Kamis, 12 Desember 2019


Pengembangan Inovasi Jagung Sukses

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 215
Pengembangan Inovasi Jagung Sukses

PANEN JAGUNG – Petani memanen jagung di sebuah daerah. Di Kubu Raya, jagung dikembangkan inovasi budidayanya di lahan gambut Agropolitan Rasau.

KUBU RAYA, SP - Duta Besar Kanada untuk Indonesia dan Timor-Leste, Peter MacArthur menyampaikan apresiasi kepada Pemprov Kalbar dan Pemkab Kubu Raya atas kesuksesan mengembangkan inovasi budidaya jagung dan produk olahan turunannya melalui pertanian terintegrasi di lahan gambut Agropolitan Rasau Kabupaten Kubu Raya.

“Atas nama Pemerintah Kanada, saya mengucapkan selamat kepada seluruh jajaran pemerintah daerah dan mitra atas kesuksesan pengembangan inovasi ekonomi daerah yang coba kami dorong melalui program RIF (Responsive Innovation Fund)," ucap Peter MacArthur saat menghadiri makan malam bersama pejabat Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat di Pendopo Gubernur Kalimantan Barat, Selasa (16/7).

Pengembangan inovasi jagung itu merupakan proyek National Support for Local Investment Climates/National Support for Enhancing Local and Regional Economic Development (NSLIC/NSELRED) kemitraan antara Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas dan Pemerintah Kanada melalui Global Affairs Canada (GAC). 

Program itu dilaksanakan melalui skema program Dana Inovasi Responsif atau Responsive Innovation Fund (RIF) April 2018-Juni 2019.  

Peter MacArthur mengatakan pihaknya sangat bahagia mengetahui banyak kemajuan dan prestasi telah diraih Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat. Upaya membuka lapangan kerja baru dan meningkatkan pendapatan bagi masyarakat berbasis pengembangan komoditas jagung di kawasan Agropolitan Rasau Raya menunjukkan perkembangan yang membanggakan. 

"Pada kesempatan ini, kami juga ingin mengucapkan selamat dan terima kasih kepada seluruh mitra di tingkat nasional yang dikoordinasi oleh Kementerian PPN/Bappenas, atas dukungan dan sumber daya untuk pelaksanaan program RIF di tingkat daerah," katanya.

Ia juga berharap berbagai inovasi yang dipilih akan sukses dan dapat berkontribusi bagi pengembangan ekonomi di daerah masing-masing.

Sementara Deputi Bidang Pengembangan Regional, Kementerian PPN/Bappenas, Rudy Soeprihadi Prawiradinata mengatakan, agenda pembangunan nasional yang tertuang dalam RPJMN menegaskan pentingnya kebijakan, program dan kegiatan yang nyata dan terukur untuk mendorong percepatan pembangunan perdesaan dan daerah. 

Ia menjelaskan, pengembangan ekonomi lokal merupakan penopang utama kinerja perekonomian nasional. Selaras dengan tujuan tersebut, pemerintah daerah dipandang mampu melakukan berbagai inovasi pembangunan ekonomi jika ditunjang dengan dukungan teknis dan perangkat yang tepat.

“Pembangunan kawasan perdesaaan merupakan salah satu sasaran pokok yang mendukung pengembangan pusat-pusat pertumbuhan baru untuk mempercepat pembangunan daerah dan mengurangi kesenjangan pembangunan antar-wilayah, yang dilakukan melalui pengembangan ekonomi lokal berbasis produk unggulan masing-masing daerah terpllih,” katanya.

Ia menyampaikan program RIF dari NSLIC/NSELRED dirancang sebagai dukungan teknis pembangunan bagi 18 Kawasan Perdesaan Prioritas Nasuonal (KPPN) melalui seleksi dari 60 KPPN yang merupakan hinterland dan 39 pusat penumbuhan peningkatan keterkaitan kota-desa sebagai salah satu sasaran pembangunan wilayah pada RPJMN 2015-2019.

