Polres Tangkap Bapak Pemerkosa Anak Kandung di Sandai

Ketapang

Editor Admin Dibaca : 1448

Polres Tangkap Bapak Pemerkosa Anak Kandung di Sandai
KETAPANG, SP - Jajaran anggota Polsek Sandai mangkap S (37), terduga pelaku pemerkosaan terhadap anak kandungnya sendiri berusia 13 tahun, kemarin. 

Kapolres Ketapang, ABKP Yury Nurhidayat melalui Kasat Reskrim Polres Ketapang, AKP Eko Mardianto mengatakan, terungkapnya kasus tersebut setelah korban menceritakan perbuatan pelaku yang juga merupakan ayah kandungnya kepada tetangga korban.

"Mendengar hal tersebut, tetangga korban kemudian membawa korban ke Polsek Sandai untuk membuat laporan. Setelah menerima laporan dilakukan visum," ungkapnya, Minggu (13/1).

Ia melanjutkan, usai mendapat laporan dan visum yang diketahui terdapat bekas sobekan dikemaluan korban, pihaknya kemudian mendatangi kediaman korban untuk menangkap pelaku yang pada saat kejadian sedang berada dirumahnya.

"Pelaku diamankan tanpa perlawanan, pada Jum'at sekitar pukul 17.00 WIB. Saat ini pelaku sudah dibawa ke Polres untuk diperiksa lebih lanjut," tegasnya.

Ia menceritakan, dari keterangan korban, kalau kejadian persetubuhan yang dilakukan oleh ayah kandungnya terjadi pada bulan Novermber 2018 lalu, yang mana saat kejadian pelaku mengajak korban untuk mencari sayur di belakang SMK 1 Sandai. Namun sesampainya di sebuah pondok di belakang sekolahan tersebut, pelaku malah melancarkan aksinya dengan mencium hingga menyetubuhi korban.

"Korban sempat menolak, namun pelaku memaksa dan mengancam akan membunuh korban. Selain itu korban juga diancam agar tidak menceritakan kejadian itu kepada siapapun," terangnya.

Ia menambahkan, dari pengakuan korban aksi bejat yang dilakukan ayahnya baru satu kali dilakukan, sedangkan pelaku sendiri sesuai keterangan mengaku kalau dirinya melakukan aksi tersebut lantaran tertarik dengan anaknya sendiri.

"Pelaku mengakui perbuatannya dan menyesal telah melakukan hal tersebut," tuturnya.

Akibat perbuatannya pelaku dijerat dengan Undang-Undang tentang Perlindungan Anak.

"Ancaman hukumannya maksimal 15 tahun penjara serta denda maksimal Rp5 miliar," tukasnya. (teo)