BPBD Pantau Titik Panas, Polisi Landak Kampanyekan Bahaya Karhutla

Landak

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 321

BPBD Pantau Titik Panas, Polisi Landak Kampanyekan Bahaya Karhutla
BALIHO – Personel Polsek Menyuke, Landak, bersama warga setempat memasang spanduk larangan melakukan aktivitas membakar lahan untuk pertanian terutama saat musim kering seperti sekarang ini. (Ist)
Ketua BPBD Landak, Banda Kolaga
"Kita sudah melakukan pemantauan mulai 14 Juli lalu hingga saat ini. Saat ini titik panas di Kabupaten Landak ini cukup tinggi,"

NGABANG, SP - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Landak mulai disibukkan dengan pemantauan titik panas di sejumlah wilayah rawan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla).

Kepala BPBD Landak, Banda Kolaga mengatakan, hasil cek pihaknya ke lapangan sampai ke wilayah Tengon Kecamatan Air Besar, masyarakat memang mulai membuka lahan untuk ditanami padi maupun kebun.

"Kita sudah melakukan pemantauan mulai 14 Juli lalu hingga saat ini. Saat ini titik panas di Kabupaten Landak ini cukup tinggi," kata Banda di Kantor Bupati Landak, Selasa (17/7).

Sesuai data yang diperoleh dari Lembaga Penerbangan dan Antariksa Nasional (Lapan), ada 21 titik panas yang ada di Landak. Namun setelah dicek, tidak semua titik panas itu ada di Landak. 

Di daerah Jalan Mungguk-Tengon, Ngabang, ditemukan sebanyak lebih dari 30 lahan yang sudah ditebas dan siap bakar. Belum lagi dari daerah Serimbu, Kecamatan Air Besar.
Menurut dia, pantauan terakhir, wilayah Landak aman dari kebakaran hutan dan lahan. 

"Pada Senin kemarin, jumlah titik api di Landak kembali naik. Sesuai data LAPAN, ada 19 titik api di Landak. Tapi setelah kita cek, ternyata ada 18 titik api," katanya.

Dari 18 titik api itu, paling banyak terdapat di Kecamatan Air Besar. Selain itu ada satu titik di Desa Lamoanak, Menjalin dan satu titik di Kecamatan Ngabang. "Di sana kita sudah turun bersama aparat gabungan," jelasnya.

BPBD Landak bersama Polsek Air Besar dan Koramil Air Besar, bersepakat menempatkan personel di Sempatung. Direncanakan penempatan personel itu akan dilakukan pada Kamis dan Jumat nanti.

Mereka akan membuat posko di Sempatung. Anggota yang ditempatkan bisa juga mengarahkan masyarakat yang akan membakar hutan dan lahan. Pemberian pengertian diutamakan. Kalaupun mau membakar harus diperhatikan betul. Jangan sampai api itu menjalar.

“Juga jangan melakukan pembakaran secara bersamaan dan imbauan lainnya yang berkaitan dengan Karhutla," terangnya.

Banda mengakui, memang ditemui kesulitan untuk melarang masyarakat membuka lahan dengan cara membakar. Sebab, masyarakat yang akan membuka lahan itu digunakan untuk berkebun guna memenuhi kebutuhan hidup.

Namun dia tetap mengimbau kepada masyarakat yang akan membuka lahan bisa menjaga saat melakukan pembakaran hutan dan lahan. Kemudian, kalau masyarakat ingin membuka lahan diminta dilaporkan kepada tiga pilar yakni, Koramil, Polsek dan Kepala Desa. 

Selain ketiga pilar itu harus pro aktif, masyarakat juga harus pro aktif. Kalau masyarakat yang akan membakar lahan, harus lapor dengan pemerintah desa. Secara otomatis, pemerintah desa berkewajiban untuk memperhatikan itu.

"Kami juga meminta masyarakat supaya taat aturan saat membakar lahan. Tapi hingga saat ini Landak belum diselimuti kabut asap," kata Banda.

Sementara itu, jajaran Polres Landak melalui Polsek terus berupaya untuk melakukan pencegahan Karhutla. Bhabinkamtibmas desa tiap desa, terus mengimbau masyarakat.

Seperti yang dilakukan personel Polsek Menyuke. Mereka mengintensifkan pencegahan Karhutla melalui sejumlah imbauan kepada masyarakat. Imbauan yang dilakukan itu dengan cara membentangkan baliho imbauan.

"Kita terus melakukan kegiatan pencegahan dengan mengutamakan kegiatan preemtif di tengah masyarakat," kata Kapolsek Menyuke Iptu R Dolok Saribu.

Ia bersyukur masyarakat di Kecamatan Menyuke sudah semakin mengerti tentang bahaya dan larangan membakar hutan serta lahan. "Hal ini berkat kerj asama yang baik antara Polri dengan tiga pilar Kamtibmas bersama warga," ucapnya.

Lambat Laun Masyarakat Sadar

Berbagai upaya dilakukan pemerintah bersama aparat keamanan baik Polri maupun TNI untuk memberikan imbauan kepada masyarakat tentang bahaya Karhutla.

"Dengan berbagai cara yang dilakukan, saya yakin lambat laun masyarakat akan menyadari bahaya dari Karhutla ini," kata salah satu masyarakat, Sawianus.

Menurutnya, Karhutla akan menimbulkan dampak terhadap kerusakan lingkungan. Tidak hanya sekadar musnahnya ekosistem, tapi kabut asap yang ditimbulkan akibat Karhutla akan merusak kehidupan.

dia juga meminta pihak terkait juga bisa mensosialisasikan peraturan perundang-undangan yang menyangkut larangan melakukan Karhutla kepada masyarakat. Apalagi Karhutla merupakan kejahatan yang harus diperangi secara komprehensif oleh setiap pihak.

Oleh karena itu, ia mengajak masyarakat supaya tidak melakukan pembakaran saat membuka lahan. "Memang kita sadari membuka lahan dengan cara membakar sudah dilakukan secara turun temurun sejak dulu. Tapi alangkah lebih baiknya kita memperhatikan saran-saran yang diberikan oleh pihak terkait untuk meminimalisir terjadinya dan dampak dari Karhutla ini," ungkapnya. (dvi/ang)