Belanja di Pasar Malam, Serdanu Nekat Buat Uang Palsu Pakai Printer

Ketapang

Editor Hendra Cipta Dibaca : 1688

Belanja di Pasar Malam, Serdanu Nekat Buat Uang Palsu Pakai Printer
Barang bukti uang palsu dan printer
KETAPANG, SP - Anggota Polsek Sandai meringkus Sardanu (26), warga Dusun Harapan Baru, Desa Penjawaan, Kecamatan Sandai, lantaran diduga melakukan tindak pidana membuat, menyimpan dan mengedarkan uang palsu di Pasar Malam di Lapangan Bola Terap, Desa Istana.

Kapolres Ketapang, AKBP Yury Nurhidayat melalui Kasat Reskrim Polres Ketapang, AKP Eko Mardianto mengatakan keberhasilan pihaknya menangkap pelaku pembuat dan pengedar uang palsu berawal dari adanya informasi masyarakat mengenai adanya peredaran uang palsu di acara Pasar Malam tepatnya di Arena Tong Edan yang berada di Lapangan Bola Terap Sandai.

"Dari informasi tersebut, anggota kemudian melakukan penyelidikan dan akhirnya mengamankan dua orang anak di bawah umur yakni EG dan RI yang diketahui disuruh oleh pelaku untuk membelanjakan uang palsu tersebut," ungkapnya, Selasa (5/2).

Ia melanjutkan, dari tangan kedua bocah tersebut ditemukan uang pecahan Rp50 ribu diduga palsu dan berdasarkan keterangan kedua bocah kalau uang tersebut berasal dari tersangka Sardanu.

"Jadi modus tersangka ini dengan menggunakan anak kecil untuk membeli barang pada saat acara pasar malam, kembaliannya diserahkan kepada tersangka," jelasnya.

Ia menambahkan, setelah menangkap tersangka, pihaknya kemudian melakukan penggeledahan di rumah tersangka dan ditemukan sejumlah barang bukti diantaranya satu unit printer merk epson L360, empat lembar uang pecahan Rp100 ribu dengan nomor seri sama FFQ019004, satu lembar uang pecahan Rp50 ribu dan satu buah pisau cuter.

"Pengakuan tersangka baru pertama kali menjalankan aksinya dengan dalih untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari," katanya.

Saat ini tersangka dan barang bukti sudah diamankan di Mapolres Ketapang untuk mempertanggung jawabkan perbuatannya, yang mana tersangka dipersangkakan dengan Pasal 36 ayat (1), (2), dan (3) Undang-Undang RI Nomor 7 Tahun 2011 tentang mata uang dengan ancaman pidana maksimal 15 tahun dan denda maksimal Rp50 miliar. (teo)