Rabu, 18 September 2019


Kemiskinan Desa di Landak Tinggi, Karolin Tingkatkan Peran Dana Desa dan Perusahaan

Editor:

kurniawan bernhard

    |     Pembaca: 486
Kemiskinan Desa di Landak Tinggi, Karolin Tingkatkan Peran Dana Desa dan Perusahaan

BERBINCANG – Bupati Karolin Margret Natasa berbicara dengan sejumlah petani di Ngabang, belum lama ini. Dia mengatakan, berdasarkan data Kementerian Desa PDTT, dari 156 desa, 76 desa diantaranya tergolong dalam desa tertinggal, terisolir dan masih miskin.

Bupati Landak, Karolin Margret Natasa
"Saya minta kepada pemerintah desa jangan selalu memikirkan program rabat beton dan rabat beton saja. Masih banyak hal lain yang bisa digali, dikelola dan dikembangkan dengan baik,"

NGABANG, SP - Bupati Landak Karolin Margret Natasa mengatakan, berdasarkan data Kementerian Desa PDTT, dari 156 desa, 76 desa diantaranya tergolong dalam desa tertinggal, terisolir dan masih miskin. Maka dari itu, selain peran pemerintah daerah, dia juga harap dukungan pemerintah desa melalui dana desa dan perusahaan perkebunan setempat.

"Untuk itu, melalui dana desa yang diberikan oleh pemerintah pusat diharapkan dapat membantu keterisoliran desa yang ada di Kabupaten Landak. Kami dari Pemkab Landak juga akan berupaya untuk mengejar setiap ketertinggal desa tersebut," kata Karolin, belum lama ini.

Kondisi ini merupakan pekerjaan rumah bagi dia yang harus diselesaikan. Untuk mengejar ketertinggalan tersebut, dia meminta bantuan dari seluruh masyarakat dan pemerintah desa dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat di desa melalui pengelolaan dana desa yang tepat guna dan tepat waktu pelaporannya.

"Saya minta kepada pemerintah desa jangan selalu memikirkan program rabat beton dan rabat beton saja. Masih banyak hal lain yang bisa digali, dikelola dan dikembangkan dengan baik," katanya.

Selain itu, Karolin juga meminta kepada setiap perusahaan perkebunan yang ada untuk membantu pemerintah daerah dan masyarakat dalam membuka daerah yang terisolasi.

"Kami dari pemkab Landak jelas mengharapkan kepada pihak perusahaan perkebunan sawit bisa membantu membuka daerah yang masih terisolasi, khususnya daerah yang masuk dalam izin usaha perkebunan tersebut," kata Karolin.

Pemerintah memberikan izin kepada perusahaan untuk melakukan usaha di wilayah Kabupaten Landak tentu dengan harapan agar dapat membantu masyarakat yang pertama setidaknya membuka akses terhadap keterisolasian.

Karolin memaparkan, saat ayahnya menjadi Bupati pertama di Kabupaten Landak, untuk mencapai Kecamatan Sebangki, harus melalui Kota Pontianak melalui jalur sungai menggunakan speedboat.

"Ini kita syukuri bersama bahwa jalan kita menuju Kabupaten ini sekarang sudah bisa dilalui dengan sangat singkat bisa sampai ke Ngabang," tuturnya.

Bupati perempuan pertama Landak ini menyebut, luas areal perkebunan di Kabupaten Landak telah mencapai 188.861 hektare.

"Perkebunan Kelapa Sawit merupakan komoditi terluas, mencapai 112.873 hektare. Selebihnya seluas 75.988 hektare, merupakan komoditi karet, kakao dan tanaman perkebunan lainnya," ungkapnya.

Dia menjelaskan, perkebunan kelapa sawit di Kabupaten Landak merupakan andalan utama bagi kabupaten itu. "Makanya, kalau harga CPO turun, ekonomi di Kabupaten Landak juga ikut turun," tuturnya.

Kepada pihak perusahaan, dia berpesan agar memenuhi seluruh ketentuan yang berlaku. Ada pengaturan tentang ketenagakerjaan, undang-undang perkebunan, dan lingkungan hidup. Karolin juga berharap pihak perusahaan dapat membantu masyarakat meningkatkan kesejahteraan mereka.

Dia meminta kepada pihak perusahaan agar bisa membagikan plasma kepada masyarakat tepat pada waktu dan jumlahnya. "Demikian ketika mengerjakan inti dan plasma, sama-sama dikerjakan," tuturnya. (ant/ang)

Kesulitan Bikin BUMDes

Satu di antara mengurai kemiskinan dengan dana desa adalah memaksimalkan potensi BUMDes. Namun demikian, ada sejumlah kendala yang dialami oleh desa untuk membentuk BUMDes tersebut. Salah satunya yang dialami Desa Amboyo Selatan, Kecamatan Ngabang. 

Kades Amboyo Selatan, Djogi Klana mengatakan, pada dasarnya desa yang ia pimpin siap untuk membentuk BUMDes. Tapi dari segi tipologi, desa tersebut merupakan daerah investasi perkebunan kelapa sawit. 

“Jika perkebunan kelapa sawit itu dibentuk BUMDes, layaknya BUMDes yang akan kita bentuk bergerak di bidang jasa," ujar Djogi.

Sementara untuk keuangan, Desa Amboyo Selatan masih dianggap minim, hal ini mengingat wilayah desa itu merupakan desa yang cukup luas di Landak.

"Desa kami saat ini terdapat 15 dusun dengan jumlah penduduk kurang lebih 10 ribu jiwa. Jadi, untuk anggaran pembangunan sendiri, agak bingung membaginya. Sebab, dusun yang ada di Desa Amboyo Selatan cukup banyak," jelas Djogi. (dvi/ang)