan  di demplot, merupakan lahan belajar petani, seluas setengah hektare, teknik berladang tanpa membakar, yang dikelola petani, begitu memasuki masa panen berbuah manis.

Untuk lahan seluas seribu meter persegi ditanami padi, hasil panen petani berkisar 200 kilogram bulir gabah. Asumsinya, bila ditanami lahan seluas satu hektare, petani bisa panen 2 ton gabah kering. Artinya, hasil panen itu dua kali lipat dari teknik bercocok tanam dengan cara membakar lahan.

"Pola bertani ini memang lebih capek, tapi akhirnya senang karena hasilnya lebih maksimal," kata Ahmadi, bangga.

Pestisida Organik 

Selain mengajarkan petani mandiri dalam membuat pupuk, petani lokal juga dikenalkan bagaimana cara membuat pestisida secara organik.  Seperti dilakukan oleh Mardah, petani tumpang sari, di Desa Lembah Hijau, Kecamatan Nanga Tayap, Ketapang. Desa ini juga masuk dalam kawasan konsesi sawit. 

Siang itu, suarapemredkalbar.com menyambangi demplot lahan belajar. Di sana tampak hamparan areal pertanian, seperti  cabai, terong, kangkung dan kacang panjang, tumbuh subur. Padahal lahan tersebut berada di lahan konsesi perkebunan sawit. 

“Dulu di areal ini masih hutan. Semak belukar. Sama sekali tidak pernah tergarap,” kata Yatimin, membuka cerita, pertemuan dengan suarapemredkalbar.com.

Yatimin adalah Ketua Kelompok Tani Sinar Harapan. Hari itu, dengan bangga ia mengenalkan, tanaman tumpang sari miliknya, di mana setiap minggunya, pekarangan yang dikelola selalu menghasilkan puluhan kilogram sayuran, setiap kali dipanen setiap minggunya. 

"Pekarangan saya bisa tumbuh subur karena semuanya menggunakan bahan organik. Semuanya mudah diperoleh dari alam," katanya. 

Untuk membuat pestisida misalnya. Di sini, petani hanya cukup menggunakan gambir, daun sirih, kemangi dan lainnya. Cara pembuatannya juga sederhana.  Bahan-banah tadi cukup ditumbuk halus menggunakan lesung besar, kemudian direndam dalam air. Air rendaman tersebut lalu dipisahkan antara ampas dan air, dengan cara memeras dengan menggunakan tangan. Selanjutnya, air penyaringan tadi ditampung ke dalam botol. 

"Untuk satu botol induk bahan tadi, cukup menyiram areal setengah hektare lahan pertanian," kata Yatimin.

Pestisida alami ala Yatimin ini, terbukti ampuh untuk mengusir hama seperti hama ulat dan wereng. 

Ardi, pendamping Kelompok Tani di Desa Lembah Hijau menambahkan, selain bahan yang disebutkan Yatimin, ada  bahan lain, bagaimana hama ulat dan wereng tidak menempel di tanaman. Misalnya memanfaatkan daun tembakau kering yang dibeli di pasar. 

Cara mengolahnya juga mudah. Untuk satu genggam tembakau yang dibeli di pasar, petani cukup merendamnya ke dalam botol selama seminggu. Nah air dari tembakau tadi, bisa dijadikan induk, kemudian dicampur 30 liter air, lalu disemprotkan ke areal pertanian. 

Karena sudah teruji, bagaimana tanaman sayuran dari petani ini murni tidak bercampur dengan bahan kimia, kini produksi kelompok tani ini menjadi incaran dari para pengepul dan perusahaan perkebunan. Lantaran sayuran dari petani di sini tampak segar dan menyehatkan.

"Setiap kali kami panen, sudah ada yang beli. Terutama dari perusahaan, untuk menu makan karyawan di sana," kata Ketua Kelompok Tani Sinar Harapan, Yatimin.

Hasilnya, Yatimin dan puluhan petani lain, kebanyakan ibu rumah tangga, mereka sudah mampu mandiri secara ekonomi. Dari kebun yang mereka garap secara organik, rata-rata tiap rumah tangga bisa menghemat belanja Rp300.000/bulan dari pemotongan belanja sayuran dan rempah-rempah, yang sekarang bisa mereka ambil dari kebun mereka sendiri. 

Selain itu, mereka menerima Rp 500.000 setiap bulannya dengan menjual sayuran ke desa-desa sekitar, setelah dikurangi untuk kebutuhan pangan keluarga mereka.

"Sekarang baru kami percaya, dengan metode organik, hasil panen kami bisa dua kali lipat," tambah Yatimin.

Belajar Organisasi 

Membawa program baik dan mengajak petani meninggalkan tanam padi dengan tidak membakar lahan, ternyata butuh proses panjang. Apalagi program yang dibawa mengatasnamakan korporasi. Dina Kartika Sari Nasution, fasilisator dan juga staf PT SMART Tbk mengaku pernah mendapat reaksi penolakan dari petani.

"Waktu tim kami masuk, kesan pertama dari petani di sana adalah reaksi kemarahan dan ketidakpuasan," beber Dina, kemarin. 

Alasan ketidakpuasan warga lokal, kata Dina, mereka menganggap kehadiran perusahaan ke dusun mereka menganggap, pihak perusahaan punya uang banyak. Mereka juga percaya, perusahaan punya tanggungjawab kepada mereka. Termasuk akses kehidupan warga di dalamnya.

"Padahal anggapan itu tidak sepenuhnya benar," kata Dina.

