Senin, 23 September 2019


Kajari Ketapang Jadi Pemenang Pertama PJI Award 2018

Editor:

Indra W

    |     Pembaca: 822
Kajari Ketapang Jadi Pemenang Pertama PJI Award 2018

Jaksa Agung saat menyematkan pin emas kepada Kajari Ketapang. (SP/SP)

KETAPANG, SP - Kepala Kejaksaan Negeri (Kajari) Ketapang, Joko Yuhono berhasil mendapatkan piagam penghargaan sekaligus Pin Emas dari Kejaksaan Agung (Kejagung) lantaran terpilih sebagai Pemenang Pertama dalam Persatuan Jaksa Indonesia (PJI) Award 2018.

Kajari Ketapang terpilih sebagai pemenang pertama dari lima finalis PJI Award dengan program inovasi rumah murah serba nol Adhyaksa Residence yang telah diinisiasi pihaknya.

Kajari Ketapang, Joko Yuhono mengaku bersyukur atas penghargaan yang didapat melalui inovasi program rumah murah ini. Namun diakuinya prestasi yang diraihnya tidak semata-mata kerja kerasnya melainkan kerja keras seluruh jajarannya di Kejaksaan Ketapang serta bantuan dari berbagai pihak di Ketapang.

"Penghargaan ini bukan cuma milik Kejaksaan tapi penghargaan ini untuk Kabupaten Ketapang, untuk seluruh masyarakat Ketapang," katanya, Selasa (24/7).

Ia melanjutkan, dirinya menjadi satu-satunya finalis dari seluruh daerah yang sebelumnya mengikuti PJI Award 2018 yang berhak menerima Pin Emas yang langsung disematkan oleh Jaksa Agung pada upacara peringatan HBA ke 58 di Jakarta, Senin (23/7).

"Saya terharu bukan karena penghargaan yang didapat, tapi karena nama Ketapang berkibar dan disebut-sebut karena hal positif ini dihadapan banyak jaksa yang hadir dalam upacara HBA ke 58. Saya bangga menjadi bagian dari masyarakat Ketapang," akunya.

Ia mengaku, dengan penghargaan yang diraih pihaknya, tentu ia berharap menjadi motivasi baik bagi Kejaksaan Ketapang maupun pihak-pihak lainnya di Ketapang agar terus menciptakan program inovasi yang bisa memberikan manfaat dan dampak positif bagi masyarakat sehingga Kabupaten Ketapang bisa dikenal oleh dunia nasional dengan hal-hal positif.

"Ini juga jadi motivasi kami (kejaksaan-red) untuk terus berusaha menciptakan inovasi-inovasi yang menyentuh dan bermanfaat bagi masyarakat banyak," katanya.

Ia menambahkan, program rumah murah tanpa DP ini muncul setelah melalui interaksi pihaknya dengan masyarakat sehingga diketahui masih banyak masyarakat yang belum memiliki rumah termasuk para pegawai. Terlebih program pihaknya sejalan dengan program nasional sejuta rumah yang dinilainya masih stagnan.

"Apalagi kita memilik komitmen untuk turut menjadi agen perubahan dengan jargon kalau Jaksa bukan sekedar menjadi penuntut, tetapi jaksa juga harus bisa membantu masyarakat serta pemerintah daerah melalui program yang bermanfaat, satu diantaranya rumah murah ini," tuturnya. (teo)