Tingkatkan Pertanian dan Peternakan lewat Rumah Pintar

Kubu Raya

Editor K Balasa Dibaca : 118

Tingkatkan Pertanian dan Peternakan lewat Rumah Pintar
Warga Desa Teluk Empening, Kecamatan Terentang, Kubu Raya mulai menerapkan budidaya lele dengan sistem biflok. Cara itu didapatnya dari Youtube yang mulai bisa diakses sejak adanya Rumah Pintar.
Kehadiran Rumah Pintar di Dusun Kelola Jaya, Desa Teluk Empening, Kecamatan Terentang, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat memberikan perubahan bagi masyarakat. Dari sana mereka membuka pengetahuan dunia. Terutama untuk mengembangkan pertanian dan peternakan yang jadi andalan warga.

Arpandi kini membangun sebuah wadah bioflok berdiameter tiga meter. Sebuah teknologi ternak lele dengan memanfaatkan mikroorganisme untuk mengolah limbah ikan itu sendiri. Mikroorganisme akan mengubah kotoran lele jadi gumpalan-gumpalan kecil atau flok.

Di dalamnya, terkandung berbagai mikroorganisme air seperti bakteri, algae, fungi, protozoa, metazoa, rotifera, nematoda, gastrotricha dan organisme lain yang tersuspensi dengan detritus. Semua akan jadi makanan alami lele.

Alhasil, biaya pakan berkurang. Produktivitas meningkat. Cara ini dipelajarinya berkat jaringan internet di Rumah Pintar. Mantan Kades Teluk Empening periode 2007-2014 ini pun menyalurkan ilmu itu ke warga lain. Dari urusan pemerintahan, dia beralih ke pemberdayaan masyarakat.

"Ilmu itu saya dapatnya dari menonton tutorial di Youtobe, ditambah lagi dengan pendampingan PPL (Petugas Penyuluh Lapangan). Jadi saya dan masyarakat lain memanfaatkan internet ini," ceritanya, Rabu (7/8).

Dengan cara lama, hanya ratusan lele yang berhasil dibudidayakan. Kini, jumlahnya mencapai 3.000 ekor. Sistem bioflok itu dipadukan dengan cara padat tebar. Inovasi yang cocok untuk daerah miskin air seperti desanya.

“Ada ramuannya, ada jamunya, sehingga dengan 3.000 ikan dalam bioflok ini tidak mabuk. Itu dari saya belajar di Youtube ditambah dengan dampingan dari dinas, tapi detailnya dari Youtube,” ungkapnya.

Permasalahan air memang jadi kendala. Meski dekat aliran Sungai Kapuas, sumber daya satu ini tak bisa dipakai cuma-cuma. Harus ada pengubahan pH air. Internet kembali beri jawaban.

Warga belajar menggunakan pupuk kandang dan batang pisang jika ingin pH berada di kisaran lima atau tujuh. Bila perlu lebih tinggi, tinggal dicampur daun pepaya.

“Itu semua mungkin sudah pernah disampaikan oleh PPL, namun mungkin tidak ingat, tapi dengan Youtube bisa di-download dan bisa ditonton lagi," kata Arpandi.


Tidak hanya budidaya lele, dari Youtube mereka belajar membuat alat pertanian sederhana. Misalnya springkler yang digunakan untuk menyiram tanaman. Di toko pertanian, harganya mencapai ratusan ribu. Namun dengan beragam video inovasi di Youtube, modal empat ribu pun dapat. Sisanya, pakai bahan di sekitar rumah.


Mereka pun berhasil memodifikasi traktor yang bisa berfungsi layaknya pompa air.

"Kalau mesin pompa dibawa kan berat, tapi dengan model ini jadi lebih mudah mau dibawa ke mana pun gampang," ujarnya.

Sebagai salah satu desa penghasil jahe, penyakit busuk rimpang yang disebabkan jamur jadi musuh tahunan. Warga lantas mencoba cari cara mengatasinya di mesin pencarian Google. Fungisida organik lantas jadi istilah baru yang dipelajari.

Sebelumnya, jika penyakit ini menyerang, hanya ada dua kemungkinan. Pertama, menggunakan bahan kimia. Kedua, mencabut tanaman agar tidak menggangu jahe lain. Namun kedua cara ini tak efektif. Harga obat hama jahe terus melonjak. Sementara, pencabutan tanaman tak sepenuhnya berhasil.


"Sekarang kita sudah belajar diobati dengan cara fungisida organik. Kita belajar juga bagaimana penggunaannya tepat waktu, tepat cara. Itu dari Youtube kita belajar," tambahnya.

Jahe-jahe yang sebelumnya dijual mentah pun, kini tengah dibikin industri olahannya. Sebagian dijadikan tepung, sisanya permen. Akan tetapi masih terbatas untuk konsumsi warga. Hanya untuk jual beli bahan mentah, tak perlu lagi ke tengkulak. Konsumen dan petani bisa langsung terhubung lewat telepon atau aplikasi WhatsApp. Belakangan, ponsel warga pun ikut berkembang.

Satu yang menarik dan selalu jadi momok di Kalbar dalam pertanian, adalah pembersihan lahan. Warga Desa Teluk Empening kini sudah tidak menerapkan bakar lahan untuk proses itu. Mereka beralih ke metode drumling atau drum berguling.

Semua bermula dari kebakaran besar tahun 2015. Ketika membuka lahan untuk tanam padi, cara lama masih dipakai. Sialnya, angin terlalu kencang hingga api tak terkontrol. Jago merah tak hanya melahap calon sawah, tapi juga tanaman di lahan sebelah.

