Senin, 23 September 2019


Penerimaan Siswa 2019 Gunakan Sistem Zonasi

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 824
Penerimaan Siswa 2019 Gunakan Sistem Zonasi

Berbaris – Pelajar SD, SMP dan SMA berbaris saat mengikuti upacara. Pemerintah melalui Kementerian Pendidikan mengatur penerimaan siswa baru tahun ajaran 2019 dengan sistem zonasi. Net

KETAPANG, SP - Dinas Pendidikan Ketapang akan memberlakukan sistem zonasi pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) tahun ajaran 2019 untuk sekolah negeri dari jenjang Taman Kanak-kanak (TK, Sekolah Dasar (SD) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP).

Kepala Seksi Kurikulum dan SMP Disdik Ketapang, Gustamnur mengatakan, pemberlakuan sistem zonasi berdasarkan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendigbud) Nomor 51 Tahun 2018 tentang PPDB yang disusun dalam bentuk Peraturan Bupati tentang Penetapan Zonasi.

"?Dari penerapan Permendigbud ini untuk PPDB ada tiga jalur yang diterapkan, yakni zonasi, prestasi, dan perpindahan orangtua atau wali siswa," ujar Gustamnur, Rabu (22/5).

Ia menjelaskan, pada jalur prestasi kemungkinan hanya diterapkan di tingkat SMP Negeri, karena menurutnya untuk tingkatan TK dan SD belum ada prestasi.
?
Sedangkan mengenai jalur zonasi tiap sekolah minimal penerimaan siswa 90 persen, dan lima persen untuk prestasi, serta lima persennya lagi jalur perpindahan domisili orangtua atau wali murid.

Dalam pengaturan zonasi, ia menyebutkan diatur per kelurahan/desa, dan selanjutnya berdasarkan jarak tempuh rumah.
?
"Misalnya di SMPN 01 kan dekat dengan desa-desa dan kelurahan di Kecamatan Delta Pawan. Di sana juga ada SMPN 03 di Kelurahan Sampit. Di sini kita terapkan zonasi kedekatan radius jarak? dalam penerimaan siswa," ungkapnya.?

Pemberlakukan sistem zonasi bertujuan untuk memberikan akses bagi masyarakat, guna mendapatkan kesempatan pendidikan ?tanpa membeda-bedakan seperti tahun lalu.
?
"Dulunya ada istilah sekolah favorit, sehingga mereka memberlakukan nilai hasil ujian nasional yang diseleksi dan siswa yang berasal dari daerah jauh pun bisa berkesempatan sekolah di situ," imbuhnya.

Kondisi ini menurut Gustamnur membentuk penilai masyarakat bahwa siswa yang berskolah di sana memiliki nilai yang baik. Sementara ada anak yang radius rumahnya dekat dengan sekolahan itu yang kemungkinan nilainya pas-pasan tidak punya kesempatan.

“Maka dari itu perlu diterapkan sistem zonasi," pungkasnya.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy memastikan Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) 2019 akan tetap memakai sistem zonasi, sebagaimana yang termaktub dalam Permendikbud Nomor 51 Tahun 2018 tentang Penerimaan Peserta Didik Baru Tahun Ajaran 2019/2020.

"Kalau biasanya murid yang mendaftarkan diri ke sekolah. Sekarang sekolahnya yang harus pro-aktif mendata calon peserta didik," ujarnya.

Penerapan sistem zonasi mengharuskan calon peserta didik untuk bersekolah di sekolah yang memiliki radius terdekat dari domisilinya masing-masing.

Mendikbud menepis peserta didik hanya bisa bersekolah di satu sekolah melainkan punya opsi maksimal tiga sekolah, dengan catatan sekolah tersebut masih memiliki slot siswa dan berada dalam wilayah zonasi siswa tersebut.

Dalam upaya memperbaiki sistem zonasi, ia akan mendeteksi wilayah mana saja yang harus ditangani. Mulai dari persebaran guru, fasilitas yang belum merata, dan juga jumlah siswa yang tidak merata. (teo/tir/jee)