Karena kehadiran perusahaan di tengah masyarakat bisa dibilang orangtua asuh saja. Sedangkan orangtua kandung dari masyarakat itu sendiri adalah Pemerintah Daerah.

"Tapi, baik orang tua kandung dan asuh, sebenarnya punya peran masing-masing," kata Dina.

Edukasi ini ini lah pelan-pelan dibangun oleh Dina kepada warga pendampingan. 

"Waktu itu ada 25 ibu rumah tangga yang kami kumpulkan untuk diajak berdiskusi," bebernya. 

Dalam pertemuan itu, tim terdiri dari fasilitator meminta petani yang merancang program yang tepat bagi mereka. Tapi sebelum itu, diskusi ringan dimulai. 

"Waktu itu kami hanya bertanya, kenapa berladang harus membakar," katanya. 

Satu-persatu peserta menjawab, cara itu sudah menjadi kebiasaan.

"Kami tanya lagi, kebiasaan membakar itu dilakukan oleh siapa? Mereka menjawab, oleh generasi kami," kata Dina menirukan. Dari sini, timnya mulai membongkar permasalahan petani. Misalnya dengan pertanyaan, Kenapa nenek moyang terdahulu berladang dengan cara membakar?

Dari cerita warga, budaya membakar lahan sudah dilakukan nenek moyang. Menariknya, nenek moyang terdahulu ternyata paham, cara membakar lahan dilakukan karena tanah yang mereka garap memiliki kandungan asam yang rendah. Nah, untuk menaikkan PH asam, caranya karbon yang dihasilkan dari porses pembakaran. 

"Jadi nenek moyang petani dulu sudah pintar. Mereka juga dulunya sekolah tidak tinggi," cerita Dina. 

Hanya saja, cara dilakukan petani terdahulu, bisa tepat, karena pada waktu itu mereka memiliki hamparan tanah yang luas, sedangkan jumlah penduduk masih sedikit. Dulu juga belum ada perubahan iklim. Habitat binatang di sana tumpah ruah. 

"Tindakan membakar lahan dari budaya dulu tidak menjadi masalah. Yang menjadi masalah justru sekarang," katanya.

Titik Api Turun

Vice Presiden Sinarmas, Junaidi, mengatakan, konsep ekologis ini sebenarnya lanjutan dari pogram sebelumnya. Yakni program Desa Siaga Api pada 2016. Tujuan sei prorgam ini,  mencegah kebakaran hutan dan lahan, baik di kawasan kebun dan di desa-desa sekitar kebun di Kabupaten Ketapang. 

Saat itu, ada delapan desa yang berada di sekitar kebun yang akan dibentuk desa siaga api, masing-masing desa akan direkrut 15 orang yang akan menjadi relawan yang akan dilatih dan dilengkapi dengan sarana dan prasarana yang memadai untuk mencegah dan mendeteksi bahkan melakukan pemadaman jika ada Karhutla. 

Ada lima poin yang menjadi penekanan pada program desa siaga api ini, diantaranya, peningkatan kesadaran siaga api, untuk hal ini, perlu dilakukan sosialisasi dan pendekatan kepada masyarakat agar masyarakat bisa sadar kalau dampak dari kebakaran hutan dan lahan itu sangat besar.

Kemudian pemberdayaan masyarakat, di masing-masing desa akan direkrut 15 orang untuk bergabung, kemudian mereka akan mendapatkan pelatihan dan pembekalan dari TNI dan Manggala Agni. Selain itu, pihak perusahaan juga menyiapkan sarana dan prasarana yang dibutuhkan untuk mencegah dan menanggulangi jika kebakaran terjadi.

"Program Desa Siaga Api dianggap berhasil. Kita ingin ada pengembangan program dan menjadi Desa Makmur Siaga Api," kata Junaidi. 

Pada tahun yang sama program ini diperluas dengan menambahkan program pengembangan masyarakat yang berfokus pada pengembangan plot pertanian organik. Program ini memungkinkan penduduk desa menanam berbagai menanam berbagai macam sayuran utk kebutuhan pangan dan memberikan sumber pendapatan tambahan melalui penjualan pertanian ke pasar lokal di Kalimantan Barat.

Tidak hanya itu. Delapan desa dari 17 desa binaan di Kecamatan Nanga Tayap telah mendapatkan bantuan infrastruktur senilai total Rp 600 juta sebagai bentuk apresiasi terhadap upaya desa tersebut dalam menjaga kebakaran di daerah mereka pada 2017. Desa-desa tersebut adalah Tajok Kayong, Nanga Tayap, Lembah Hijau 1, Lembah Hijau 2, Siantau Raya, Sungai Kelik, Simpang Tiga 

CEO Perkebunan Sinar Mas Wilayah Kalimantan Barat, Susanto dengan senang hati melaporkan bahwa masyarakat di Ketapang tetap waspada dan berhasil meminimalkan kebakaran.

"Berkat program ini, titik api dan titip panas di wilayah kami sudah berkurang," kata Susanto. 

Data Badan Penanggulangan Bencana Kalbar, pada tahun 2017, jumlah titik panas dan titik api di desa peserta program ekologi terpadu telah menurun menjadi 13 titik panas dan 9 titik api. Bandingkan dengan 2016, di mana ada  25 titik panas dan 7 titik api. Parahnya lagi pada 2015, di mana ditemukan ada 423 titik panas dan 271 titik api.

"Dengan keberhasilan dari program ini, saya akan minta perusahaan lain untuk melakukan hal yang sama seperti yang sudah digagas oleh Sinarmas," kata Camat Nanga Tayap, Dewanto. (agus wahyuni)