Anggota DPRD Kubu Raya Kecewa SMP TBK Ditutup

Kubu Raya

Editor sutan Dibaca : 1109

Anggota DPRD Kubu Raya Kecewa SMP TBK Ditutup
Suasana di SMP Taruna Bumi Khatulistiwa (TBK), Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, Kamis (18/8). (Suarapemred/Jaka Iswara)
  KUBU RAYA, SP - Anggota Komisi IV DPRD Kabupaten Kubu Raya (KKR), Agus Sudarmasyah mengaku kecewa dengan keputusan Yayasan Adijanto yang berencana  menutup Sekolah Menengah Pertama (SMP) Taruna Bumi Khatulistiwa (TBK).
 
“Sangat rasa tidak irasional jika wacana penutupan sekolah disebabkan pembiayaan,  dan sebagainya. Kita ketahui,  yayasan ini ditopang oleh perusahaan yang besar, bahkan memiliki cabang hingga ke luar negeri,” kata Agus di Sungai Raya, Kamis (18/8).


Menurut Agus, jika yayasan mendirikan sekolah semata untuk mencari keuntungan, maka itu merupakan hal yang sangat naif. Pihak yayasan mestinya lebih mengedepankan aspek sosial dan komitmen awalnya, yakni turut andil membangunan sumber daya manusia di Kalbar.

Wacana ditutupnya SMP TBK, menurut Agus, tentunya menjadi keprihatinan semua pihak, apalagi SMP TBK ini merupakan sekolah unggulan yang ada di KKR, dan diperuntukkan untuk masyarakat Kalbar. “Nama sekolah ini sudah cukup dikenal  di Kalbar, bahkan hingga ke tingkat nasional,” kata Agus 
 

Karena itu Agus meminta  pihak yayasan dapat mempertimbangkan kembali wacana penutupan SMP TBK.  “Kami berharap, Yayasan Adijanto dapat melanjutkan sekolah ini,  sesuai dengan komitmen awal mereka,” tuturnya.


Terkait dengan masalah ini, Agus mengaku akan mengusulkan adanya pembahasan bersama Komisi IV DPRD KKR, pihak sekolah, yayasan, hingga Dinas Pendidikan KKR untuk ditindaklanjuti.

Sementara itu, Wakil Bupati Kubu Raya, Hermanus menilai,  SMP TBK di KKR merupakan suatu aset penting bagi daerahnya.
  “Meski kami tidak mengetahui secara pasti, pokok masalah wacana penutupan sekolah ini. Namun, pemda sendiri sangat berharap SMP TBK dapat mempertahankan dan meningkatkan kelangsungan pendidikannya,” ujar Hermanus  

Jika memang terjadi permasalahan, pemda meminta pihak yayasan untuk mencari jalan keluar dengan bijak. Wacana penutupan sekolah tersebut, menurutnya, adalah solusi terakhir. “Kontribusi SMP TBK sangat luar biasa. Untuk itu, pihak yayasan harus berupaya menumbuhkan daya tarik bagi masyarakat,” ujarnya.    

  
Menurut Kepala SMP TBK, Mahyudi,  pihaknya sejak Ramadan 2016 mendapatkan SK dari ketua yayasan untuk tidak lagi menerima siswa baru. Alasannya,  jumlah siswa yang mendaftar semakin menurun. “Kami sebagai pelaksana hanya melaksanakan saja, “ kata  Mahyudi secara terpisah di Sungai Raya.

Mahyudi mengungkapkan,  jumlah siswa yang mendaftar di sekolah itu pada 2015 sebanyak 45 orang. Tahun ini, ketertarikan dan antusias orangtua maupun siswa untuk masuk ke SMP TBK masih terbilang cukup tinggi.
Namun, lanjutnya,  pihak yayasan menilai lain. Ini ditandai keluarnya SK  tentang penghentian penerimaan siswa baru.

"Maka berkas beberapa calon siswa baru yang sudah mendaftar terpaksa kami kembalikan," katanya.

  
“Saat penerimaan siswa baru, SMP negeri belum ada yang membuka pendaftaran. Meski sudah diketahui tidak menerima siswa baru, tak sedikit orangtua ingin mendaftarkan anaknya di sini. Bahkan ada yang menangis karena tidak bisa mendaftar,” tambah Mahyudi.

Kendati demikian, hasil dari audensi pihak sekolah dengan pihak yayasan beberapa waktu lalu pasca terbitnya SK itu, belum dapat dipastikan sekolah ini bakal ditutup.

Menurut Mahyudin, dari pertemuan itu tersirat, keputusan yayasan dapat dicabut, asalkan ada pembenahan struktur lebih lanjut dan bisa saja ditutup, namun diproyeksikan  hanya untuk SMA.

Diakuinya, memang terjadi penurunan jumlah siswa dari tahun ke tahun. Namun jika dilihat dari grafiknya, penurunan itu tidak terlalu signifikan.

Pihaknya juga tidak mengetahui secara pasti penyebab atau faktor terjadinya penurunan jumlah siswa dari tahun ke tahun itu. “Fenomena umum adalah masyarakat lebih memilih sekolah negeri, karena gratis. Tidak menutup kemungkinan juga dikarenakan biaya yang cukup mahal,” katanya. (jek/bob/pat)