Sulis, Si Jilbab Cokelat dan Air Mata yang Lahap

Kubu Raya

Editor Admin Dibaca : 172

Sulis, Si Jilbab Cokelat dan Air Mata yang Lahap
Sulis
Sulis, terlihat pendiam. Bahkan ketika teman-temannya begitu girang menghadap makanan. Ia hanya berdiri diam, di antara kerumunan. 

Beberapa bulan lalu usianya menjejak lima. Tanpa perantara Taman Kanak-kanak, ia jadi siswa sekolah dasar. Perkenalan saya dan Sulis kecil begitu singkat, jika dihitung dari pertemuan, obrolan pendek sampai perpisahan, tidak sampai tiga jam. Tapi ada kesan dalam. 

Jumat (18/1) siang itu, saya diajak Street Car Community Pontianak—sebuah komunitas mobil dengan bermacam merek—ke Panti Asuhan Al-Haq di Desa Sungai Rengas, Kecamatan Sungai Kakap, Kubu Raya. Dari Pontianak, butuh sejam perjalanan, ditambah 15 menit jalan kaki dari simpang jalan.

Komunitas yang diketuai Dimas itu, ingin berbagi sembako dan makanan.

Kami disambut  Ustaz Syamsuri, pemilik sekaligus pengasuh panti. Anak-anak sudah di ruang terbuka samping masjid. Agaknya ini ruang belajar. Pasalnya salah satu sudut ruangan, ada rak buku. Di sisi lain papan tulis hitam tergantung.

Panti ini awalnya dipimpin Kyai Aqsan bin Abdullah, ayah Ustaz Syamsuri. Berdiri tahun 2007, jumlah penghuninya tak lebih dari jari sebelah tangan. Ketika Kyai meninggal, ia berpesan untuk membesarkan panti asuhan.
 
“Saya hanya meneruskan,” ujar Ustaz Syamsuri.

Berbekal tabungan dan sumbangan ‘hamba Allah’ panti dibangun dua lantai. Sebelumnya, satu bangunan rapuh berbahan kayu. Bangunan dua lantai itu kini dibagi, lantai atas penghuni perempuan, lantai dasar lelaki. Total ada 67 penghuni.

“Ya, di sini ada 67 orang. Dari berbagai suku, ada Jawa, Melayu, Bugis. Yang mualaf juga ada beberapa orang. Kami tampung semua, soal biaya sekolah dan sehari-hari saya selalu usahakan,” katanya.

Ketika berbincang, beberapa kali Ustaz Syamsuri membenarkan posisi kopiah putih, meski tak ada yang salah. Seperti kebiasaan menggaruk kepala yang tak gatal, ia terlihat menahan gejolak. Ada yang dialihkan, atau disembunyikan di balik bola matanya yang nyala. Mungkin rembesan air mata.
 
“Yang itu siapa namanya, Ustaz?” tanyaku memecah hening, menunjuk seorang anak berjilbab cokelat yang diam di tengah keramaian.

Ialah Sulis, anak yang sejak dua tahun terakhir diantar ibunya ke panti. Ketika itu sang ibu baru menjanda, suaminya meninggal dunia. Faktor ekonomi jadi perahu pertemuan mereka. Usai diantar, kabar ibunya tak lagi terdengar. 
Di sampingnya, duduk Rehan. Anak delapan tahun yang baru seminggu merasa tinggal di panti. Rehan putus sekolah karena biaya, Ustaz Syamsuri berusaha menyambungnya. 

Rehan terlihat murung. Kedua orang tuanya bercerai, meski tetangga, menempatkan Rehan di panti dirasa pilihan terbaik. Tapi ia dilarang menangis. Ungkapan ‘lelaki tak boleh cengeng’ seperti membelenggunya. Kontruksi sosial yang tak harus dilestarikan. 

Para penghuni panti, lahap menyantap bekal yang dibawa Street Car Community Pontianak. Pelan tapi pasti, tangan penuh nasi dan ayam penjumpai mulut lapar. Mungkin mereka tak ingin rezeki itu dinikmati terlalu cepat. Entah kapan terakhir mereka merasakannya.

Sebab, Ustaz Syamsuri bercerita, ia hanya serabutan. Jangankan menyekolahkan, untuk makan semua penghuni sering kelabakan. Siang itu saya pulang dengan sesak dan lapang. Bahwa ada yang perlu disyukuri dan dibagi. 

Ada kesederhanaan yang tak banyak menuntut, sebagaimana jilbab cokelat lusuh di kepala Sulis. Mungkin warna aslinya, tertutup waktu dan kejadian yang lepas dari pandangan kita. (suria mamansyah/balasa)