Minggu, 15 Desember 2019


Kopi, Buku dan Bincang Ringan Pecinta Karya Tulis

Editor:

Kiwi

    |     Pembaca: 1092
Kopi, Buku dan Bincang Ringan Pecinta Karya Tulis

PEKAN BAZAR – Ratusan judul buku dijual pada Pekan Bazar Buku dan Diskusi ‘Literasi untuk Peradaban’ yang digelar di Yudisial Kopi, Jalan Irian, Nomor 41, Senin (8/5) hingga Jumat (12/5) mendatang. Buku yang dijual merupakan karya penulis Kalbar dan lemba

Para pegiat literasi, buku mereka dan bedah karya akan disatukan dalam Pekan Bazar Buku dan Diskusi “Literasi untuk Peradaban”, mulai Senin (8/5) sampai Jumat (12/5) di Yudisial Kopi, Jalan Irian No 41, Kecamatan Pontianak Selatan. Di sana, siapa saja bisa membeli buku penulis lokal dengan beragam tema. Bahkan ikut pula dalam diskusi yang menghadirkan narasumber kaya cerita.

Di Kalimantan Barat, toko buku memang tidak jamak. Dan tidak semua karya penulis lokal dipajang di sana. Literasi Kalbar mungkin tak seperti Yogyakarta atau sejumlah daerah pulau Jawa.

Tapi bukan berarti hal itu terlambat. Jika mengutip kalimat dari salah satu buku Tan Malaka, Madilog, “Selama toko buku ada, selama itu pustaka bisa dibentuk kembali. Kalau perlu dan memang perlu, pakaian dan makanan dikurangi.”

Artinya literasi di Kalbar pun bisa bangkit untuk memulainya kembali. Menurut salah satu panitia, Pay Jarot Sujarwo, kegiatan ini diselenggarakan dalam rangka merespon semakin maraknya dunia literasi Kalbar.

Buku-buku lokal bermunculan, penerbit lokal, komunitas kepenulisan semakin aktif. Maka, perlu aktivitas sebagai tali silaturahmi antar penerbit, komunitas, dan penulis. “Sekaligus sebagai sarana berbagi pengetahuan tentang dunia kepenulisan dalam acara-acara diskusi yang digelar,” ceritanya kepada Suara Pemred, Senin (8/5).

Karya-karya yang hadir mulai dari sastra yang meliputi cerpen, novel, puisi, kumpulan cerita rakyat, sejarah dan lain sebagainya. Tak hanya acara diskusi, pertunjukan sastra pun akan ditampilkan. Walau idenya datang dari obrolan warung kopi yang lantas dieksekusi, geliat literasi ini patut diramaikan.

Tiap malam, dimulai dari Senin (8/5), Pay Jarot Sujarwo akan jadi pemateri diskusi dengan tema “Ideologi Sastra dan Sastra Ideologis”. Disusul esok malam dengan peluncuran buku kumpulan cerita “Redoks Cinta Kita” karya Sukarni. Pada Rabu (10/5) sore, giliran bedah karya cerpen penulis lokal oleh sosiolog Untan, Syf Ema Rahmania. Di hari yang sama, diskusi dilanjutkan oleh LPS AIR.

Sementara di malam hari keempat, akan akan diskusi buku puisi “Jalan Raya Merayakan Deritanya” tulisan Dasta Hariansyah dengan hiburan pertunjukan monolog Ilham Setia. Dan di Jumat (12/5) malam, giliran diskusi buku “Sejarah Daerah Istimewa Kalimantan Barat (DIKB)” Khamsah Ar Rahman yang digelar.

“Semuanya gratis, sekalian beli buku sebagai bentuk dukungan karya anak Kalbar,” ajak Pay. Seperti kata Tan Malaka di awal, adanya toko buku apalagi pekan bazar memang seharusnya dimanfaatkan. Bisa jadi lepas agenda ini, orang-orang bingung di mana harus membeli buku penulis lokal Kalbar.

Memang tahun lalu, Pemerintah Provinsi Kalbar sempat mengadakan Kalbar Book Fair. Tapi semakin banyak acara literasi diadakan, semakin ramai pula geliat dan iklim literasi dibentuk lingkungan. Selain buku penulis lokal, buku dari penerbit di pulai Jawa pun turut memeriahkan. (kristiawan balasa/and)