Bonus Atlet Porprov Kubu Raya Menyedihkan

Kubu Raya

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 269

Bonus Atlet Porprov Kubu Raya Menyedihkan
Grafis Koko (Suara Pemred)
Atlet Pencak Silat Kubu Raya, Jaka Apriadi
"Ada berapa kabupaten yang tawarkan saya dan janjikan bonus yang lebih. Karena saya merasa hidup di Kubu Raya, makanya saya tolak tawaran itu."

Kadisporapar Kubu Raya, Cicilia Tri Agustina
"Kami akui ini adalah musibah, tetapi kami tidak juga bisa disalahkan karena kami sudah mati-matian memperjuangkannya. Ke depan kami berharap persoalan ini bisa diselesaikan bersama."

KUBU RAYA, SP – Bonus atlet Kubu Raya yang mendapat medali dalam ajang Pekan Olahraga Provinsi (Porprov) Kalbar 2018 menyedihkan. Peraih emas hanya mendapat Rp3,5 juta, perak Rp1.250.000 dan perunggu Rp600 ribu. Perjuangan mereka seperti tak dihargai.

Kubu Raya pun hanya mampu duduk di posisi enam. Mereka mengumpulkan 28 emas, 53 perak dan 84 perunggu. Padahal, dalam ajang sama edisi sebelumnya, kabupaten itu peringkat dua.

Atlet pencak silat, Jaka Apriadi yang mendapat perunggu di cabang itu untuk kelas F Putra kecewa, kerja kerasnya hanya diganjar Rp600 ribu. Padahal, dia sudah menolak tawaran bergabung ke kontingen kabupaten lain.

"Ada berapa kabupaten yang tawarkan saya dan janjikan bonus yang lebih. Karena saya merasa hidup di Kubu Raya, makanya saya tolak tawaran itu," tuturnya, Rabu (2/1).

Cinta kadang memang menyakitkan. Tanah kelahiran yang dia bela justru tak menghargai perjuangannya. Sejatinya dia tak sendiri, beberapa kawannya juga ditawari bertanding untuk daerah lain, namun mereka saling memotivasi untuk membela Kubu Raya. Sampai-sampai, setahun persiapan, banyak dana pribadi dikeluarkan.

"Tidak hanya sekarang, kemarin Kejurda juga tidak ada sumbangsih dari KONI untuk atlet," katanya.

Tak hanya uang pribadi, pekerjaan juga dia kesampingkan untuk mantap di Porprov. Tapi kenyataan kini justru membuatnya kecil hati.

"Mungkin ini terakhir saya mendukung Kubu Raya. Kemungkinan saya pensiun, apalagi KONI kayak gini. Padahal saya sudah membela Kubu Raya dari 2010," katanya.

Pemuda Rasau Jaya ini berharap, KONI dan Pemkab lebih menghargai para atlet. Hal itu adalah kunci kemajuan olahraga. Bonus akan memacu atlet berprestasi.

Atlet taekwondo peraih emas Kubu Raya, Sri Agus Triana menerima lapang dada bonus untuknya. Salah satu alasannya giat di Porprov, adalah tiket pra Pekan Olahraga Nasional (PON). Tiket itu didapat dan bisa mengobati angka bonus yang diterima.

“Saya mengambil positifnya saja dengan bonus segini," tuturnya.

Meski memang, diakuinya banyak yang dikeluarkan untuk berprestasi. Sri bekerja di perusahaan swasta delapan jam per hari. Demi Porprov, waktu dan tenaganya habis. Tapi bonusnya tidak sebanding. Padahal, jika fokus kerja, dia bisa mendapat lebih dari bonus medali.

“Mungkin atlet, pelatih dan pengurus harus lebih bersyukur. Agar ke depannya anggaran sesuai dengan yang dibutuhkan atlet, dan fasilitas pertandingan sesuai dengan standar," katanya.

Ketua Pelatih Pengkab Pencak Silat Kubu Raya, Suherman tak bisa menutupi kekecewaan. Sejak jauh hari dia percaya, kepemimpinan Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) Kubu Raya yang sudah dua periode, bisa memajukan olahraga daerah. Namun, jauh panggang dari api.

