Rabu, 18 September 2019


Adrianus: Tidak Mudah Rebut Kursi Gubernur

Editor:

sutan

    |     Pembaca: 1095
Adrianus: Tidak Mudah Rebut Kursi Gubernur

GRAFIS (SUARA PEMRED/ KOKO)

  BERASAL dari keluarga yang bersahaja, Adrianus Asia Sidot sejak kecil terbiasa hidup dalam kondisi ekonomi orangtua yang pas-pasan. Namun Adrianus kecil terus berusaha bekerja keras untuk keluar dari jerat kemiskinan. Kerja apapun dilakukan tanpa gengsi demi mencari uang.

Uang yang diperoleh ini digunakan untuk membiayai sekolahnya hingga lulus dari Akademi Pemerintahan Dalam Negeri (APDN).
  Di rumah dinasnya di Ngabang, Bupati Landak ini pun menceritakan romantika kehidupannya serta berbagai hal terkait jabatannya sebagai orang nomor satu di Tanah Dayak.

Berikut wawancara Sidot dengan  Devi Zulkarnain dari Suara Pemred, Jumat (2/9).
Pada 6 September mendatang, masa jabatan Anda sebagai Bupati Landak secara resmi akan berakhir. Apa rencana Anda berikutnya?

Sementara saya masih aktif sebagai PNS. Saya jalankan tugas dan kewajiban saya sebagai PNS. Tapi ini sementara, saya sambil cari peluang di lain. Misalnya, kalau ada lowongan untuk eselon 1 di pusat, mungkin saya akan berkompetisi di pusat. Tapi kalau tidak, ndak jadi masalah.  
Saya masih bisa berkiprah untuk melayani masyarakat. Entah di bidang pendidikan, bidang sosial dengan mendirikan lembaga pendidikan, dan lembaga sosial. Misalnya, pelatihan-pelatihan untuk kaum muda.
Saya ingin mendirikan sekolah olahraga dan sekolah keterampilan. Saya ingin membuat peluang atau kesempatan kerja bagi anak-anak muda, dan mengajar meraka untuk bisa menjadi bos sendiri, bukan orang makan gaji.  

Menurut informasi yang beredar di kalangan masyarakat dan politisi, Anda memiliki kans yang kuat untuk maju di Pemilihan Gubernur 2018. Menurut Anda?
 

Niat itu ada, ini jujur saya katakan. Karena itu, saya mempersiapkan diri. Tapi, tentu saja harus ada prasyarat dan syarat yang harus dipenuhi. Saya kan mesti bertanya, syarat ini sudah punya belum, dan sudah terpenuhi atau belum. Kalau belum, bagaimana harus memenuhinya.

Bukan hanya mau dan punya niat, tapi kan saya harus menunjukan, kalau saya jadi gubernur, apa sih yang akan saya lakuan. Mungkin tidak terlalu mudah untuk merebut kursi itu. Tapi, akan lebih sulit lagi kalau sudah jadi gubernur. Sebab, kita kan bukan hanya mau jabatan gubernurnya, tapi harus berbuat sesuatu untuk kemajuan Kalbar.

Tapi juga saya tidak ambisius. Kalau tidak jadi lalu frustasi, stres dan macam-macam. Dalam hidup saya, ada rencana A, B dan C. Kalau rencana A ndak jalan, jalankan rencana B. Tidak jalan rencana B, jalankan rencana C. Kalau semuanya tidak jalan, ya sudah. Berartikan kita tidak boleh memaksa.

Sejauh ini, sudah adakah partai politik atau sejumlah kelompok yang menyatakan siap mendukung dan mengusung Anda sebagai calon orang nomor satu di Kalbar?


Semua partai satu saja tuntutannya, yakni elektabilitas popularitas. Apakah dikenal oleh masyarakat. Kemudian, apakah yang mengenal saya mau memilih saya? Kalau popularitasnya tinggi, tapi elektabilitasnya rendah, juga tidak bisa. Harus dua-duanya tinggi. Barulah orang bicara tentang kemampuan, kapasitas, kompetensi dan segala macam pengalaman. Dunia politik begitu.    

Anda terlahir dari keluarga yang memiliki kehidupan ekonomi yang boleh dikatakan pas-pasan. Bagaimana tips Anda bisa menjadi orang sukses seperti saat ini?


