Rabu, 16 Oktober 2019


Bunga Kembali ke Hutan Lindung Gunung Tarak

Editor:

Angga Haksoro

    |     Pembaca: 594
Bunga Kembali ke Hutan Lindung Gunung Tarak

Ketapang, SP – International Animal Rescue (IAR) Indonesia bekerja sama dengan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat, melepas seekor orangutan dan 3 kukang ke Hutan Lindung Gunung Tarak, Ketapang.  

Orangutan betina yang dilepasliarkan bernama Bunga, sebelumnya diselamatkan dari kasus pemeliharaan di Kabupaten Ketapang pada tahun 2009. Pada saat diselamatkan, Bunga berusia 1 tahun dan kemudian menjalani rehabilitasi di Pusat Penyelamatan dan Konservasi Orangutan IAR Indonesia di Desa Sungai Awan Kiri, Kabupaten Ketapang.

Direktur Program IAR Indonesia, Karmele L Sanchez mengatakan, Setelah 8 tahun menjalani rehabilitasi, Bunga dilepas kembali ke habitatnya. “Bukan berarti perjalanan Bunga menuju kebebasan sudah selesai. Tim kami akan memonitor Bunga dan menemaninya melawati tahun pertama di alam bebas. Untuk memastikan dia bisa beradaptasi dengan lingkungan barunya,” kata Karmele.

Selama rehabilitasi orangutan diajarkan kemampuan dasar bertahan hidup di alam seperti memanjat, mencari makan, dan membuat sarang. Kemampuan bertahan hidup itu seharusnya dipelajari orangutan selama 6-8 tahun hidup bersama induknya.  

“Saat ini IAR Indonesia menampung lebih dari 100 orangutan untuk direhabilitasi. Rehabilitasi memakan waktu 7 sampai 8 tahun tergantung kemampuan masing-masing orangutan.”

Sebelum dilepas, orangutan wajib menjalani pengamatan perilaku. Mereka ditempatkan di area khusus dimana pengasuh mencatat dan mengamati perilaku orangutan. Ini untuk memastikan orangutan siap hidup di habitat aslinya.

Tiga ekor kukang yang dilepas terdiri dari 1 ekor kukang jantan diberi nama Acong dan 2 kukang betina Yuyun dan Yulia. Mereka semua dulu merupakan kukang peliharaan warga.  

Acong dan Yuyun disita dari Pontianak, sedangkan Yulia dari Sambas. Mereka bertiga dilepaskan di areal habituasi di dalam kawasan Hutan Lindung Gunung Tarak untuk dipantau perkembangannya.  

Kepala BKSDA Kalbar, Sadtata Noor mengatakan, pelepasliaran satwa ke habitatnya layak diapresiasi. Meski demikian, kerja konservasi belum selesai. Kerja konservasi akan terus dilakukan hingga tidak ada lagi satwa yang hidup di luar habitatnya. (Teo).