Angkat Guru Honor, Solusi Atasi Kekurangan Tenaga Pendidik

Kubu Raya

Editor Angga Haksoro Dibaca : 805

Angkat Guru Honor, Solusi Atasi Kekurangan Tenaga Pendidik
Kubu Raya, SP - Salah seorang pengajar SDN 22 Sungai Kakap, Zakaria berharap peringatan Hari Guru Nasional tidak hanya dijadikan acara seremonial belaka. Hari Guru harus dijadikan momentum kesadaran pentingnya peran guru dalam mencerdaskan anak bangsa.  

Sehingga persoalan-persoalan guru yang selama ini masih menjadi masalah harus segera diselesaikan. “Seperti saat ini masalah gaji guru honor yang masih belum terselesaikan. Saya seminggu full mengajar, tapi sebulan dibayar di bawah Rp 500 ribu,” kata Zakaria, Minggu (25/11).  

Zakaria mengaku pernah mengajar di tiga kabupaten berbeda sejak tahun 2005. Di Kubu Raya Zakaria sudah 5 tahun mengajar sebagai guru honorer yang SK-nya dikeluarkan oleh kepala sekolah.   

Dia menceritakan belum pernah mengikuti proses sertifikasi, walaupun sudah memiliki nomor NUPTK/nomor peserta. “Saya sangat berharap ada perubahan di tahun 2019. Sehingga untuk kesejahteraan guru honor mendapat solusi konkrit,” katanya.  
Zakaria memahami bahwa kondisi keuangan negara saat ini tidak memungkinkan pemeintah mengangkat guru honorer menjadi pegawai negeri sipil. Tapi bukan berarti kesejahteraan guru diabaikan.  

“Mudah-mudahan kami bisa di-SK Kabupaten atau pihak terkait. Sehingga kesejahteraan kami lebih terjamin. Apalagi nanti ada pergantian kepemimpinan semoga memberikan dampak baik,” ujar Zakaria.  

Rektor IKIP PGRI Pontianak, Rustam mengatakan harus ada keseriusan dan komitmen pemerintah untuk mensejahterakan guru honorer.   

Karena menurut Rustam masih banyak guru honor yang belum diangkat, padahal masa pengabdiannya sudah cukup lama. Apalagi kata dia saat ini untuk open rekrument CPNS 2018, banyak yang tidak lulus tahap SKD. “Kami melihat keseriusan pemerintah untuk memenuhi kouta. Di lapangan kita banyak kekurangan guru,” kata Rustam.  

Rustam menilai daya serap kebutuhan guru hingga saat ini masih hanya sebatas janji tanpa ada realisasi. Jika pemerintah berkomitmen memenuhi kebutuhan guru, pemerintah harus mengangkat pegawai pendidikan dari guru honor.  

“Kita serahkan kepada pemerintah untuk dapat mengakomodir persoalan guru honor ini,” ujarnya. (Iat)