Perayaan Pasca Nyepi Mirip Lebaran Idulfitri

Kubu Raya

Editor Kiwi Dibaca : 1987

Perayaan Pasca Nyepi Mirip Lebaran Idulfitri
SILATURAHMI - Pimpinan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHBI) Kalbar, Pandita Putu Dupa Bandem menerima silaturahmi awak media di Komplek Pondok Indah Lestari, Desa Parit Baru, Kubu Raya, Jumat (8/3).
 Saling kunjung dengan sajian kue dan makanan lain pascaperayaan Nyepi, sekilas mirip dengan lebaran Idulfitri. Sebuah ritus yang lazim dalam setiap hari raya. Tapi mungkin tidak banyak yang tahu, kalau umat Hindu punya kebudayaan serupa.

Sebagai miniatur keberagaman, Kalimantan Barat memang gudang akulturasi budaya. Seperti yang dilakukan umat Hindu yang membuka pintu rumah mereka untuk menyambut tamu, setelah sehari gempita dengan Nyepi.

Di rumahnya, Pimpinan Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHBI) Kalbar, Pandita Putu Dupa Bandem tak putus menyambut tamu. Tak hanya dari kalangan Hindu, namun juga kenalan lain keyakinan. Tak ada batas untuk silaturahmi.

"Kalau di sini sudah menjadi kekhasan, kita umat Hindu saat ‘nemba geni’ atau sehari setelah Nyepi, open house. Kita menerima kunjungan baik lingkaran umat beragama maupun antarumat beragama, dan di sini bisa berjalan sampai dua minggu," ceritanya ketika ditemui di kediamannya di Komplek Pondok Indah Lestari, Desa Parit Baru, Kubu Raya, Jumat (8/3).


Kebiasaan ini diadaptasi dari kebiasaan sebagian besar umat lain, ketika merayakan hari keagamaan. Silaturahmi dijadikan ajang saling memaafkan. Ia berkata, di Kalbar umat berbahagia karena bisa hidup sebagai umat beragama.

Ada suasana kerukunan, dan persaudaraan. Hal itu membuat ia merasa tidak ada batas antarbeda keyakinan. “Setiap hari raya apa pun, pasti meriah. Itu ditandai dengan ‘simakrama’ atau silaturahmi,” sebutnya,” ujarnya.

Umat Hindu beradaptasi dengan suasana. Hal ini mencerminkan, bagaimana mereka menyesuaikan diri dengan lingkungan. Di mana tanah dipijak, di situ langit dijunjung. Di Tanah Dewata, Bali, sehari usai Nyepi, memang ada kebiasaan saling mengunjungi. Namun itu sebatas pada keluarga dekat.

"Kita kalau hari besar keagamaan kan biasa begitu kalau di sini. Saya biasa berkunjung ke teman-teman Muslim, Kristen dan Tionghoa saat hari raya. Masa saya ndak menjamu tamu saya, saat kami merayakan hari besar keagamaan," ujarnya. 

Hanya saja, Pandita Putu tidak menyediakan makan berbahan dasar daging. Sebab sebagai pemeluk Hindu, ia teguh tidak makan daging. 

"Tradisi kue ini menyesuaikan betul dengan di Kalbar. Jadi yang sekarang kita saksikan ini, sama seperti Imlek, Idulfitri dan juga Natal. Kalau saya bedanya tidak menyediakan menu makan berat dengan daging, karena saya tidak makan daging," ucapnya.

Perihal mudik, Putu berencana pulang ke kampung halamannya di hari kedua usai Nyepi. Maka tak heran jika, sehari penuh dia sibuk menerima tamu. (nana arianto/balasa)