Kamis, 21 November 2019


Warga Pontianak 'Ngungsi' Ke Kubu Raya

Editor:

Kiwi

    |     Pembaca: 3359
Warga Pontianak 'Ngungsi' Ke Kubu Raya

MEMPRIHATINKAN – Pasangan suami istri dan empat anaknya harus tinggal di gubuk dari seng bekas kandang ayam untuk bertahan hidup. Mereka mendirikan gubuk di sebidang tanah di Desa Mega Timur, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya.

KUBU RAYA - Lena dan suami beserta empat anaknya harus tinggal di sebuah gubuk dengan seng bekas kandang ayam di Jalan Tani, Desa Mega Timur, Kecamatan Sungai Ambawang, Kabupaten Kubu Raya. Warga Kelurahan Siantan Hulu, Pontianak Utara, Kota Pontianak ini dulunya tinggal di Gang Bentasan, Jalan 28 Oktober, Pontianak.

Keluarga ini terpaksa pindah karena rumah mertua yang sebelumnya mereka tinggali, telah dijual dua bulan lalu. Keterbatasan ekonomi buat mereka tak punya pilihan. Sang suami kerja serabutan. Anaknya bahkan putus sekolah.

“Kami tinggal di sini baru dua bulan, dan tanah yang kami dirikan gubuk ini juga punya warga yang prihatin dengan kondisi kami, karena kalau ngontrak rumah, kami tidak mampu," ungkapnya, Jumat (11/10).

Lena melanjutkan, pembangunan rumah itu pun dengan memanfaatkan bantuan warga-warga lain dengan menumpangkan tanah serta memberikan seng bekas kandang ayam.

"Seng juga dikasih orang bekas kandang ayam. Untuk kayu-kayunya, saya sama suami mencari pohon di hutan," tuturnya.

Lena tak kuasa menahan tangis. Apalagi ketika menceritakan keempat anaknya yang masing-masing berusia 15 tahun, 14 tahun, 5 tahun dan 1 tahun. Anak tertuanya putus sekolah sejak dua tahun lalu lantaran tidak ada biaya. Sedangkan, anak keduanya, masih sekolah menengah pertama kelas VII di SMPN 28 Pontianak. Namun terancam putus sekolah karena harus membantu ekonomi keluarga.

"Sehari-hari, saya ke hutan mencari ubi dan sayur pakis untuk dijual dan dimakan," terangnya.

Penghasilannya, kurang lebih sebesar Rp10 ribu per hari, sementara suaminya bekerja sebagai buruh lepas.

Lena berucap, yang paling mengkhawatirkan adalah saat musim hujan seperti sekarang. Anak-anak harus mencari posisi duduk dan tidur agar tidak terkena hujan. Situasi itu diperparah dengan kondisi anak pertamanya yang sering demam karena pernah terjatuh.

Saat ini saja, Lena bercerita telah empat hari mengalami diare dan tidak bisa berobat karena tidak memiliki biaya dan BPJS Kesehatan.

"Saya berharap pemerintah memberi perhatian dan bantuan untuk sekolah anak dan biaya kesehatan mereka," ucapnya.

Terungkapnya cerita kehidupan Lena dan keluarganya berawal dari guru SMPN 28 Pontianak, Puji. Anak kedua Lena memang bersekolah di sana. Sang guru merasa perlu mengunjungi siswanya yang belakangan tak masuk kelas. 

"Kehidupan keluarga ibu Lena memang sangat memprihatinkan sehingga perlu mendapat perhatian, terutama pada tempat tinggal yang sangat tidak layak," katanya.

Sementara anggota DPRD Kota Pontianak, Yandi mengatakan kondisi ini menjadi kado tak menyenangkan jelang ulang tahun Kota Pontianak. Hal-hal semacam ini masih menjadi persoalan dan ditemukan di Kota Khatulistiwa.

Padahal, sejak lama di Pemkot Pontianak punya program yang menegaskan bahwa tidak boleh ditemukan anak-anak yang putus sekolah karena keterbatasan biaya. Bahkan dalam kebijakan tersebut, jelas menerangkan bahwa jika masih ditemukan, maka lurah setempat akan dicopot dari jabatannya.

“Dua tahun lalu kan ada program yang mengatakan bahwa tidak boleh ada anak yang putus sekolah. Lurahnya akan dicopot. Ini sudah dua tahun dia tidak sekolah,” ujarnya.

Yandi merasa prihatin. Dia berharap dengan adanya informasi ini aparatur pemerintah bisa mencarikan solusi. Apalagi masyarakat ini jelas merupakan warga Kota Pontianak.

Dia mengatakan lurah, RT dan RW sebagai aparatur terdepan semestinya bisa saling berkoordinasi mengenai persoalan ini sehingga bisa cepat dicarikan solusi. Dia beranggapan, selama ini pemerintah setempat belum bisa mengimplementasikan kebijakan itu dengan baik.

 “Kita memaklumi jika ada keterbatasan dalam menjangkau semuanya. Tapi minimal RT, RW ketika berkomunikasi, turun lapangan pasti terdata dan tahu. Kita tidak saling menyalahkan tapi bagaimana mencari solusi itu untuk membantu,” tegasnya.

Selain itu, dia juga meminta seluruh dinas terkait untuk pro aktif dalam mendata permasalahan ini. Sebab bisa jadi, keluarga tersebut bukan satu-satunya yang masih tinggal di rumah tak layak huni dan anak-anaknya putus sekolah karena keterbatasa biaya.

“Dinas-dinas terkait seharusnya bisa menanggulangi hal ini tidak terjadi lagi. Nah sekarang kita minta untuk segera dicarikan solusi, ayo kita kerjakan,” tegasnya. (ant/sms/bls)