Selasa, 15 Oktober 2019


Cara Dayak Berdampingan dengan Alam

Editor:

Angga Haksoro

    |     Pembaca: 454
Cara Dayak Berdampingan dengan Alam

Danau Sentarum (mongabay.com)

Masyarakat adat Dayak memiliki cara sendiri untuk melokalisasi api saat membuka lahan. Warga sering dituduh sebagai penyebab kebakaran hutan dan lahan.   

Membuka lahan bukan perkara sembarangan bagi warga adat Dayak. Mereka meyakini tanah, hutan, pohon, dan sungai dijaga oleh roh-roh yang melindungi kelestarian alam. Sebab itu diperlukan upacara adat untuk berkomunikasi dengan roh.  Meminta izin. Karena sesungguhnya tanah ini tidak hanya ditempati manusia.  

Ada proses panjang sebelum lahan siap panen. Menjejaki ladang, menebah, membakar, menugal, hingga musim panen tiba. Semua  proses tersebut diawali dan diakhiri upacara adat gawai di masing-masing sub suku Dayak.  

Sebelum mulai membakar, mereka membersihkan sekeliling ladang. Jika ada bagian ladang yang berbatasan dengan kebun karet atau ladang milik orang lain, mereka wajib meminta izin. Pemilik ladang tetangga juga diajak menjaga api.  

Sebelum membakar ladang, mereka wajib melihat arah angin. Mereka menunggu arah angin yang tepat agar api tidak menjalar ke luar ladang. Mereka memastikan api merambat berputar seperti obat nyamuk menuju ke tengah ladang.  

Biasanya mereka mulai membakar ladang antara lewat tengah hari hingga sore. Udara malam yang dingin akan memadamkan api dengan sendirinya. Jika cara ini ditaati, kecil kemungkinan api meluas sehingga menyebabkan kebakaran hutan dan lahan.

Informasi yang salah soal bagaimana masyarakat Dayak mengolah ladang, menyebabkan mereka sering menjadi kambing hitam kebakaran hutan. Mereka juga dituduh merambah hutan karena berladang berpindah.

Sekitar tahun 1996, masyarakat Dayak di Kalbar memprotes pemerintah terkait makna berladang berpindah yang dituding kepada masyarakat adat Dayak. Dayak menolak kalau mereka disebut ladang berpindah. Mereka berladang gilir-balik,” kata Dominikus Uyub, Ketua Aliansi Masyarakat Adat Kapuas Hulu, Rabu (26/9).  

Tahun 2018, di Kalbar setidaknya ada 19 laporan polisi terkait kasus pembukaan lahan. Sebanyak 26 orang ditetapkan tersangka. Dua tersangka meninggal di Kabupaten Melawi.  

Warga adat Dayak memang tidak menggunakan sistem bercocok tanam menetap seperti kebanyakan petani di Jawa. Setelah panen, mereka meninggalkan lahan untuk pindah ke tempat lain. Mereka mengistirahatkan tanah untuk memulihkan kesuburan.  

Metode mengistirahatkan tanah ini juga dilakukan masyarakat adat Ciptagelar di Jawa Barat. Mereka hanya panen sekali setahun, dan melarang menjual padi. Hasil panen hanya boleh dimakan terbatas oleh warga adat atau tamu yang berkunjung.   

Di Dayak, setelah panen mereka akan pindah ke lahan lainnya.  Prosesi adat diulang kembali sebelum mulai tanam. Setelah lahan ini panen, mereka pindah ke tempat yang dulu pernah ditanami. Jadi perpindahan lahan tidak acak. Mereka hanya menggilir lokasi penggarapan lahan.  

Dalam UU 32/2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup, ada aturan soal mempertimbangkan kearifan lokal sebagai syarat pengecualian membakar lahan untuk ladang. Luas lahan yang dibakar maksimal 2 hektar per kepala keluarga dan untuk ditanami tanaman varietas lokal.

Pemilik ladang juga wajib membuat sekat bakar agar api tidak menjalar ke wilayah sekelilingnya. Tetapi implmentasinya di daerah jauh berbeda. Polisi dan TNI menjalankan amanat dari Instruksi Presiden 11/2015 tentang Peningkatan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan. Hal itu membuat aparat  daerah mengeluarkan maklumat yang melarang pembakaran lahan tanpa kecuali. Pasal 69 ayat 1 huruf (h) soal boleh membakar lahan dengan syarat, tidak disosialisasikan. (*)