Cetak Warga Binaan Jadi Wirausaha

Kubu Raya

Editor elgiants Dibaca : 52

Cetak Warga Binaan Jadi Wirausaha
ANYAM ROTAN – Seorang warga binaan Lapas Kelas IIA Pontianak, Akim (28) tengah mengayam rotan sintetis sebagai usahanya di Lapas, kemarin.
PONTIANAK, SP – Kementerian Perindustrian (Kemenperin) RI terus berupaya mendorong Industri Kecil dan Menengah (IKM) tanah air untuk tumbuh produktif, berdaya saing dan mampu menguasai pasar baik domestik maupun internasional. 

Oleh karena itu, Kemenperin selalu berusaha untuk mendorong Sumber Daya Manusia agar lebih terampil sehingga memiliki daya saing yang tinggi, tidak terkecuali warga binaan Lembaga Pemasyarakatan. 

Salah satu upaya tersebut yaitu dengan melaksanakan kegiatan Bimbingan Teknis Pembuatan Kerajinan Kayu bagi warga binaan Lembaga Pemasyarakatan di Pontianak, Kalimantan Barat 

Hal ini diungkapkan Direktur Industri Kecil Menengah Kimia, Sandang, Kerajinan dan Industri Aneka, E Ratna Utarianingrum, Senin (13/5). 

Dikatakan bahwa kegiatan ini merupakan tindak lanjut dari Nota Kesepahaman antara Direktorat Jenderal Industri Kecil, Menengah, dan Aneka dengan Direktorat Jenderal Lembaga Pemasyarakatan tentang Peningkatan Pembinaan dan Bimbingan Kemandirian Warga Binaan Permasyarakatan.
 
Diharapkan setelah mengikuti bimbingan teknis ini peserta warga binaan dapat memiliki keterampilan dan kemampuan yang baik dalam proses produksi pembuatan kerajinan kayu menjadi barang seni yang kreatif maupun untuk peningkatan kualitas dan finishing produk. Sehingga setelah selesai masa tahanannya nanti para warga binaan dapat memanfaatkan ilmu yang telah didapatnya sebagai bekal menjadi wirausaha baru.
 
Bimbingan teknis Pembuatan Kerajinan Kayu ini dilaksanakan selama enam hari, dari 13 Mei hingga 18 Mei 2019. Kegiatan ini diikuti sebanyak 30 orang peserta yang berasal dari warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA.
 
“Kami sudah melakukan kegiatan ini untuk menyiapkan bagaimana para warga binaan ini menjadi wirausaha baru di sektor industri. Jadi, hari ini warga binaan fokus kerajinan kayu, diversi modifikasi produk, tentunya dengan tujuan agar ketika warga binaan ini bebas dari lapas maka dapat menggerakkan ekonomi,” ungkapnya.

Pemilihan peserta cukup selektif. Kata Ratna, yang dipilih hanya warga binaan yang memiliki bakat dan minat, minimal ketika warga binaan ini sudah keluar dari lapas diharapkan telah memiliki keterampilan khusus dan dapat mengembangkannya di UMKM. 

Dari 30 warga binaan yang mengikuti pelatihan ini, Akim (28) salah satunya. Dirinya masuk ke Lapas Kelas IIA Pontianak sekitar dua tahun yang lalu. Diceritakan dia, narkoba menjerat dirinya hingga masuk di lapas ini.

Meskipun begitu, hal tersebut tidak membuat patah semangatnya untuk tetap produktif. Di dalam lapas, dirinya mengembangkan potensi dirinya di kerajinan tangan kayu, yaitu membuat laci rak.

Laci rak ini, jika dilihat secara umum seperti meja tempat untuk meletakkan berbagai barang seperti TV, hiasan rumah tangga dan lain-lain. Di bawahnya terdapat rak yang bisa dimuat untuk barang-barang lainnya. Hanya saja perbedaannya, laci rak ini dibuat dengan kayu kemudian dilapisi rotan sintetis.

Kata Akim, untuk menyelesaikan satu rak dirinya membutuhkan tiga hari bekerja sedangkan untuk lacinya sendiri dalam satu hari mampu dibuat satu hingga dua laci. Untuk jam kerja sendiri dimulai dari pukul 11.00 wib. Ketika waktu sudah menunjukkan pukul 12.00 wib, maka dirinya akan istirahat dan kemudian dilanjutkan dari pukul 13.00 wib hingga 16.00 wib. Aktivitas itu, setiap hari ia lakukan.

Sudah hampir berjalan satu tahun dirinya menekuni kerajinan tangan ini. Dan kurang lebih satu tahun lagi dirinya akan keluar menghirup udara segar di luar sana. Keterampilan yang sudah ditekuninya ini rencananya akan dia kembangkan. 

“Kalau ada modal maka nantinya akan buka usaha di rumah sendiri, karena di sini sudah dapat pengalaman,” tutupnya. (sms/bah)

Banyak Berusia Produktif

Kepala Lapas Kelas II A Pontianak, Farhan Hidayat mengapresiasi pelatihan itu. Hal ini memandang di Lapas Kelas IIA Pontianak sendiri masih cukup banyak warga yang berusia produktif. Tentu hal ini akan berpengaruh pada kondisi warga tersebut jika sudah keluar dari lapas.

Seperti yang sebelumnya dijelaskan Ratna, warga yang mengikuti pelatihan ini merupakan warga binaan yang memiliki bakat dan minat. Meskipun begitu, tidak menutup kemungkinan warga binaan yang dijatuhkan vonis hukuman seumur hidup pun ada yang ikut serta.  

“Untuk 30 orang ini memiliki variasi hukumannya, ada yang masih tersisa tiga tahun bahkan ada satu orang yang hukuman seumur hidup,” ungkapnya.

Sebab, dijelaskan Farhan, bukan hanya di luar saja warga binaan ini bisa berguna, di dalam lapas pun tetap akan berguna. 
“Jika dia punya kemampuan, maka dia punya penghasilan dan akan mampu menafkahi keluarganya. Jadi, jika dia hukuman mati atau lainnya, jika dia berminat maka kita persilakan,” ungkapnya.

Hal ini tentu saja dari aturan bagi hasil yang dikelola oleh lembaga kemasyarakatan Lapas Kelas IIA Pontianak, yang mana warga binaan akan mendapatkan sebanyak 50 persen dari bersih hasil penjualan. (sms/bah)