Kita harus kerja keras, dan belajar terus menerus. Kalau kita gagal, belajar lagi dari kegagalan. Seperti waktu dulu, saya pertama kali ikut Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati Landak, saya gagal. Tapi, saya belajar lagi. Ternyata saya terlalu polos dalam berpolitik.

Padahal, dalam berpolitik tidak boleh polos, licin-licin sedikit seperti belut. Itulah orang politisi. Kalau saya bisa seperti sekarang ini, itu karena saya harus bekerja keras. Saya sudah biasa bekerja keras dari kecil. Ketika masih sekolah dasar, saya jualan kue, bikin kue sendiri, bikin kerupuk sendiri dibantu ibu.

Saya biasa noreh (karet), ikut ke ladang, dan segala macam.   Tidak pernah saya berleha-leha. Malam-malam saya belajar walaupun pakai pelita. Waktu mau masuk kuliah, saya cari uang dengan jadi kuli. Saya tidak pernah gengsi, dan tidak malu dengan kondisi saya. Sebab kondisinya memang begitu, mau diapakan? Kita mau belagak jadi orang kaya, mau dari mana? Kita miskin tetap miskin.  

Tapi, kita  jangan mau pasrah dan menerima kemiskinan. Kita harus berusaha. Makanya ketika saya diwisuda lulus dari APDN, kata pertama yang saya katakan, yakni 'selamat tinggal kemiskinan'. Jujur saja saya katakan. Sebab, memang selama di APDN saya harus bekerja keras siang malam. Cari makan sendiri. Bukan karena orangtua semata-mata tidak mampu.
 
Orangtua saya mampu. Tapi kan bukan hanya saya sendiri. Saya 12 bersaudara. Bisa dibayangkan. Prinsip orangtua saya, kalian semua harus sekolah. Yang sudah mampu, cari biaya sendiri, jangan membebani orangtua. Masih banyak yang kecil-kecil harus sekolah.  Puji Tuhan, kami semua bisa sekolah. Sekarang ini sudah bisa hidup sendiri, walaupun ada yang ekonomi pas-pasan.

Tahun ini merupakan masa terakhir kepemimpinan Anda sebagai Bupati Landak. Bagaimana Anda memaknai jabatan yang selama ini dipercayakan  masyarakat?

Jabatan yang saya emban itu adalah amanah dari rakyat, dan ada waktunya, ada masanya. Sekarang masanya sudah sampai. Saya rasa, tidak perlu dipermasalahkan, dikhawatirkan, apalagi disesali. Sebab, memang sudah waktunya, mau bagaimana lagi?   Aturan sudah membatasi dua kali masa jabatan, dan ini terakhir. Bagi saya tidak masalah, karena aturannya memang begitu.  Saya memaknai jabatan sebagai sebuah amanah yang dititipkan oleh masyarakat kepada saya. Dalam mengemban kepercayaan, tentu saya berusaha mengerahkan segala kemampuan saya untuk memimpin Landak.    

Selama dua periode menjadi orang nomor satu di Kabupaten Landak, adakah niat atau rencana yang belum tercapai, khususnya dalam membangun daerah tercinta ini?


Banyak yang belum tercapai, seperti infrastruktur. Infrastruktur ini kita bangun, tapi banyak yang belum selesai. Yang ada baru badan jalan. Badan jalannya rusak lagi. Demikian juga jembatan, ada yang belum kita bangun, dan yang sudah kita bangun. Yang sudah kita bangun rusak lagi, dan harus diperbaiki. Seperti itulah.

Yang belum selesai, dan mungkin tidak akan pernah selesai, adalah masalah pembangunan SDM. Soal kesejahteraan dan pendidkan serta kemiskinan, tidak akan pernah tuntas. Di negara maju juga masih ada orang yang buta huruf, miskin, dan  tidak terlayani dari sisi kesehatan. Banyak pengemis di sana. Banyak tidak berpendidikan.

Pembangunan SDM,  seperti pendidikan, kesehatan, ekonomi, kemiskinan dan kesejahteraan sosial ini, tidak akan pernah selesai siapapun bupatinya. Saya berani bertaruh. Ini kan relatif. Walaupun sekolahnya gratis, kalau orang tidak mau sekolah, memangnya mau kita paksa?   Demikian juga dengan kesehatannya, sudah dilayani kesehatannya. Tapi kalau prilaku hidup sehatnya tidak ada dan kembali kepada pola hidup lama, apa ada jaminannya? Tapi,  kita sudah berbuat untuk kesehatan, pendidikan, dan kemiskinan.