"Sejak itu masyarakat trauma, sampai akhirnya ketemulah metode ini," ujar warga lain, Deni Dariansyah.

Jika perubahan sebelumnya didapat dari jelajah Youtube, kini dari Facebook. Deni berkomunikasi dengan petani daerah lain di fasilitas pesan instan. Petani itu sudah lama menerapkan drumling dan ketika dihitung, justru lebih murah dan efisien.

"Nantinya drum akan diisi air, kemudian digulingkan ke lahan yang rumputnya sudah mengering, disemprot racun. Cara ini berguna untuk meratakan rumput," ujarnya.

Tak hanya mempermudah pembukaan lahan, hamparan rumput yang diratakan menyatu dengan tanah dan berubah jadi pupuk.

"Gulma yang telah mati juga dapat melebur menjadi pupuk," ungkapnya.

Bukan hanya urusan peternakan dan pertanian, layanan jasa pun jadi buah dari menekuni internet. Julianto misalnya, belajar membuka bengkel dari modal nonton Youtube. Sebelumnya, bengkel terdekat ada di kecamatan. Satu setengah jam jaraknya dari rumah.

"Sekarang padat pekerjaan saya betulkan motor. Sambil buka di Youtube lah," ujar petani yang nyambi jadi montir ini.

Semua kemudahan itu didapat setelah Rumah Pintar berdiri tahun 2015. Dua buah komputer tersedia dengan sambungan internet. Warga bisa gratis menggunakan. Namun sementara jaringannya hanya mampu menanggung lima sampai sepuluh pengguna. Sebelumnya, hanya ada satu provider telekomunikasi yang menjangkau desa. Sinyalnya masih 3G.

Maklum, untuk sampai lokasi, butuh satu setengah jam berkendara motor dari dermaga di Desa Sungai Asam, Kecamatan Sungai Raya. Sementara jika ingin menggunakan motor air, bisa lewat dermaga Desa Sungai Durian, Kecamatan Rasau Jaya dengan jarak tempuh tiga setengah jam.

Rumah Pintar dibangun usai Kades Teluk Empening, Muhammad Firdaus mengajukan jaringan internet ke Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Kubu Raya. Awalnya, dia hanya ingin bisa mempromosikan potensi desa secara daring. Selain jangkauan luas, cara ini lebih murah dan mudah.

“Kebutuhan desa semakin berkembang, dan tuntutan laporan harus menggunakan online. Tapi kami mengikuti perkembangan. Di tahun 2010 kami sudah buat website desa dengan alamat 
Telukempening.blogspot.com," ungkap Firdaus.


Rumah Pintar memiliki konsep wadah penyedia ilmu masyarakat. Baik itu soal bertani, beternak atau hal lain yang dibutuhkan. Masyarakat pun dibebaskan menggunakan fasilitas. Selain urusan pendapatan, sarana ini turut dimanfaatkan siswa. Ilmu tak hanya didapat dari buku yang dibeli dari sekolah, namun juga beragam sumber di internet.

"Setiap malam tak pernah sepi di Rumah Pintar itu. Namun yang perlu diketahui, akses internet dibatasi hingga pukul sepuluh malam saja. Hal ini untuk memastikan agar siswa dan masyarakat bisa menggunakan internet secara cerdas," ungkapnya.

Layanan Rumah Pintar itu pun membuat Desa Teluk Empening diganjar dua penghargaan. Di antaranya, nominasi Desa Transparansi dari Kemendesa dan peringkat pertama Desa Internet Terinovatif dari Kominfo Kabupaten Kubu Raya tahun 2018.

PPL Terbantu


Petugas Penyuluh Lapangan, Yusuf Nurwanto mengatakan apa yang didapat warga dari Youtube, hampir semuanya berhasil diterapkan. Kerjanya di daerah itu sejak 2011 pun terbantu.

"Petani semakin pintar, kami tinggal mendampigi saja," ungkapnya.

Bahkan, salah satu petaninya berhasil jadi pendorong penggunaan transplanter padi atau alat penanam bibit padi dengan jumlah, kedalaman, jarak dan kondisi penanaman yang seragam. Sebelumnya, belum ada yang menggunakannya di Kubu Raya.

“Saya usulkan ke Dinas Pertanian dan sekarang sudah dianggarkan. Untuk Desa Teluk Empening ada  empat buah," katanya.

Dengan metode lama, petani akan sulit pendapatkan pelatihan intensif. Pasalnya dalam setahun, hanya diagendakan satu kali. Itu pun dengan kuota dua orang. Namun adanya internet buat warga bisa belajar dan mengulang materi kapan saja.

Keberhasilan Masyarakat


Akademisi Universitas Tanjungpura Pontianak, Zulkarnaen menilai peningkatan kapasitas dan kemampuan masyarakat berkat keberadaan Rumah Pintar, menunjukkan keberhasilan mereka memanfaatkan teknologi yang masuk desa. Pasalnya, banyak penyalahgunaan internet, yang justru tak berdampak positif.

“Ini menjadi keberhasilan masyarakat dalam rangka menuju desa yang mandiri. Masyarakat bisa menggunakan internet itu untuk kebutuhan mereka, entah itu dari Youtube maupun website dan langsung diimplementasikan,” ungkapnya.

Walau belum berdampak ke Pendapatan Asli Desa, lambat laun hasilnya akan nyata. Proses itu masih butuh waktu.

“Seperti pembangunan bioflok itu, artinya masyarakat mulai mengarah pada kemajuan teknologi,” pungkasnya. (suria mamansyah/balasa)