Cornelis Jadi Saksi Sidang Ujaran Kebencian

Ketapang

Editor Admin Dibaca : 3211

Cornelis Jadi Saksi Sidang Ujaran Kebencian
SIDANG - Mantan Gubernur Kalbar, Cornelis jadi saksi pelapor sidang ujaran kebencian yang menjerat terdakwa Ketua Front Perjuangan Rakyat Ketapang (FPRK), Isa Anshari di Pengadilan Negeri Ketapang, Kamis (3/1).
KETAPANG, SP – Mantan Gubernur Kalbar, Cornelis jadi saksi pelapor sidang ujaran kebencian yang menjerat terdakwa Ketua Front Perjuangan Rakyat Ketapang (FPRK), Isa Anshari di Pengadilan Negeri Ketapang, Kamis (3/1). Ketua Umum PDIP Kalbar itu, diduga jadi sasaran ujaran kebencian yang dilakukan Isa.  

Dalam sidang yang dipimpin Hakim Ketua Iwan Wardhana itu, Cornelis menjelaskan tak main Facebook. Media sosial yang jadi tempat Isa bersuara.  

“Tahu persoalan ini juga dari masyarakat, di antaranya saudara Lipi yang melaporkan kepada saya kemudian saya minta agar kepolisian mengecek kebenarannya," tuturnya dalam persidangan.

Dari laporan Lipi Asmet, dia tahu Isa mengunggah konten yang menyebut dirinya provokator dan menantang duel sampai mati di halaman Mapolda Kalbar. Awalnya dia merasa tidak terlalu dipermalukan. Namun kemudian berpikir hal tersebut menyangkut masyakat banyak. Walau mantan gubernur, dia tetap ketua partai dan Presiden Majelis Adat Dayak Nasional yang memiliki pengikut.  

“Takutnya ini menjadi masalah sosial atau hal-hal tidak diinginkan, makanya kita ambil langkah hukum yang dianggap merupakan langkah tepat. Kami serahkan semua ke penegak hukum untuk menyelesaikannya," terangnya.  

Cornelis juga mengungkapkan dirinya pernah dilaporkan untuk kasus sama. Namun dia sudah menglarifikasi dengan menyertakan bukti ilmiah atas apa yang disangkakan. Apa yang disampaikannya dalam video pidato itu bukan pendapat pribadi. Ucapannya pun untuk kalangan sendiri dan instropeksi diri kelompoknya akan sejarah.  

"Saya juga tidak merekam, tidak menyebarkan, saya tidak membuat fitnah, saya hanya membaca yang ditulis oleh buku," jelasnya ketika ditanya perihal videonya yang viral.

Namun, saat ditanya penasehat hukum terdakwa mengenai judul buku dan kutipan yang dikatakan dalam video tersebut yang memancing tindakan Isa, Cornelis enggan menjawab. Menurutnya, pertanyaan itu di luar konteks perkara.  

Saksi lain, Lipi Asmet mengaku tak kenal terdakwa. Dia tahu unggahan mengenai Cornelis dari temannya. Lipi lantas mengecek akun Isa dan sempat mengomentari salah satu unggahan.  

"Kalau menurut saya isi posting-an ada unsur ujaran kebencian. Saya ada komentar yang bunyinya janganlah seperti itu," tuturnya.  

Sama seperti jawaban Cornelis, pidato yang viral merupakan kutipan buku. Perihal judulnya, disebut di luar konteks perkara.   
Saksi ketiga, Bobi tak berkomentar dalam unggahan terdakwa. Namun dia memberi emotikon jempol di salah satu unggahan. Sebagai reaksi lain, lelaki yang menganggap Cornelis sebagai ayahnya sendiri ini, lantas menantang balik Isa berduel di Jembatan Pak Kasih, Tayan.  

"Saya posting itu dalam keadaan sadar dan serius menantangnya, apalagi saya juga kenal terdakwa sejak tahun 2015 lalu," akunya.

Saling balas komentar terjadi lantaran Isa menanggapi unggahan Bobi. Isa menyebut Bobi tak selevel dengannya.

Sementara itu, Penasehat Hukum Isa Ansyari, Deni Amiruddin kecewa Cornelis enggan membeberkan isi pidatonya yang dianggap jadi latar belakang tindakan terdakwa. Jelas pidato itulah yang menyinggung perasaan kliennya dan mungkin banyak orang lain. Semestinya, perkara sebab akibat tersebut harus dibuka dalam persidangan.  

"Kami minta Saksi kooperatif dalam memberikan keterangan, apalagi sudah disumpah. Kan tidak mungkin ada orang mengajak duel sampai mati padahal tidak saling kenal, tidak mungkin itu dilakukan jika tidak ada hal yang melatarbelakangi," tegasnya.    

Ditemui usai sidang, Isa Anshari menegaskan unggahannya merupakan reaksi kekesalan atas sikap Cornelis dalam pidato yang viral tersebut. Menurutnya, terlepas hal itu disampaikan di kalangan internal, videonya telanjur beredar luas.  

“Sebagai manusia memiliki hati, tentu saya merespon ucapan Cornelis yang tak layak atau tak patut disampaikan oleh seorang mantan Gubernur seperti dirinya, yang terkesan menjadi seperti provokator," ketusnya.  

Isa pun kesal dengan keterangan para saksi pelapor yang tidak terang-terangan. Tak ada satu pun yang menyebut buku yang jadi rujukan Cornelis dalam berpidato. Dia bahkan berencana melaporkan Bobi lantaran membuat unggahan yang disebutnya mengandung ujaran kebencian dengan menantangnya duel di Jembatan Pak Kasih.  

“tu diakui Bobi di depan majelis hakim alasan dia mem-posting status itu dan saat mem-posting dengan penuh kesadaran," tutupnya.   Sidang lanjutan akan digelar Kamis (10/1) dengan agenda menghadirkan saksi umum dari JPU. (teo/bls)