Sampaikan Pledoi, Isa Anshari Minta Dibebaskan

Ketapang

Editor Admin Dibaca : 476

Sampaikan Pledoi, Isa Anshari Minta Dibebaskan
Isa Anshari
KETAPANG, SP - Pengadilan Negeri (PN) Ketapang kembali menggelar sidang kasus ujaran kebencian dengan terdakwa Ketua Front Perjuangan Rakyat Ketapang (FPRK), Isa Anshari, Senin (11/2).

Dalam sidang beragendakan penyampaian nota pembelaan atau pledoi tersebut, Isa Anshari melalui penasehat hukumnya meminta majelis hakim untuk membebaskannya dari segala tuntutan.

Dari pantauan, sidang yang dihadiri puluhan simpatisan Isa Anshari ini dipimpin Hakim Ketua Iwan Wardhana, Hakim Anggota Ersin serta Hendra Kusuma Wardhana.

Kuasa hukum terdakwa, Fahrurrazi membacakan nota pembelaan atau pledoi yang diberi judul: Jalan Panjang Menggapai Keadilan, yang mana dalam penyampaiannya penasehat hukum terdakwa mengatakan kalau pledoi yang disampaikan pihaknya merupkan sumbang pikiran dan saran bagi majelis hakim yang dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam memutuskan perkara terdakwa.

"Kalau memang terdakwa terbukti bersalah maka berikan hukum sesuai kadar kesalahannya, tetapi kalau tidak terbukti bersalah maka atas nama kemanusian, keadilan maka bebaskan terdakwa," katanya.

Ia melanjutkan, perkara kasus yang menimpa terdakwa berawal dari sebuah video pidato pelapor yang dalam hal ini Cornelis pada 26 Mei 2018 pada acara pertemuan temenggung Kalbar di Hotel Kapuas Palace Pontianak yang mendadak viral.

Yang mana saat itu dalam sambutannya pelapor pada intinya ada mengatakan kalau kerajaan melayu dan islam penjajah yang mana isi pidato dikutip dari referensi sebuah buku berjudul kuasa dan wibawa.

Karena video tersebut terdakwa kesal, apalagi setelah membaca dan mengecek buku Kuasa dan Wibawa yang diakui pelapor sebagai referensinya menyampaikan isi pidato viral tersebut ternyata tidak ada ditemukan frase atau kalimat kalau kerajaan melayu dan islam menjajah, oleh karena itu terdakwa menganggap Cornelis sudah menyebar fitnah.

"Bahkan buku Kuasa dan Wibawa sudah kami ajukan sebagai bukti tambahan kepada majelis hakim," terangnya.

Untuk itu, ia berharap majelis hakim dapat melihat ini, apalagi pihaknya menilai kasus ini tidak memenuhi dua alat bukti yang cukup, seperti keterangan ahli dari JPU yang hanya dibacakan namun saksi ahli tidak hadir yang mana hal tersebut tidak sesuai aturan, kemudian barang bukti screnshoot postingan dari akun Facebook terdakwa yang diambil dari perangkat elektronik lain bukan dari handphone terdakwa yang dijadikan alat bukti.

Sementara itu, satu di antara Jaksa Penuntut Umum (JPU) dan yang juga merupakan Kasi Pidum Kejari Ketapang, Rudy Astanto mengaku pihaknya akan memberikan tanggapan terkait pledoi yang telah disampaikan oleh penasehat hukum terdakwa dengan cara tertulis.

"Karena pledoinya tertulis, maka kami akan menanggapinya secara tertulis," katanya.

Sidang lanjutan mengenai tanggapan JPU terkait Pledoi penasehat hukum terdakwa diminta Majelis hakim untuk digelar pada Rabu (13/2) mendatang. (teo)