Senin, 18 November 2019


Ini yang Dilakukan Kodam XII/Tpr untuk Wujudkan Program Langit Biru di Bumi Khatulistiwa

Editor:

Aep Mulyanto

    |     Pembaca: 71
Ini yang Dilakukan Kodam XII/Tpr untuk Wujudkan Program Langit Biru di Bumi Khatulistiwa

FGD Dilakukan Kodam XII/Tpr untuk Wujudkan Program Langit Biru di Bumi Khatulistiwa

KUBU RAYA, SP – Kodam XII/Tpr, menjadi salah satu satuan yang terus bertekad mewujudkan Program Langit Biru di Bumi Khatulistiwa. Program ini adalah bagian dari penanganan adanya bencana Kebarakan Hutan dan Lahan (Karhutla) di Provisni Kalbar.

Setelah beberapa waktu lalu melaksanakan komunikasi dan koordinasi dengan komponen masyarakat, Kodam XII/Tanjungpura, juga telah menyelenggarakan Focus Group Discussion (FGD). Kegiatan ini untuk mencari solusi yang tepat dalam penanganan Karhutla di Kalimantan Barat.

FGD tersebut digelar dengan para Civitas Akademika Kalbar, yang berlangsung di Aula Makodam XII/Tpr, Kubu Raya, Jumat (18/10/2019). FGD tersebut mengangkat tema, "Wujudkan Program Langit Biru di Bumi Khatulistiwa".

Kegiatan ini dibuka langsung oleh Pangdam XII/Tpr, Mayjen TNI Muhammad Nur Rahmad. Hadir sebagai nara sumber diantaranya, Pangdam XII/Tpr, Rektor Universitas Tanjungpura, Prof. Dr. Garuda Wiko, S.H.,M.Si., Dosen Politeknik Negeri Pontianak, Revi Sesario, S.Hut.,MM., Presiden Mahasiswa Untan, Kaharudin. Sedangkan diskusi dipandu oleh moderator saudari Nabila Husen.

Saat memberikan sambutan, Pangdam XII/Tpr, Mayjen TNI Muhammad Nur Rahmad mengatakan, Karhutla yang terjadi terus menerus setiap tahun sangat berdampak pada sendi-sendi kehidupan. Namun demikian penanganannya belum terintegrasi.

"Oleh karena itu program yang akan kita kerjakan yaitu Program Langit Biru di Bumi Khatulistiwa ini adalah salah satu bentuk solusi alternatif dalam penanganan Karhutla," kata Pangdam XII/Tpr.

Sedangkan saat menjadi narasumber, Mayjen TNI Muhammad Nur Rahmad menyampaikan, ada 25 kementerian yang terlibat dalam penanganan Karhutla. Sampai dengan saat ini terkesan masih melakukan upaya masing-masing.

"Untuk itu diperlukan sinergi Penthahelix, yaitu kerja sama antara pemerintah, akademisi, pelaku usaha, masyarakat dan media seperti yang kita lakukan saat ini," tegas Pangdam XII/Tpr.

Senada juga disampaikan oleh Prof. Dr. Garuda Wiko, S.H.,M.Si., bahwa di era modern manusia tidak dapat hidup sendiri. Begitu juga upaya penanganan Karhutla di Kalimantan Barat harus dilakukan semua pihak secara bersama-sama.

"Menangani karhutla diperlukan adanya saling kolaborasi dari semua pihak sehingga akan lebih efektif dan efisien," tutupnya. (*)