Senin, 14 Oktober 2019


MABM Ketapang Minta Hari Jadi Ketapang Diperingatai 11 Maret

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 27
MABM Ketapang Minta Hari Jadi Ketapang Diperingatai 11 Maret

PERNYATAAN SIKAP – Pengurus MABM Ketapang membacakan pernyataan sikap saat penutupan FSBM, kemarin. ist

KETAPANG, SP – Pengurus Majelis Adat Budaya Melayu (MABM) Ketapang meminta pemkab Ketapang merealisasikan Peraturan Daerah Nomor 11 Tahun 2012 tentang Penetapan Hari Jadi Kota Ketapang pada 11 Maret 1418 M.

Permintaan tersebut dibacakan pengurus MABM Ketapang pada malam penutupan Festifal Seni Budaya Melayu (FSBM) II Tahun 2019, Jumat (4/10).

Peringatan HUT Ketapang juga diminta diisi dengan festival kebudayaan dengan melibatkan semua etnis di Ketapang.

MABM juga meminta agar Syair Gulung Ketapang, Ornamen Khas Pengantin Melayu, Busana Penganti Melayu Ketapang dan Ketupat Colet ditetapkan sebagai khasanah dan makanan khas Ketapang.

Permintaan tersebut disambut baik Bupati Ketapang, Martin Rantan. Menurut dia, Perda tentang Penetapan Hari Jadi Ketapang memang harus dijalankan dan melibatkan semua etnis di Ketapang.

 “Saya setuju Hari Jadi Ketapang diadakan festival budayaan melibatkan semua etnis. Hendaknya harapan ini menjadi pertimbangan yang penting sebelum APBD 2020 Ketapang diketuk,” kata Martin.

Begitu juga dengan nada khas Syair Gulung yang telah menjadi ikon Ketapang dan dikenal hingga ke daerah. Karena itu, seni budaya ini harus dijaga dan dilestarikan.

“Kalau Ketupat Colet memang selama ini dikenal di Ketapang dan kita sudah perkenalkan ke setiap tamu yang berkunjung ke Ketapang,” tegas Martin.

Martin Rantan juga berterima kasih kepada panitia yang telah melaksanakan FSBM. Ia berharap kegiatan ini akan selalu dilaksanakan, begitu juga dengan etnis lainnya.(teo/jee)