Ratusan Warga Kubu Raya Terserang ISPA, Kecamatan Sungai Raya Paling Rentan

Kubu Raya

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 179

Ratusan Warga Kubu Raya Terserang ISPA, Kecamatan Sungai Raya Paling Rentan
KABUT ASAP - Kondisi kabut asap di halaman kantor Gubernur Kalbar tahun 2017 lalu. Akibat dari kabut asap sepanjang Agustus 2018 ini kasus ISPA di Kubu Raya mencapai ratusan. (Dok SP)
Kepala Dinkes Kubu Raya, Berli Hamdani
"Jumlah penderita ISPA sepanjang Agustus 2018 yang tercatat di Dinakes Kubu Raya sudah mencapai 132 kasus."

KUBU RAYA, SP - Dinas Kesehatan Kubu Raya mencatat ratusan warga Kubu Raya terserang Infeksi saluran pernapasan akut sepanjang Agustus 2018.

Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Kubu Raya, Berli Hamdani mengatakan, sepanjang Agustus 2018, pihaknya sudah menerima sebanyak 132 kasus ISPA dari beberapa kecamatan yang ada di kabupaten itu.

"Kasus ISPA sudah mulai muncul, menyusul semakin pekatnya kabut asap yang turut menyelimuti wilayah Kubu Raya akibat kebakaran Lahan," kata Berli Hamdani, Hamdani, belum lama ini.

"Jumlah penderita ISPA sepanjang Agustus 2018 yang tercatat di Dinakes Kubu Raya sudah mencapai 132 kasus," timpal Berli.

Menurutnya, di Kubu Raya ada tiga kecamatan yang telah dikategorikan rawan terjadi peningkatan ISPA.

"Kecamatan Sungai Raya menjadi daerah yang rentan terjadi peningkatan Kasus ISPA, sebab kondisi kabut asap memang cukup pekat di rasakan di wilayah ini, kemudian Rasau Jaya, dan Sungai Ambawang juga rentan terjadi peningkatan ISPA untuk saat ini," ujar Berli.

Untuk antisipasi supaya potensi peningkatan penderita ISPA di musim kabut ini bisa dicegah maka, Dinkes Kubu Raya sudah mencanangkan akan membagikan masker secara gratis dalam waktu dekat.

"Ada sekitar 870-an kotak masker, yang isinya satu kotak 50 lembar itu sudah siap dibagikan dalam waktu dekat. Pembagian masker secara gratis ini sementara akan difokuskan di kecamatan yang dianggap rawan," katanya.

Menurut Berli, pembagian masker secara gratis dari pemerintah tersebut hanyalah bersifat stimulan saja. Sebab, pemerintah juga punya anggaran terbatas untuk menyuplai kebutuhan masker di musim kabut asap ini.

Pemakaian masker, kata Berli, memang salah satu cara untuk mencegah terjadinya ISPA, terlebih pada musim ini, kabut asap semakin pekat. Karena itu, sebaiknya masyarakat yang beraktivitas di luar rumah, memakai masker secara benar.

"Menggunakan masker ada aturannya. Pemasangannya harus benar. Biasanya kalau ingin mencegah masuknya partikel debu, ke saluran pernafasan, maka masker harus dibalik, bagian hijaunya di dalam," ujarnya.

Selain itu, Berli juga menyarankan agar masyarakat memperbanyak mengonsumsi air putih, supaya cairan tubuh tetap terjaga di musim panas ini.

Pembina Sahabat Alam Community, Sujiwo mengatakan, kondisi kabut asap yang semakin pekat berdampak, semakin mudahnya terserang penyakit terutama ISPA. Sengan kondisi ini tentunya  pemerintah harus bergerak cepat karena ini adalah kepentingan warga.

"Saya berharap pemerintah daerah harus mengakomodir anggaran untuk hal-hal seperti ini, sehingga ketika ada bencana kabut asap seperti sekarang segera dapat di antisipasi,” kata Sujiwo. (antara/jek)

Dampak dari  Ulah Manusia 

Ketua Forum Pemuda Peduli Lingkungan (FP2L), Edi Suhairul mengatakan, semakin pekatnya kabut asap yang terjadi di wilayah Kalimantan Barat, khususnya Kubu Raya dan sekitarnya yang berdampak pada semakin banyaknya warga terkena ISPA, hal ini disebebkan oleh ulah manusia sendiri yang belum memiliki kesadaran untuk tidak membakar lahan.

"Setiap musim kemarau selalu terjadi kebakaran lahan, ini karena ulah manusia sendiri. Jika tidak ada kebakaran lahan, tidak mungkin asap sampai sepekat ini," kata Edi.

Kendati demikian, Edi mengimbau kepada warga  untuk memeriksakan kondisi kesehatan, jika sewaktu-waktu merasakan gangguan pernapasan atau lainya, akibat dari kabut asap ini.

"Jika sudah ada tanda-tanda segera periksa, jangan tunggu sampai parah baru memeriksakan kesehatan," ujarnya.

Selain itu, ia juga mengajak masyarakat untuk tidak melakukan pembakaran lahan, karena dampak dari membakar lahan itu, bukan hanya ddiderita oleh pembakar itu sendiri namun akan berdampak bagi banyak orang. (jek)