PT GAN Diduga Cemari Lingkungan

Kubu Raya

Editor elgiants Dibaca : 389

PT GAN Diduga Cemari Lingkungan
ilustrasi
 KUBU RAYA, SP – PT Graha Agro Nusantara diduga mencemari lingkungan dengan limbah hasil pabrik sawit mereka. Perusahaan ini beroperasional di Dusun Buntung Limbung, Desa Muara Baru, Kecamatan Sungai Raya, dan Desa Teluk Bakung, Kecamatan Sungai Ambawang, Kubu Raya.

Salah satu mantan karyawan perusahaan, membeberkan telah terjadi kesalahan fatal yang dilakukan manajemen perusahaan, terkait pengolahan limbah. Oktober 2018 lalu, petugas Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) memantau pengolahan limbah di perusahaan tersebut.

Kedatangan mereka untuk melihat tindak lanjut sanksi administratif dari KLHK Indonesia yang tertuang dalam SK.4041/Menlhk-PHLHK/PPSA/GKM.0/6/2018, tentang Penerapan Sanksi Administratif Paksaan Pemerintah. Celakanya, saat bersamaan pihak perusahaan telah membuang limbah ke kolam penampungan yang belum dilapisi bio membran. 

"Dua bulan lalu ada jebol. Jadi saat kunjungan KLHK, anggota saya disuruh nembak limbah kolam yang belum dilapis geomembrane, karena kalau di lahan gambut kan kolam penampungan harus dibeton atau dilapisi geomembrane," ceritanya, Rabu (13/3).
Geomembrane merupakan lembaran plastik berbahan kaku yang kedap air.

Lima kolam yang belum dilapisi itu dipenuhi limbah. Perusahaan sengaja melakukan ini.
"Celakanya itu pada saat KLHK datang, kan tidak boleh itu karena lahan gambut. Kolamnya belum dilapisi," ucapnya.  Namun dalam berita acara pengawasan sanksi tersebut, hal itu tidak dijadikan temuan. “Itu tidak dijadikan temuan, bahwa di situ sudah dikondisikan oleh perusahaan," ungkapnya. 

Volume kolam limbah yang ada tidak akan sanggup menampung limbah karena banyaknya produksi. Otomatis, kolam yang belum dilapisi geomembrane tersebut diisi.
“Sistem kita pakai Izin Pembuangan Limbah Cair, jadi limbahnya dibuang ke sungai sesuai izin kita tertuang pada RKL-RPL. Karena lokasi gambut, limbah tak boleh buang ke lahan atau aplikasi ke kebun,” sebutnya.

Selain itu, dalam Rencana Pengelolaan Lingkungan Hidup dan Rencana Pemantauan Lingkungan Hidup (RKL/RPL) perusahaan tidak mengambil sampel air sebagaimana mestinya sebagai data awal. 
“Ini semakin menguatkan bukti bahwa air telah tercemar," pungkasnya.

Dari Berita Acara Pengawasan tertangga 18 Oktober 2018 itu, memang menunjukkan sebagian besar sanksi administratif dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan dijalankan.

 Pengawasan penataan pelaksanaan sanksi administratif dilakukan Pengawas Lingkungan Hidup Ahli Muda, Jetro Situmorang, dan Agung Budi Prabowo yang bertindak sebagai Pengawas Lingkungan Hidup. Beberapa poin yang disebutkan misalnya, kewajiban pengujian kualias air sungai.

Dari delapan titik pantau, kualitas air sungai berada di atas ambang batas. Analisa kualitas air ini dilakukan pada bulan Juni 2018 oleh Laboratorium Sucofindo.

Perihal penggunaan geomembrane, dalam berita acara disebutkan perusahaan menggunakan geomembrane sebagai pengganti beton. Penggunaannya berdasarkan surat rekomendasi dari Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup, tertanggal 29 Juni 2018.

Ketika itu, geomembrane baru terpasang di tujuh dari 12 kolam Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang ada.
Dalam sanksinya, perusahaan diminta menghentikan kegiatan penanaman sawit di areal gambut yang merupakan fungsi lindung ekosistem gambut. Dalam pantauan Peta Areal Statement atau Peta Tahun Tanam PT GAN menunjukkan penanaman terakhir dilakukan 2017. Dari pengamatan visual dan foto udara, menunjukkan larangan tersebut dipatuhi.

Soal perintah pemulihan fungsi hidrologis kawasan ekosistem gambut sesuai perundangan, perusahaan mengacu pada SK Dirjen Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan No. SK. 115/PPKL/PKG/PKL.0/12/2017. Sumur pantau tinggi muka air, hingga sekat kanal sudah mereka bangun.

Perusahaan itu memang memiliki Izin Penyimpanan Sementara Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun (B3). Tempatnya dilengkapi papan nama, titik koordinat, APAR dan persyaratan lain. Namun, masih belum memiliki Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan keadaan darurat limbah B3.

