Senin, 09 Desember 2019


Mata Kiri Junai Ditembus Peluru

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 107
Mata Kiri Junai Ditembus Peluru

Pelepasliaran – Proses pelepasliaran Junai, orangutan yang telah menjalani perawatan oleh tim medis IAR Indonesia di Gunung Tarak yang berada tidak jauh dari kawasan Taman Nasional Gunung Palung, Ketapang.

Junai, orangutan liar jantan dewasa berusia lebih dari 20 tahun, akhirnya dinyatakan mampu untuk kembali dilepaskan di hutan, setelah sebelumnya diselamatkan di Desa Tanjungpura, Kecamatan Muara Pawan, Kabupaten Ketapang, 20 September 2019.

Saat diselamatkan Junai dalam kondisi memprihatinkan. Tubuhnya kurus dan mata kiri buta yang setelah diperiksa oleh tim medis, ternyata ditemukan dua butir peluru di dalam tengkorak tepat di belakang bola matanya.

"Sungguh suatu mukjizat ia bisa bertahan hidup dengan kondisi tersebut," kata Argitoe Ranting, Manager Survey, Release, dan Monitoring IAR Indonesia, dalam keterangan tertulis yang diterima Suara Pemred, Selasa (12/11).

Setelah sebulan menjalani masa pemulihan di IAR Indonesia yang memiliki fasilitas perawatan bagi satwa liar terutama orangutan, Junai dinilai siap untuk kembali hidup di habitat alaminya. 

Menurut Argitoe, kedua peluru di belakang mata kirinya diputuskan tak diambil dengan pertimbangan bahwa operasi yang akan dilakukan sangat berisiko mengancam keselamatannya. 

Gunung Tarak yang berada tidak jauh dari kawasan Taman Nasional Gunung Palung pun akhirnya dipilih sebagai lokasi pelepasliarannya. Di kawasan hutan lindung gunung ini, IAR Indonesia bersama Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Kalimantan Barat Seksi Konservasi Wilayah (SKW) I Ketapang, Dinas Kehutanan Provinsi Kalimantan Barat UPT Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Wilayah Ketapang Selatan, dan Balai Taman Nasional Gunung Palung melepaskan Junai, Senin (11/11/2019).

Kepala Balai Taman Nasional, M Ari Wibawanto mengatakan, kejadian yang dialami Junai, hanya kejadian yang kebetulan dapat ditemui atau di permukaan saja, sebab masih banyak kejadian-kejadian tragis yang dialami oleh orangutan lainnya.

"Hal itu menyadarkan kita bahwa sampai saat ini masih ada sebagian dari masyarakat yang masih belum mampu atau mau untuk hidup berdampingan dangan orangutan, dan mungkin belum mau bersahabat dengan alam," kata Ari.

Kegiatan pelepasan ini menempuh waktu sekitar 12 jam menggunakan kendaraan mobil dan menempuh perjalanan kaki menuju titik pelepasan. Pelepasliaran di Gunung Tarak ini merupakan kali pertama sejak terakhir kali melepasliarkan orangutan bersama BKSDA Kalbar dan KPH Ketapang Selatan pada 2017.

"Total sudah 15 orangutan dilepaskan di kawasan ini sejak tahun 2014," lanjutnya.

Meskipun salah satu matanya mengalami kebutaan, tim pelepasan yakin bahwa hal tersebut tidak akan mengurangi kemampuannya untuk bertahan hidup selayaknya orangutan. Dia menjelaskan, orangutan dikenal sebagai satwa cerdas dengan tingkat kemampuan adaptasi yang tinggi.

“Kehilangan satu matanya tidak akan berpengaruh banyak dalam kemampuan bertahan hidupnya karena kemampuan adaptasi orangutan cukup bagus di alam liar. Kami yakin Junai akan baik-baik saja dan senang dengan rumah barunya ini,” tambahnya.

Direktur Program IAR Indonesia, Karmele L Sanchez berujar, orangutan Junai ini adalah salah satu korban kebakaran hutan dan lahan pada bulan kemarin.

"Kita sangat sedih melihat areal yang telah terbakar di sekitar kawasan hutan yang menjadi habitat orangutan Junai," ucapnya.

Menurut Karmele, orangutan yang terpaksa kehilangan habitat tidak jarang masuk di areal kebun warga atau areal kampung. Di mana kadang ada juga masyarakat yang sangat tidak bertanggung jawab yang hanya ingin ‘bermain-main’ dengan menyakiti orangutan dengan menembak peluru pada matanya.

"Kami sangat yakin bahwa sebagian dari masyarakat di Ketapang, dan di seluruh Kalimantan tidak menyetujui dengan cara tersebut," terangnya.(ril/jee)