Sebagai komponen proyek NSLlC/NSELRED yang dikelola oleh cowaterSogema internasional, program RIF senilai Rp 18 miliar berlangsung dalam tiga tahap mulai 2018 hingga 2020 dengan memilih enam usulan inovasi dari enam kabupaten setiap tahunnya. 

"Pelaksanakan program RIF diharapkan dapat menjadi inisiatif strategis guna mendukung pencapaian RPJMN 2015-2019 dan 2020-2024," ucapnya.

Dirinya menyampaikan dalam pelaksanaan dengan RIF, digalang kerja sama dengan pemerintah daeerah, Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (BAPPEDA), Badan Perencanaan Pembangunan, Penelitian dan Pengembangan Daerah (BAPPELITABANGDA, Badan Usaha Milik Daerah (BUMDA, BUMNEGMA, BUMDESMA dan BUMDES), UMKM serta para pemangku kepentingan lainnya untuk menciptakan inovasi pembangunan ekonomi daerah yang ramah lingkungan, responsif gender serta bertata kelola yang baik. 

Panen Meningkat

Melalui program RIF, diharapkan dapat menstimulasi dan mendorong inovasi pembangunan ekonomi lokal dan meningkatkan iklim investasi melalui pendekatan-pendekatan inovatif untuk pengembangan produk dan sektor ekonomi yang dipilih oleh pemerintah daerah terkait.

Dukungan program RIF khusus untuk pengembangan Kawasan Agropolitan Rasau Raya di Kabupaten Kubu Raya secara umum dilaksanakan melalui empat komponen kegiatan. 

Pertama, pengembangan kapasitas kelembagaan. Kedua, pengembangan inovasi produk (meliputi budidaya pertanian dengan inovasi lahan gambut menjadi lahan produktif, manajemen produksi jagung olahan, peningkatan standarisasi kualitas, pemenuhan perizinan dan seniflkasi produk, desain, pengemasan dan aplikasi produk turunan). 

Ketiga, ekspansi pasar dan perluasan jaringan pemasaran melalui BumDesmart milik BumDesMart Maju Bersama Rasau Raya dan MyAgro. Keempat, menciptakan peluang kerja yang adil bagi laki-laki dan perempuan.
 
"Sejak dilaksanakan Maret 2018 hingga April 2019, program RIF untuk pengembangan kawasan Agropolitan Rasau Raya telah menghasilkan banyak kemajuan yang membanggakan," jelasnya.

Rudy mengatakan sekitar 1.591 penerima manfaat terdiri atas 653 perempuan dan 938 laki-laki yang meliputi pemerintah daerah, pengelola kawasan, akademisi, lembaga penelitian, sektor swasta dan kelompok masyarakat (meliputi kelompok tani, peternak sapi, kelompok perempuan dan UMKM lokal) telah mendapatkan pendampingan melalui berbagai pelatihan dan dukungan teknis.

Terkait pengembangan produk lokal, lanjut Rudy, inovasi dalam pengelolaan lahan gambut menjadi lahan produktif melalui perlakuan (innovation) khusus yang dilakukan bekerjasama dengan Universitas Tanjungpura dan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Provinsi Kalimantan Barat, melalui aktivasi Klinik Pertanian telah memangkas rantai produksi dengan tingkat efisiensi biaya hingga 51 persen dengan proses penanaman bibit menjadi lebih mudah dan singkat. 

Diperkirakan setelah pengolahan, lahan gambut dapat memanen 7-8 (tujuh sampai delapan) ton jagung per hektare, melebihi 2-3 (dua sampai tiga) ton per hektare (sebelum treatment (perawatan). 

Potensi peningkatan hasil produksi jagung mencapai 87 persen dan tingkat pendapatan naik 146 persen (dari Rp 12,6 juta menjadi Rp 31 juta setiap masa panen jagung). (din/bah)