Selasa, 12 November 2019


WWF Dorong Perlindungan Habitat Orangutan di Kubu Raya

Editor:

Angga Haksoro

    |     Pembaca: 352
WWF Dorong Perlindungan Habitat Orangutan di Kubu Raya

Pontianak, SP – WWF Indonesia bekerja sama dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) wilayah Kubu Raya berkomitmen membangun hutan perlindungan habitat orangutan dan bekantan.  

Upaya tersebut melibatkan perusahaan yang aktif melakukan pengelolaan sumber daya alam di Kubu Raya, Sanggau, dan Ketapang.  

Hal tersebut merujuk pada hasil dokumentasi tahun 2012 yang mendeteksi keberadaan spesies pesut (Irrawaddy Dolphin) di perairan Kubu Raya. Keberadaan satwa dilindungi itu menjadi indikator bahwa kondisi alam di Kubu Raya masih baik.

Sejak saat itu, WWF mulai melakukan serangkaian studi dan survei keanekaragaman hayati ekosistem mangrove di Kubu Raya.  

Hingga tahun 2017, WWF mengidentifikasi sedikitnya 40 jenis mangrove, bekantan (Nasalis larvatus) dengan 54 titik perjumpaan yang tersebar di wilayah konsesi, 8 jenis kelompok crustaceae, 110 jenis burung, dan 4 jenis mamalia laut (lumba-lumba bungkuk, lumba-lumba tanpa sirip/porpoise, paus, dan pesut).  

Aktivis WWF Indonesia, Ian M Hilman mengatakan untuk melestarikan keanekaragaman hayati di Kubu Raya diperlukan upaya konservasi yang lebih terpadu dengan melibatkan para pihak.  

“Pertemuan dan proses diskusi ini menjadi langkah awal membangun sekaligus menjaring komitmen para pihak untuk bersama-sama terlibat atau berkontribusi dalam perlindungan kawasan-kawasan yang menjadi habitat hidupan liar, khususnya bekantan dan orangutan. Termasuk pemangku kepentingan dari pemerintah dan sektor swasta,” kata Hilman.  

Orangutan (Pongo pygmaeus) dan bekantan (Nasalis larvatus) merupakan satwa khas Pulau Kalimantan. Keberadaan satwa ini di kantong-kantong habitat dengan ukuran populasi yang bervariasi.  

Populasi orangutan dan bekantan saat ini jauh berkurang dan habitatnya semakin terancam. Konservasi atau perlindungan terhadap orangutan dan bekantan menjadi salah satu upaya untuk menekan laju pengurangan populasinya di alam liar.  

“Inisiatif membangun koridor satwa skala lanskap perlu kita dukung, mengingat bekantan merupakan satwa endemik Kalimantan. Khususnya di wilayah Kubu Raya yang saat ini habitnya semakin terdesak,” kata Kepala UPT KPH wilayah Kubu Raya, Ponty Wijaya.  

Ponty berharap, koridor satwa sistem lanskap dapat ditingkatkan menjadi suatu Kawasan Ekosistem Esensial (KEE) yang lebih menjamin perlindungan habitat orangutan dan bekantan.  

“Kedepan masyarakat tidak hanya dilibatkan dalam menjaga kelestarian habitat orangutan dan bekantan, tapi juga memperoleh manfaat dengan adanya habitat yang lestari bagi perekonomian mereka. Sehingga terjadi hubungan yang saling menguntungkan,” tambahnya. (*)