Senin, 09 Desember 2019


Proyek Jalan Rp14 Miliar Direndam Banjir, Pelaksana Pekerjaan Tuding Warga Jadi Penyebab

Editor:

Kiwi

    |     Pembaca: 5384
Proyek Jalan Rp14 Miliar Direndam Banjir, Pelaksana Pekerjaan Tuding Warga Jadi Penyebab

Direndam Banjir – Pengguna jalan melintas Jalan Sei Awan Kiri-Tanjungpura yang terendam banjir, Kamis (21/11). Pelaksana pekerjaan jalan menuding banjir dikarenakan oknum warga yang sengaja menimbun aliran sungai sehingga menggenangi ruas jalan yang sedan

KETAPANG, SP - Belum lama diguyur hujan, proyek peningkatan struktur Jalan Sei Awan Kiri-Tanjungpura terendam banjir. Proyek penimbunan jalan yang menelan anggaran Rp14 miliar tersebut dinilai mubazir, karena ternyata banjir masih menggenangi jalan tersebut.

 

Lempar kesalahan dilakukan oleh pelaksana pekerjaan jalan. Mereka menuding banjir terjadi karena ada oknum masyarakat yang sengaja membendung aliran air untuk membawa kayu dari dalam hutan, sehingga air naik ke lokasi proyek.

 

Site Manager Operasional PT Bayu Karsa Utama selaku pelaksana proyek tersebut, Suratno mengatakan, perusahaan juga mengeluhkan rendaman air di jalan yang mereka bangun. Kondisi ini diakui dia membuat perusahaan mengalami kerugian.

 

“Kami juga mau mengeluh, karena informasinya air yang naik hingga ke lokasi disebabkan oknum warga yang sengaja membendung saluran air untuk memudahkan mengangkut kayu dari dalam hutan,” katanya, Kamis (21/11).

 

Menurut Suratno, kondisi seperti ini sudah beberapa kali terjadi dan menyebabkan pihaknya kewalahan karena harus kembali melakukan penimbunan tanah yang tergerus air yang merendam lokasi pekerjaannya.

 

“Persoalan ini sudah saya sampaikan termasuk ke dinas, tapi belum ada satupun yang menanggapi. Inisiatif kami selaku pelaksana karena ini merupakan tanggung jawab jadi kami akan kerjakan kembali sampai serah terima pekerjaan,” tuturnya.

 

Ia meminta pihak terkait peduli dan bersama-sama mendukung pembangunan jalan dan meminta oknum warga yang sengaja melakukan pembendungan air agar memperhatikan pembangunan jalan yang saat ini dilakukan.

 

“Kami terus bekerja maksimal, ya jangan dibanjirilah, kasihan juga masyarakat lain yang melintas. Urusan membendung kalau itu persoalan klasik, harapan kami ada solusi dari pihak terkait,” harapnya.

 

Sementara salah seorang warga Kecamatan Muara Pawan, Andi (34) yang melintasi jalan tersebut mengeluhkan luapan air yang menggenangi jalan Sei Awan Kiri-Tanjungpura.

 

“Kalau seperti ini sama seperti sebelum ditimbun, percuma saja anggarannya hingga Rp14 miliar kalau kondisi jalan masih terendam,” sesal Andi.

 

Andi berharap kondisi ini bisa teratasi mengingat jalan itu merupakan akses penting masyarakat yang menghubungkan beberapa wilayah. Sudah seharusnya kondisi jalan dibangun maksimal.

 

“Anggaran yang sebesar ini dampaknya harus benar-benar dirasa masyarakat. Kita dukung pembangunan ini karena sangat diharapkan masyarakat, tetapi pembangunannya jangan sekadar formalitas, harus dicari solusi kenapa ini terjadi apakah timbunannya rendah, tidak ada saluran air atau kenapa, ini harus dipecahkan jangan sampai anggaran yang besar sia-sia,” tegasnya. (teo/jee)


Perlu Melibatkan Pemerintah

Ketua Komisi IV DPRD Ketapang, Achmad Soleh mengaku pihaknya beberapa waktu lalu sempat melakukan monitoring beberapa proyek pembangunan di Ketapang, termasuk pengerjaan proyek di Jalan Sei Awan Kiri-Tanjungpura

Ia menilai dari hasil pantauan ditemukan adanya aliran sungai yang tersumbat, serta ditambah adanya pembendungan air aliran sungai oleh oknum warga.

“Jadi memang terbukti dan saya lihat sendiri waktu peninjauan. Bendungan dilakukan menggunakan terpal sehingga aliran sungai tidak mengalir,” tuturnya.

Mengatasi persoalan ini, ia menilai perlu campur tangan pemerintah kecamatan hingga desa agar mensosialisasikan ke masyarakat agar tidak melakukan pembendungan untuk kepentingan pribadi.

“Kami nanti akan coba jadwalkan diskusi dengan pihak terkait, termasuk kecamatan dan desa untuk mencari solusi persoalan ini,” imbuhnya.

“Selain itu menurut saya, mengatasi persoalan ini perlu dilakukan normalisasi saluran-saluran yang ada agar tidak tersumbat supaya pembangunan jalan bisa maksimal dan tidak cepat hancur akibat direndam air terus,” tukasnya. (teo/jee)