Cabor pencak silat sudah bersiap satu tahun sebelum Porprov. Hanya saja, pendanaannya dikembalikan pada masing-masing. Padahal dana Pengkab terbatas. Bantuan dari KONI setempat pun ala kadar.

"Kami dibantu per tahun hanya Rp15 juta, itu untuk pembinaan 21 perguruan. Untuk TC itu sendiri akhirnya kami mandiri," tutur dia. 

Keterbatasan anggaran, buat atlet tak hanya keluar keringat, tapi juga uang. Para atlet tetap ingin berprestasi, dan punya ekspektasi tinggi pada KONI ketika mereka juara. 

"Di kepemimpinan beliau, kita pernah mendapat bonus cukup tinggi. Entah kenapa sekarang malah balik dan jauh menurun," ujarnya.

Menurutnya, pemberian bonus adalah tanggung jawab KONI dalam memperhatikan atlet. Sayangnya, dari awal komite itu sudah lepas tangan. Anggaran jadi alasan klasik. 

“(KONI) sudah langsung memutuskan tanpa ada konsultasi ke kita. Dia langsung menyatakan bahwa KONI tidak punya dana dan hanya siap memfasilitasi penginapan, makan dan baju kontingen. Selebih dikembalikan ke masing-masing atlet," jelasnya. 

Suherman menilai, KONI Kubu Raya tak transparan. Berapa anggaran yang dimiliki tak pernah diterangkan.

"Tuntutan saya paling tidak, ada tranparansi dari pihak KONI terkait dana Porprov ini. Masalah audit itu pihak terkait lah yang melakukan," tegasnya.

Audit KONI

Ketua Harian Pengkab Persatuan Bola Voli Seluruh Indonesia (PBVSI) Kubu Raya, Syarif Faisal sama kecewanya dengan bonus untuk atlet. Angka tersebut sangat tidak layak. 

“Mereka sangat loyal dengan kabupaten, ada berapa tawaran dari kabupaten lain. Tapi mereka tetap setia dengan kabupatennya sendiri," ujarnya.

Namun ketika tugasnya sebagai atlet usai, pihak terkait malah tidak menghargai loyalitas tersebut. Maka tak heran jika sejak awal banyak atlet Kubu Raya yang memilih membela daerah lain. Dari informasi yang didapatnya, banyak atlet daerah lain yang meraih medali, sejatinya berasal dari Kubu Raya.

"Hampir peraih medali yang mendongkrak kabupaten lain, itu asli anak Kubu Raya yang banyak. Terutama di cabang-cabang perorangan. Kami dapat informasi dari kawan-kawan pelatih maupun atlet dari luar," ujarnya. 

Pertemuan memang sempat digelar antara pengurus cabang olahraga dengan KONI setempat sebelum Porprov. Namun perkara bonus tak pernah disampaikan.

"Kami sudah pernah rapat persiapan Porprov, sampai terakhir kami tanyakan tali asih untuk atlet berapa, namun jawaban dari KONI belum bisa dipastikan," ceritanya.

KONI pun sempat menyampaikan anggaran untuk Porprov, namun tidak pernah dijabarkan rincian alokasi dana tersebut. Dalam persiapan atlet pun, KONI tak berkontribusi. Anggaran jadi alasan mengabaikan prestasi dan loyalitas atlet.

"Uang untuk TC, perlengkapan tanding tidak ada. Padahal TC itu cukup lama, bahkan seleksi saja kami mengadakan sendiri, dananya ngemis sana-sini untuk mengadakan seleksi itu," tuturnya.

Dengan kepengurusan KONI sekarang, pihaknya berinisiatif mengganti puncak pimpinan. Selain itu, dia minta Pemkab bertanggung jawab atas prestasi yang sudah diberikan. Termasuk melakukan audit anggaran pada KONI Kubu Raya.

"Itu perlu diaudit, karena dana yang dikeluarkan Pemda tidak kecil. Paling tidak harus ada audit, kalau memang sudah benar peruntukannya mungkin kami bisa memaklumi," sebutnya. 

Ketua Harian Pengkab Renang Kubu Raya, Firdaus menilai, jika dibandingkan daerah lain, bonus Kubu Raya sangat jauh. Terlebih untuk sebuah agenda empat tahunan. 

