Mengenal Pesawat Angkut Serba Bisa Milik TNI AU

Kubu Raya

Editor Admin Dibaca : 373

Mengenal Pesawat Angkut Serba Bisa Milik TNI AU
Prajurit TNI AU terjun dari pesawat.
KUBU RAYA, SP - "Seorang teman yang asyik mengobrol dengan tentara di samping saya, bertanya apakah pesawat sudah mendarat. Saya hanya tersenyum sambil tetap mengarahkan kamera untuk merekam sensasi pendaratan pesawat hercules, usai menuntaskan misi menurunkan prajurit penerjun dari atas ketinggian langit di Lanud Supadio,"

Itulah sepenggal pengalaman saat Wartawan Suara Pemred, Nana Arianto naik pesawat hercules hingga turun kembali. 

"Saya tidak merasakan sensasi getaran yang berarti saat ban pesawat ini menyentuh landasan ketika turun, meskipun posisi kami dalam keadaan berdiri," ujarnya.

Kecuali saat naik, itu sangat terasa, ia harus memegang erat tali pengikat yang ada dipinggang. Tali tersebut ujungnya memiliki pengait yang bisa disematkan pada tali lain yang membentang di atas kepala dalam pesawat tersebut. 

Atau bisa juga dikaitkan pada tempat khusus dilantai dasar pesawat untuk menjaga keseimbangan badan saat pesawat bergerak naik. Namun, setelah pesawat dalam posisi penerbangan sempurna tali ini bisa dilepas. 

Moment ini, didapatkannya saat mengikuti terjun payung penyegaran (Jungar) tempur Pasukan Khas (Paskhas) TNI AU di Lanud Supadio, Jumat 1 Februari 2019. 

"Saya bersyukur misi kami pagi itu selesai sekitar pukul 07.10 WIB. Saya keluar lewat pintu belakang yang terbuka lebar. Pintu ini biasa digunakan untuk memasukkan sekaligus mengeluarkan barang bawaan yang biasa diangkut menggunakan pesawat hercules. 

Lewat pintu belakang ini juga para penerjun (terjun payung) model free fall keluar seperti bersiap hendak terbang. Sementara untuk terjun model statik lewat dua pintu samping yang terletak di masing-masing sisi kanan dan kiri pesawat," kata Nana. 

Pagi itu, ia menyaksikan sendiri para prajurit Paskhas TNI AU Lanud Supadio terjun payung. Penerbangan pertama dimulai sekitar pukul 05.30 WIB dengan membawa sebanyak 72 penerjun statik, beserta prajurit lain yang bertugas membantu proses penerjunan. 

Usai menurunkan 72 penerjun statik pesawat kembali ke landasan untuk menjemput 27 penerjun free fall yang hampir semuanya adalah perempuan. Meski tidak terlalu takut dengan ketinggian, dirinya merasa untuk terjun payung butuh keberanian luar biasa.

"Yang saya pikirkan adalah pertaruhan antara hidup dan mati. Saya mengamati beberapa wajah prajurit yang akan terjun, mereka berusaha untuk tetap serilexs mungkin, meskipun tidak bisa dipungkiri ada rona tegang di sana," terangnya menggambarkan kondisi di dalam pesawat. 

Sebelumnya, sekitar pukul 05.00 WIB, para prajurit ini telah bersiap dengan seluruh peralatan terjun. Sebelum bergerak menuju pesawat, para prajurit melakukan breafing serta pemeriksaan kelengkapan. 

Khusus untuk penerjun statik mereka membawa ransel dipunggung serta senapan lengkap ala militer yang terjun ke medan tempur. Sementara untuk yang terjun free fall tidak dilengkapi ransel dan senjata berat. 

"Saya dan rekan dari media elektronik, Doris Pardede serta fotografer senior Antara biro Kalbar, Jessica Wuysang tiba juga sekitar pukul 05.00 WIB di lokasi. Ini sesuai permintaan sehari sebelumnya saat kami menyatakan bersedia ikut terbang untuk meliput langsung kegiatan terjun payung pagi itu," kata dia. 

Dalam sebuah misi, memang terjun payung dilakukan pagi-pagi sekali menjelang matahari terbit dan setelah matahari terbenam. 

"Pagi itu, saya merasa seolah-olah kami bersiap menuju medan tempur, segala sesuatunya betul-betul dilakukan ala tentara, sigap, cepat dan tanggap," ungkapnya. 

Ketika anggota Paskhas sudah berbaris menghadap pesawat, awak media didampingi salah seorang anggota Paskhas untuk segera menuju pesawat. Masuk melalui pintu belakang lalu mengambil posisi yang bagus untuk mengambil gambar saat para anggota Paskhas masuk dalam pesawat. 

"Kami diberi ruang untuk berdiri dekat dengan pintu samping kanan dan kiri, pintu yang nantinya dipakai para penerjun statik untuk keluar. Posisi ini memudahkan kami untuk mengambil gambar tentunya," kata wartawan yang bertugas di wilayah Kubu Raya ini. 

Sebelum pintu belakang tertutup sempurna, para awak media sudah diminta untuk mengaitkan ujung tali dipinggang, yang memiliki pengait dengan tali membentang dalam pesawat yang posisi berada di atas kepala. 

"Saya sendiri memilih mengaitkan dengan tempat khusus di lantai pesawat, lantaran tali tersebut tak cukup panjang seperti yang lainnya," ujarnya. 

Pesawat menderu dan bergetar saat mesin turbo menyala. Tak berselang lama, para awak media sudah sigap berpegangan, karena pesawat akan segera naik untuk mengantar pasukan yang akan terjun payung. (nana arianto/bob)