Mereka memang memiliki izin pembuangan air limbah ke media air. Limbah mereka dikelola dalam IPAL dengan baku mutu yang disesuaikan dengan Permen LH Nomor 5 Tahun 2014. Namun saat diambil sampel air limbah pada kolam mixing pond (kolam 7), hasil ujinya menunjukkan air limbah memiliki parameter yang melebihi baku mutu.

Di antaranya pH, COD, BOD5 dan TSS.
Perusahaan pun hanya mencatat debit harian air limbah pada inlet, sedangkan pada outlet belum diukur dengan alasan belum ada air limbah yang sampai outlet IPAL. Division Head Sustainability PT Graha Agro Nusantara, Bia Ganesha menegaskan pihaknya sudah menguji kualitas limbah dan lain sebagainya.

Semuanya terkait dengan operasi perkebunan dan pengolahan hasil kebun di pabrik yang mereka miliki. "Kita sudah uji kualitas limbah dan hasilnya sudah kita laporkan," ucapnya.

Sedang hasil ujinya, dia kurang hafal lantaran berbentuk angka. Perihal limbah yang mencemari sungai, dia belum mendapat laporan. "Soal limbah, saya belum ada terima dokumen aduan soal itu. Yang pasti kalau limbah itu, harusnya sesuai sehingga bisa dilaporkan. Selama tidak sesuai kita akan uji ulang," lanjutnya.

Perusahaan memang sudah tidak lagi menanam sawit, namun bukan karena adanya perintah penghentian penanaman di lahan gambut. "Memang kita sudah tidak ada keinginan untuk menanamkan lagi di lahan gambut. Jadi yang ada saja kita pelihara, tidak ada pemekaran, dan tidak ada penambahan lagi," tegasnya.

Aktivitas pengolahan hasil kebun di pabrik tetap berjalan karena tidak ada masalah. Penyetopan hanya pada penanaman baru. Bukan karena diberhentikan, namun memang menghentikan diri.

Sementara itu, pihak Sucofindo yang diwakili oleh Penanggulangan Jawab Laboratorium, Rusdi Palureng membenarkan pihaknya menerima pemeriksaan oleh perusahaan terhadap kualitas limbah. Namun mereka bekerja dengan dua metode. Pertama memeriksa langsung di lapangan. Kedua, hanya menerima sampel yang dibawa perusahaan.

Untuk perusahaan PT GAN, pihaknya hanya menerima hasil sampel saja. Artinya bukan mereka yang memeriksa langsung. “Kasus ini, pihak perusahaan yang mengambil contoh. Kalau kita yang turun ke lapangan itu kebanyakan sampling ambil di udara. Intinya hasil ini di luar tanggung jawab Sucofindo, " pungkasnya.

Lihat Sungai


Akademisi Teknik Lingkungan Universitas Tanjungpura Pontianak, Kiki P Utomo menjelaskan perusahaan selalu menghasilkan limbah dalam setiap kegiatan produksinya. Jika sampai beroperasi, atau izin operasionalnya keluar,

sudah bisa dipastikan perusahaan tersebut memiliki pengolahan limbah. Atau setidaknya sudah pernah mengajukan rencana untuk memiliki pengolahan limbah. Karena salah satu persyaratan pendirian sebuah perusahaan adalah, adanya rencana pengolahan limbah dari kegiatan tersebut. Hanya

saja, ketika izinnya sudah terbit, apakah pengolahan limbahnya dilaksanakan dengan benar, hanya bisa diketahui ketika dipantau rutin langsung ke sungai dan pengolahan limbah. “Dari sisi hukum kewajiban sebuah perusahaan memiliki pengolahan limbah menjadi sebuah hal yang wajib. Dari sisi perizinan, jika sebuah izin terbit, bisa dipastikan perusahaan tersebut memiliki IPAL,” katanya.

Hanya mungkin persoalannya, pemeriksaan harus berkala. Tak jarang, sungai menampung aliran dari berbagai sumber dan kegiatan yang tidak hanya satu. Yang harus dilakukan adalah ditelusuri sumbernya, bisa jadi dari sumber lain.

Ada metode untuk mengetahui asal pencemaran tersebut namun harus dilakukan sesegera mungkin sebelum pencemarannya hilang. Setelah itu dicek, apa sebenarnya yang terjadi.

Apakah kelalaian misalnya IPAL rusak dan tidak diperbaiki, kesengajaan IPAL tidak difungsikan, atau bencana alam. Hujan lebat misalnya, akan berdampak pada meluapnya IPAL. “Sebenarnya yang harus dilakukan adalah menempatkan kasus ini pada kajian yang seimbang dan ilmiah, artinya dilihat dari sumbernya, kapan munculnya dan kenapa bisa terjadi,” katanya.

Dampaknya yang dirasakan, tergantung dari limbah yang dibuang. Misalnya bahan organik tentu akan berpotensi memacu banyaknya bakteri di dalam air. Sehingga akan menimbulkan dampak kesehatan misalnya penyakit kulit. Tapi jika yang dibuang adalah limbah yang mengandung logam, akan mengganggu kesehatan dalam jangka panjang. (din/nak/bls)