Sejak awal pun, nominal bonus tak pernah jelas. Akibatnya, atlet tak termotivasi. Cabornya, hanya mendapat emas dan perunggu.

"Sangat jauh sekali penurunannya. Kita punya atlet bagus, namun karena masalah seperti itu, atlet kita tidak termotivasi dan bahkan ada yang bermain untuk daerah lain," ujar dia. 

Dia sendiri tidak bisa menahan para atlet membela kabupaten lain. Karena itu berkaitan hak atlet. Apalagi ketika ada permasalahan bonus, sangat sulit mencegah mereka pergi.

Firdaus menilai KONI perlu dibenahi. Butuh regenerasi dengan orang yang berkemampuan dalam tubuh organisasi.

"Itu juga harus ditelusuri. Artinya aliran dana itu bagaimana, berapa dan ke mana saja pengeluarannya. Audit perlu dilakukan untuk melakukan transparansi," pungkasnya.

Saling Tuding

Ketua KONI Kubu Raya, Yakub menjelaskan pagu bonus atlet hanya Rp215 juta. Angka itu diberikan untuk semua atlet yang membawa pulang medali. Dia pun maklum, jika ada keluhan.

"Jadi dari dana tersebut dibagi habis dan jatuhnya sesuai dengan yang dibagikan kepada atlet," tutur dia.

Anggaran sebesar itu, hanya untuk atlet. Belum termasuk pembina dan pelatih. Jika mereka turut diberi bonus sekarang, angka yang diterima makin kecil.

"Untuk pembina kita anggarkan di tahun 2019. Kita sangat berharap di tahun 2019, ada anggaran dari Pemda," harapnya. 

Dia menjelaskan, bonus tahun 2010 dan 2014 besar karena anggaran bukan berasal dari KONI, melainkan langsung dari Pemda. Dia berharap anggaran ke depan bisa ditambah.

Masalah pembinaan, ada dana yang diberikan ke masing-masing Pengkab. Namun kecil lantaran dibagi ke 33 kepengurusan. Wajar jika ada yang tak puas.

Yakub beralasan, perpindahan lokasi Porprov jadi penyebab anggaran terbatas. Tadinya, gelaran itu direncanakan di Sintang. Kontingen Kubu Raya berencana hanya akan menurunkan atlet berprestasi, dan mempunyai potensi meraih medali. Ketika Porprov akhirnya digelar di Pontianak, jumlah atlet yang bergabung lebih signifikan.

Dia mengambil contoh, Porprov 2014 diikuti 200 kontingen. Namun di tahun 2018, jumlahnya hampir 500 kontingen.

"Besarnya kontingen yang kita berangkatkan mempengaruhi anggaran. Kalau tidak diberangkatkan semua, tak enak sama para atlet juga," tuturnya.

Jumlah besar atlet mempengaruhi anggaran. Akibatnya, bonus dan uang saku tak besar. TC pun tak bisa dilaksanakan. Jika dipaksakan, akan berpengaruh ke alokasi dana lain.

“Kalau TC kita laksanakan dananya makin mengecil dan mempengaruhi bonus," tuturnya.

Dia tidak mempersoalkan apabila anggaran komitenya diaudit. Pasalnya, setiap yang mereka keluarkan pasti dilaporkan ke Pemkab. Di sana pun, dana diaudit.

"KONI siap kalau ada pengauditan. Bahkan tanggal 10 (Januari) kita harus sudah laporan penggunaan ke Pemda. Selain itu BPK biasa masuk, kita selalu diaudit setiap tahun," tuturnya.

Dia meminta Pemkab lebih memperhatikan atlet. Sehingga atlet berprestasi tidak lari ke kabupaten lain. Di daerah lain, mereka diimingi insentif tinggi.

"Saya yakin bila mereka dapat perhatian Pemda, Kubu Raya bisa jadi barometer pembinaan. Apalagi kita menyaingi Pontianak, atlet kita banyak," ujarnya.

Sementara Pemkab justru menyerahkan semua ke KONI. Kepala Dinas Pemuda, Olahraga dan Pariwisata (Disporapar) Kabupaten Kubu Raya, Cicilia Tri Agustina menuturkan Porprov adalah urusan KONI. Pemkab hanya menganggarkan. KONI yang mendistribusikan sesuai peruntukan.