Infrastruktur, pendidikan, kesehatan dan ekonomi kerakyatan selalu menjadi persoalan di setiap daerah. Dari keempat aspek tersebut, mana yang menjadi persoalan krusial di Kabupaten Landak?
 

Yang krusial itu adalah masalah mentalitas, pola pikir. Mau di bidang pendidikan, kesehatan, ekonomi, intinya bahwa persoalan dasarnya adalah di pola pikir masyarakat.  Di bidang pendidikan, guru-guru ini kurang apa lagi? Tunjangannya, bahkan saya instruksikan tidak boleh dipotong. Tapi ada saja yang motong.
  Guru-guru banyak yang malas ngajar. Sudah hutang, kreditnya sana-sini, tinggal gajinya habis, atau bahkan tekor. Mulai dia jadi tukang ojek, tukang bakso, dan tukang sayur, meninggalkan tugas pokoknya.

Ini persoalan mentalitas. Untuk merubah mentalitas ini tidak bisa kita sekaligus dalam waktu singkat merubah sifat karakter orang. Ini harus dalam satu proses, bahkan bisa jadi ganti generasi.

Kita sudah penuhi semua hak guru, seperti naik pangkat tidak kita hambat, tunjangan tidak boleh dipotong, karena semua lewat bank. Kecuali kalau dia pinjam, itu lain persoalan. Jangan nanti dia pinjam, dipotong lalu marah, lalu menjadi sebab. Ngomong di Facebook, orang dinas pendidikan dan bupati potong tunjangan. Padahal, kita motong utang dia di bank. 

Di bidang kesehatan juga. Semua tunjangan sudah kita berikan. Bahkan daerah menyediakan BPJS, bukan hanya BPJS pusat. Daerah membantu membayarkan iuran. Tapi kalau mentalitas, mulai dari ketua RT, ketua RW, kepala dusun, kepala desa, camat, kepala puskesmas dan segala macam masih saja KKN, yang diutamakan keluarga dia, sama saja.  
Saya kan tidak bisa mengawasi sampai ke bawah. Apalagi kalau tidak ada laporan, saya anggap baik-baik saja. Sering kalau ada laporan, saya tegur kepala dinas dan camat, apa kerjamu, masih ada warga miskin belum masuk BPJS. Ini sudah disiapkan dana belasan miliar rupiah untuk 5.000 orang yang BPJS-nya ditanggung oleh pemda.  

Anda dikenal sebagai kepala daerah yang aktif dengan aktifitas petualangan, seperti menjadi offroader. Apakah ini merupakan hobi atau semata obat penghilang penat di kala sibuk menjalankan tugas sebagai bupati?


Dua-duanyalah, hobi juga, menghilangkan stres, dan menghilangkan kejenuhan. Kita bisa bercanda, dan bisa teriak-teriak di hutan. Kalau saya teriak-teriak di kantor atau di rumah, nanti saya dibilang orang gila. Tapi kalau saya teriak-teriak memberi support ke teman di lapangan, justru membuang rasa jenuh, sumpek, dan stres sehingga jadi plong. Setelah itu kita bisa konsentrasi bekerja lagi.

Offroad merupakan jenis olahraga yang dinilai ekstrim. Bagaimana dukungan keluarga ketika mengetahui Anda menekuni olahraga ini?

Ibu mendukung, meskipun dia tidak mau lihat kalau saya main. Katanya, jantungnya tidak kuat. Anak-anak saya juga begitu. Bahkan, menantu saya juga ikut jadi offroader. Mereka mendukung, karena meraka tahu bahwa ini kan obat untuk menghilangkan jenuh dan stres. Sebab, sumber penyakit dari stres. Kita tidak pernah bergerak. Kalau di hutankan, kita bergerak, turun-naik bukit. Itu kan olahraga untuk menguatkan fisik dan mental.  

 
Selain gemar dengan offroad, Anda juga aktif pada olahraga tinju, yakni sebagai Ketua Umum Komisi Tinju Indonesia (KTI) Kalbar. Apa motivasi Anda, berkecimpung sekaligus pada dua olahraga ektrim ini?

