Selasa, 15 Oktober 2019


Bara dan Arang Terjebak Api Hingga Dehidrasi

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 76
Bara dan Arang Terjebak Api Hingga Dehidrasi

DISELAMATKAN - BKSDA Klabar Seksi Konservasi Wilayah (SKW) 1 Ketapang bersama Yayasan IAR Indonesia menyelamatkan dua orangutan dari lokasi karhutla di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang. Ist

Bara dan Arang, dua individu orangutan berhasil diselamatkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalbar Seksi Konservasi Wilayah 1 Ketapang bersama Yayasan IAR Indonesia, Senin (16/9). Keduanya jadi korban kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Desa Sungai Awan Kiri, Kecamatan Muara Pawan, Ketapang.

Nama Bara dan Arang sejatinya baru disandang keduanya di hari penyelamatan. Bara individu orangutan jantan. Sedang Arang, betina. Usia keduanya diperkirakan 20 tahun.

Mereka dilihat pertama kali oleh staf IAR yang tengah patroli. Keduanya berada di dahan pohon yang hangus terbakar.
"Ketika diselamatkan, kondisi kedua orangutan mengalami dehidrasi, bahkan ditemukan juga peluru senapa angin di wajah satu diantara orangutan ini," kata Ketua Yayasan IAR Indonesia, Tantyo Bangun, Rabu (18/9).

Penyelamatan orangutan di tengah lahan bekas terbakar, merupakan bukti karhutla turut jadi ancaman bagi eksistensi keanekaragaman hayati. Selama ini, orangutan menghadapi ancaman perburuan dan pembukaan lahan. Kini mereka berhadapan dengan karhutla.

Berkaca pengalaman 2015, dampak karhutla bagi orangutan sangat panjang. Hutan rumah mereka terbakar. Setidaknya 40 individu diselamatkan. Jika kondisi tak berubah, bukan tidak mungkin peluang kepunahan mereka makin besar.

"Untuk dua orangutan yang berhasil diselamatkan, saat ini masih menjalani observasi dan perawatan di pusat penyelamatan dan rehabilitasi IAR Indonesia, ini dilakukan untuk memastikan kondisi kesehatan mereka karena kedua orangutan ini merupakan orangutan liar yang nantinya akan ditranslokasikan ke tempat yang lebih aman setelah lolos pemeriksaan kesehatan tim media IAR," jelasnya.

Satu di antara tempat cocok untuk translokasi adalah Taman Nasional Gunung Palung. Berdasarkan hasil survei, tingkat keanekaragaman orangutan di kawasan tersebut cukup tinggi dan status kawasannya sebagai taman nasional akan lebih menjamin keselamatan orangutan.

Direktur IAR Indonesia, Karmele Llano Sanchez menilai karhutla saat ini tidak hanya mengancam kehidupan manusia. Hampir dua bulan timnya mengamankan tempat rehabilitasi dari kebakaran. Tetapi pekerjaan untuk menyelamatkan orangutan yang terancam akibat kebakaran, baru saja mulai.

Kepala Balai Taman Nasional Gunung Palung, Ari Wibawanto mengatakan sudah tujuh individu orangutan terdampak karhutla di landskap Sungai Putri, Ketapang. Pihaknya pun sudah menyiapkan beberapa tempat untuk translokasi orangutan tersebut.

"Ada tiga lokasi di taman nasional yang dapat menjadi translokasi di antaranya Batu Barat, Daun Sandar dan Riam Bikinjil," akunya. (theo bernardhi/balasa)