"Persolan besaran bonus dan sebagainya tidak bisa dibandingkan antara kabupaten lain. Karena itu sesuai kemampuan daerah," tuturnya.

Diakuinya, anggaran untuk Porprov Kubu Raya tahun ini kecil. Namun anggaran tersebut sudah perjuangkan maksimal. Anggaran tersebut dibahas bersama tim Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah dan DPRD. Besarannya sudah melalui pertimbangan khusus kemampuan kabupaten. 

"Prinsipnya apa yang diberikan oleh Pemda itu yang kami distribusikan kepada KONI," tutur dia.

Menurut dia, dalam pembahasan memang tidak ada anjuran melibatkan para Pengkab cabor. Kalaupun dilibatkan, usulan masing-masing Pengkab belum tentu bisa diakomodir. 

"Kami akui ini adalah musibah, tetapi kami tidak juga bisa disalahkan karena kami sudah mati-matian memperjuangkannya. Ke depan kami berharap persoalan ini bisa diselesaikan bersama," ujarnya. (iat/bls)

Belum Terima Bonus

Beberapa kabupaten/kota belum memberikan bonus pada atlet yang meraih medali dalam Porprov Kalbar 2018. Satu di antaranya Kabupaten Sanggau. Dalam ajang tersebut, Sanggau menggondol 102 medali, terdiri dari 17 emas, 23 perak dan 62 perunggu.

Ketua Pengcab Tarung Derajat Kabupaten Sanggau, Robi Kurniawan mengatakan para atlet peraih medali hingga saat ini belum menerima bonus dari pemerintah daerah.

“Semoga para atlet yang sudah mengharumkan nama daerah bisa mendapatkan reward atau bonus sesuai dengan prestasi yang diraih. Saya yakin Pemkab Sanggau lebih memperhatikan hal tersebut,” katanya, Rabu (2/1).

Anggota DPRD Sanggau, Konggo Tjintalong Tjondro pun meminta KONI Sanggau sebagai induk olahraga untuk berkomunikasi dengan pemerintah daerah. Pasalnya, sebelum berangkat bertanding ke Pontianak, ada janji bonus dari pemerintah daerah. 

“KONI harus komunikasi terkait hal ini. Dan mengenai besarannya tentu disesuaikan dengan kemampuan keuangan daerah,” katanya.

Mantan Ketua Pengcab Tarung Derajat ini berharap, para pelatih yang telah bersusah payah membina para atletnya sehingga berhasil meraih medali, juga mendapat bonus. 

“Mengingat ajang sudah selesai hampir dua bulan, kiranya bonus segera diberikan. Jangan terlalu lama nanti bisa basi dan dananya pasti sudah dipersiapkan,” timpalnya.

Ketua KONI Kabupaten Sanggau, Ibrahim mengatakan belum mengetahu secara pasti kapan bonus tersebut akan diberikan pemerintah daerah. “Belum tahu, mungkin Februari atau Maret. Karena bonus pemerintah daerah yang urus, bukan KONI. Cuma data yang dapat bonus dari KONI,” katanya.

Hal serupa terjadi di Melawi. Kabupaten itu duduk di posisi paling buncit dalam ajang empat tahunan tersebut. Sebanyak delapan emas, 11 perak serta 22 perunggu mereka bawa pulang. 

Ketua KONI Melawi, Suarli mengungkapkan Pemkab Melawi sudah berkomitmen untuk memberikan penghargaan berupa bonus pada atlet berprestasi sejak pelepasan keberangkatan kontingen.

"Bupati sudah menjanjikan dana Rp200 juta yang nantinya akan digunakan sebagai bonus atlet berprestasi," ujarnya.

Walau sudah ada penyerahan bonus secara simbolis pada malam ramah tamah Bupati dan atlet serta ofsial dan pelatih, awal Desember lalu, Suarli menyebut penyaluran bonus baru akan dilakukan pada tahun ini. Pasalnya, dana tersebut masuk dalam APBD Melawi 2019.

"Penyaluran nanti melalui rekening atlet yang bersangkutan oleh Disporapar. Mungkin Maret atau April sudah bisa terealisasi setelah APBD berjalan," jelasnya. (eko/jul/bls)