Menilik Jembatan Apung Bermesin Diesel di Desa Padi (bagian 1)

Kubu Raya

Editor Admin Dibaca : 714

Menilik Jembatan Apung Bermesin Diesel di Desa Padi (bagian 1)
JEMBATAN APUNG - Acai (58) membuat jembatan apung dengan uangnya sendiri, untuk mempermudah akses yang menghubungkan empat desa di Kecanmatan Kuala Mandor B, Kabupaten Kubu Raya. (Jek/SP)
Untuk mempermudah akses yang menghubungkan empat desa di Kecamatan Kuala Mandor B, Kabupaten Kubu Raya, seorang warga Desa Padi Jaya, Acai (58) melakukan suatu terobosan dengan membuat jembatan apung, sistem buka tutup yang dilengkapi dengan mesin penggerak.

Jembatan Apung dengan sistem buka tutup yang dibuat oleh Acai ini, terletak di Dusun Karya Bersama, Desa Padi Jaya, Kecamatan Kuala Mandor B, Kubu Raya. Jembatan itu mengubungkan Desa Kubu Padi, Padi Jaya, Sungai Enau dan Desa Retok.

Jembatan ini memiliki panjang sekitar 21 meter dengan lebar jembatan sekitar 3 meter. Jembatan dilengkapi dua unit mesin diesel yang berada di sisi kanan dan kiri jembatan, berfungsi sebagai penggerak jembatan.

"Ketika ada motor air yang melintas, jembatan ini dibuka dan ditutup kembali setelah dilalui motor air. Untuk itu, saya harus stanby di sini untuk menjaganya," ujar Acai, ditemui di Desa Padi Jaya, Selasa (27/9).

Acai menjelaskan, pada tahun 2012 lalu, jembatan apung dengan sistem buka tutup ini mulai dibuatnya. Ketika itu penyeberangan masih menggunakan motor air, biaya penyeberangan cukup mahal. Bagi pemilik kendaraan sepeda motor dikenakan biaya penyeberangan sebesar Rp25 ribu.

Ide membuat jembatan karena sangat dibutuhkan masyarakat, sedangkan masyarakat setempat masih mengandalkan transportasi air. Sehingga ia membuat jembatan apung dengan sistem buka dan tutup ini, agar penyeberangan maupun lalu lintas transportasi air tetap berjalan dengan lancar.

"Sebelum ada jembatan ini, warga yang ingin menyeberang harus menunggu berjam-jam, karena menyeberangnya menggunakan motor air," ujarnya.

Pria yang memiliki nama Asli Eko Kurniawan ini menuturkan, jembatan itu dibuat dengan dana pribadinya. Tak ada bantuan dari pihak manapun. Saat memulai membuat jembatan, ia mengumpulkan material kayu yang dibeli secara sedikit demi sedikit. Jika dikalkulasikan total biaya yang dikeluarkan sekitar Rp70 - 80 juta, belum termasuk upah pembuatannya.

"Pada awalnya jembatan ini tidak menggunakan mesin, tapi saya tarik pakai tali. Karena lama-kelamaan saya merasa tidak mampu untuk menariknya, maka saya pasanglah mesin untuk mempermudah  di jembatan ini," tuturnya.

Saat ini, bagi pengendara sepeda motor yang menyeberang melalui jembatan ini, dibebankan biaya sebesar Rp5 ribu. Namun, hal itu tidak berlaku bagi semua pengguna jembatan.

Jembatan ini dapat dilalui sebanyak delapan sepeda motor secara bersamaan, dan selama lima tahun berjalan tidak pernah terjadi hal-hal yang tidak diinginkan, seperti ambruk atau tenggelam.

"Jika membawa warga yang sakit atau anak sekolah, biasanya tidak dibebankan biaya. Biaya sebesar Rp 5 ribu itu pun, hitung-hitung biaya perawatan dan menjaganya," ujarnya. (jaka iswara/lis)