Mantan TU SMK Santa Monika Tuntut Keadilan

Kubu Raya

Editor Angga Haksoro Dibaca : 1159

Mantan TU SMK Santa Monika Tuntut Keadilan
Kubu Raya, SP - Sudah hampir 2 tahun mantan Pegawai Tata Usaha SMK Santa Monika, Orlando Prihartomo berjuang mencari keadilan. Laporannya soal pencemaran nama oleh ARS Kepala SMK Santa Monika belum ditindaklanjuti kejaksaan.  
Orlando melaporkan Kepala Sekolah SMK Santa Monika inisial ARS atas dugaan pencemaran nama. Laporan tersebut dibuatnya 19 Januari 2017.  

Menurut Orlando sempat terjadi pergantian penyidik karena saat ditangani penyidik pertama, kasusnya mandek satu tahun. Ketika penyidik diganti, kasus yang dia laporkan jalan kembali.  

Meskipun Orlando mengapresiasi kinerja penyidik yang memperlihatkan kemajuan, namun dia masih kecewa karena penangganan kasus tersebut berjalan lambat.  

“Komunikasi dengan penyidik sekarang berjalan dengan baik. Tapi kasus ini kami merasakan terkesan diundur undur,” kata Orlando kepada Suara Pemred, Kamis (22/11).  

Kasus ini bermula dari laporan ARS ke Polres Pontianak 27 Oktober 2016. ARS melaporkan Orlando, dua rekan kerjanya (NT dan MS), serta ibunya Lidya Maria atas tuduhan mencuri berkas asli laporan pertanggung jawaban Dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS) SMK Santa Monika.  

Laporan kepala sekolah diduga sebagai serangan balik karena NT pernah melaorkan ARS ke Polda Kalbar atas tuduhan memalsukan tanda tangannya pada kwitansi Dana BOS.  

NT merasa tidak pernah menandatangani dan menerima uang seperti yang tertera di kwitansi tersebut. Hanya saja laporan tidak dapat ditindaklanjuti karena pelapor tidak memiliki bukti kwitansi asli.

Pelapor hanya memiliki bukti fotocopy kwitansi dalam LPJ Dana BOS yang didapat dari rekannya bernama MTS dengan cara meminta ke Dinas Pendidikan Kubu Raya.
  
“Mungkin dia (ARS) berpikir dapat berkas dari mana. Lalu kepala sekolah melaporkan kami ke Polresta, menuduh kami mencuri buku LPJ. Padahal ini didapat dari Dinas Pendidikan yang waktu itu diambil oleh Pak MTS,” kata Orlando.  

Orlando dan rekan-rekannya sempat dimintai keterangan penyidik terkait tuduhan pencurian tersebut. Akhirnya penyidik memutuskan bahwa Orlando tidak terbukti mencuri berkas LPJ.  

“Kami sudah diambil keterangan dan sudah gelar perkara juga. Lalu kami di nyatakan tidak bersalah atau tidak terbukti. Namun kami tidak menerima surat yang menyatakan kami tidak melakukan pencurian,” ujar Orlando.  

Selain melapor ke polisi, ARS menyebarkan surat ke sejumlah pihak bahwa Orlando dan ibunya mencuri berkas LPJ Dana BOS. Surat tersebut dibuat ARS sebelum pihaknya diminta keterangan oleh polisi.  

“Kami dapat surat yang disebar itu dan kami laporkan balik ke Polresta. Kami heran sekitar dua tahun, baru ada kepastian dilakukannya gelar perkara. Itupun kami datang terus menerus,” ujar Orlando sambil menunjukan berkas surat yang dimaksud.  

Masalah kian pelik, karena Orlando dan rekan-rekannya tidak menunjukan surat polisi yang isinya membutikan bahwa pihaknya tidak mencuri berkas seperti yang dituduhkan Kepala Sekolah ARS.  

Orlando pernah meminta surat tersebut kepada penyidik Polres Pontianak namun tidak diberikan. “Kerena kami tidak diberi surat itu, kami dianggap orang tetap mencuri karena tidak bisa menunjukan bukti.”  

Orlando berharap penegak hukum bersikap objektif. Dia berharap hukum ditegakan dan nama baiknya dipulihkan. “Semoga yang lainnya juga dapat terungkap. Ini pelajaran untuk yang lain bahwa jabatan itu hanya sesaat. Jangan perlakukan orang lain dengan semena-mena,” pungkasnya. (iat)