Para petinju dan pengurus sasana tinju malah mengeluh kepada saya. Kata mereka, kami ini sudah juara dunia dan melanglang buana, tapi tidak ada yang mau mengurus kami. Sebab, kalau mau jadi pengurus mesti siap berkorban waktu, tenaga, dan uang. Jadi, tidak ada yang mau.  

Lalu, mereka, yakni Damianus Yordan dan Iwan Zoda tanya kepada saya, maukah mengurus kami? Sebab kami tidak ada yang ngurus. Kata mereka, kami ini seperti anak ayam kehilangan induk. Saya bilang, kalau kalian memang percaya dengan saya, saya tidak tahu soal tinju. Tapi kalau mengurus, ya oke. Kalau teknis pertinjuan, bukan bidang saya.   Saya siap mengurus untuk menjadi bapak kalian. Saya hanya bisa menjadi pengayom kalian.
 Akhirnya, saya mau mengurus para petinju ini, sebagai bapak mereka. Itu tujuan praktisnya.  Sedangkan tujuan idealisnya, tinju merupakan olahraga yang memang keras.
 Ini olahraga yang menerapkan disiplin latihan, makan, tidur, pola hidup, tidak boleh merokok, minum minuman keras, apalagi narkoba. Kalau mereka dibina dengan baik, mereka akan jadi generasi muda yang penuh disiplin, bermental baja, berkarakter baik, dan sportif. Daripada mereka beringas di jalan, lebih baik beringas di ring.
 
Beringas di ring bisa memberikan hiburan kepada masyarakat, dan ditonton orang, lalu dia bisa mendapat pendapatan. Kalau yang namanya profesional itu, kalah menang tetap dibayar. 
Saya berharap akan banyak petinju Kalbar yang berprestasi di dunia nasional dan internasional. Kita punya dua petinju juara dunia berasal dari Kalbar, Daud 'Cino' Yordan, dan Iwan 'Sniper' Zoda. Kalau di Papua terkenal dengan pemain sepakbolanya, di Ambon atau Batak terkenal dengan penyanyinya, Kalbar terkenal dengan petinjunya. Kita tentu bangga.  

Sebagai orang nomor satu di dua cabang olahraga ektrem, bagaimana Anda melihat potensi atlet lokal yang ada, dan apa yang kurang dan apa yang perlu dibenahi agar prestasi kedua cabang olahraga ini melambung tinggi hingga ke kancah internasional?

Kita masih kekurangan ofrroader. offroader yang ada sekarang ini cuma hobi. Belajar teknis bagaimana menjadi offroader yang bagus, itu kita tidak pernah. Mudah-mudahan nanti ke depan, kita ada pelatihan tentang offroader ini. Sebab, offroad bukan hanya sekedar menyalurkan hobi, tapi menghidupkan juga kegiatan ekonomi daerah. Menunjang juga pariwisata yang menjadi suatu potensi yang sangat luar biasa di Kalbar ini.  

Dengan kegiatan offroad kita bawa offroader-offroader dari luar Landak, bahkan luar Indonesiea. Kita adventure di Kalbar, dan mengunjungi objek wisata di Landak. Mereka akan menginap di daerah kita. Mereka beli makanan, menginap, dan beli keperluan lainnya, tentu dia akan keluarkan uang. Ini bisa menjadi sumber devisa bagi negara, dan daerah.     

 Sedangkan untuk olahraga tinju, tanpa latihan dan pembinaan, mustahil. Harus ada wadah yang namanya sasana. Saya ingin agar di setiap kabupaten dan kota di Kalbar, minimal ada satu sasana. Setiap daerah berkompetisi untuk melahirkan petinju terbaiknya.
  Kalau itu terjadi, petinju yang kita lahirkan dari sasana-sasana di setiap kabupaten dan kota se-Kalbar, pada gilirannya akan berkiprah di tingkat nasional dan internasional.

 Keuntungannya,  mereka di tingkat nasional akan membawa nama harum Kalbar. Di tingkat internasional, akan membawa nama harum Indonesia. Kalau kita mengundang petinju dari luar, ini juga akan mendatangkan devisa bagi daerah. Kedua olahraga ini merupakan olahraga prestasi, tapi profesional.(pat/sut)