36 Hektare Lahan Konsesi Terbakar, Masyarakat Diminta Lapor Jika Ada Karhutla

Landak

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 239

36 Hektare Lahan Konsesi Terbakar, Masyarakat Diminta Lapor Jika Ada Karhutla
PANTAU KARHUTLA – Anggota Polsek Sebangki saat mendatangi lokasi kebakaran lahan milik perusahaan perkebunan kelapa sawit PT SMS di Kecamatan Sebangki, kemarin. Hingga hari ini, api yang menghanguskan lahan tersebut belum mampu dipadamkan. (Ist)
Kepala BPBD Landak, Banda Kolaga
“Menurut perusahaan, mereka tidak ada melakukan pembakaran. Bahkan, mereka menduga kebakaran itu disebabkan akibat teriknya panas matahari atau puntung rokok,"

NGABANG, SP – Kabut asap masih menyelimuti langi-langit Kota Ngabang, Landak, kendati hujan sempat mengguyur, Rabu (22/8) kemari. Asap tersebut ditengarai berasal dari kebakaran hutan dan lahan milik warga dan dua perusahaan perkebunan kelapa sawit setempat.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Landak, Banda Kolaga mengatakan, sebagian lahan yang banyak terbakar milik masyarakat dan perusahaan perkebunan kelapa sawit milik PT Condong Garut Kecamatan Mandor, yang luas terbakar lebih dari 21 hektare. 

BPBD mengaku belum mengetahui siapa yang membakar lahan itu, apakah dari perusahaan atau oknum masyarakat maupun terbakar sendiri. Mereka juga tidak sampai menyelidiki. 

“Menurut perusahaan, mereka tidak ada melakukan pembakaran. Bahkan, mereka menduga kebakaran itu disebabkan akibat teriknya panas matahari atau puntung rokok," kata Banda, , Kamis (23/8).

Selain itu, Karhutla juga terjadi di lahan perkebunan milik PT Satria Multi Sukses (SMS) di Kecamatan Sebangki. Dikabarkan, sekitar 15 hektare lahan milik perusahaan itu terbakar. Lokasi kebakaran terjadi di Dusun Setaik Desa Sebangki atau tepatnya di Divisi V blok 41 PT SMS Estate Sungai Taka.

"Kita langsung melakukan pengecekan terhadap lahan PT SMS yang terbakar itu. Lahan perkebunan kelapa sawit yang terbakar tersebut merupakan lahan semi gambut dan merupakan hutan produksi yang boleh dikelola masyarakat. Namun tidak bisa dikuasai," ujar Kapolsek Sebangki Ipda Hertomo Endriyadi, Kamis (23/8).

Dijelaskannya, titik api pertama kali diketahui salah satu warga setempat. Ia juga dipercaya oleh pihak perusahaan untuk melaksanakan patroli Karhutla di sekitar areal perkebunan.

"Untuk melakukan penanganan pemadaman dan meminimalisir kebakaran lahan yang semakin meluas, pihak perusahaan telah menyiapkan satu unit alat berat, tiga unit mobil pemadam dan lima unit mesin sedot air," ucapnya.

Kapolsek mengakui, sebelumnya sudah memperoleh informasi dari masyarakat dan pihak perusahaan dengan adanya kebakaran lahan milik PT SMS tersebut.

"Namun, pada waktu itu kita masih fokus di lokasi Karhutla di Dusun Sahek Kecamatan Sebangki. Kobaran api yang membakar lahan di dusun itu belum padam dan masih menjalar," terang Kapolsek.

Sampai berita ini diturunkan, anggota Polsek Sebangki dibantu pihak perusahaan masih melakukan pemadaman di lokasi lahan milik PT SMS.

"Kita juga membantu membuat sekat atau parit dengan menggunakan alat berat dan melakukan dokumentasi terhadap lahan yang terbakar itu," tutupnya.

Banda melanjutkan, hujan yang turun memang tidak merata dan intensitasnya cukup kecil, yakni di hanya di Kecamatan Ngabang dan Kecamatan Jelimpo.

“Dan di dua kecamatan itu pun tidak merata. Jadi memang kabut asap masih ada,” kata Banda.

Untuk mengatasi kabut asap itu, BPBD Landak sampai saat ini tetap berupaya memadamkan kebakaran hutan dan lahan (Karhutla). Mereka juga membagikan masker kepada masyarakat setempat.

"Kalau ada informasi atau laporan kebakaran lahan, kita tetap menurunkan anggota untuk berupaya memadamkan api,” ucapnya.

Informasi yang dia terima, ada kebakaran lahan di Desa Setabar, Kecamatan Mandor. “Kita tetap turun ke lokasi untuk pemadaman dengan alat yang belum memadai," akunya.

BPBD Landak sendiri memang belum memiliki armada pemadam kebakaran (Damkar). "Kami hanya mengandalkan alat pemadam berupa fire pump. Yang penting, ada sumber air, kami tetap berupaya melakukan pemadaman," ucapnya.

Sementara ini, dari 13 kecamatan, Kecamatan Jelimpo banyak ditemukan titik api. Kecamatan Air Besar yang sempat memimpin penyumbang terbesar Karhutla sudah menurun.

"Sekarang saat ini malah Jelimpo yang banyak terjadi kebakaran lahan. Untuk Kecamatan Air Besar, saya akui masyarakat setempat lebih banyak membuka ladang dan berkebun," ucapnya.

Khusus untuk masyarakat yang akan membuka perkebunan kelapa sawit, Banda meminta masyarakat tidak menanam kelapa sawit di daerah sumber air minum. Sebab, itu akan membuat lahan menjadi kering.

"Kemudian, apabila masyarakat membakar lahan, tolong perhatikan skatnya, jangan sampai api merambat ke daerah lain. Selain itu, tolong juga diperhatikan sumber air di lahan yang dibakar apakah dekat dengan lahan yang terbakar. Dengan demikian, kami akan mudah melakukan pemadaman," ingatnya.

Petani Diminta Ikuti Prosedur

Masyarakat Landak diminta tidak membakar lahan di musim kemarau yang mulai melanda kabupaten tersebut. Kalaupun harus membakar lahan, tentunya harus memperhatikan sejumlah hal.

Diantaranya seperti melaporkan kepada pihak terkait sebelum membakar lahan. Pihak terkait itu seperti Kades, Polsek dan Koramil. 

“Nanti berdasarkan laporan itu, mereka akan turun ke lapangan untuk memantau kegiatan pembakaran lahan yang dilakukan masyarakat itu," ujar salah satu pemerhati lingkungan Landak, Sunoto.

Dia memberikan apresiasi kepada masyarakat yang melapor kepada pihak terkait sebelum membakar. "Nantinya, laporan itu akan dilaporkan secara berjenjang oleh institusi tersebut. Seperti Kades yang akan melaporkan ke Camat sampai ke Pemkab. Demikian juga dengan institusi lainnya," kata Sunoto.

Ia mengajak masyarakat supaya mengikuti prosedur berlaku sebelum membakar lahan untuk bercocok tanam.

"Kita tidak bisa melarang secara serta merta kepada masyarakat yang hendak membakar lahan untuk bercocok tanam. Sebab, bercocok tanam yang dilakukan masyarakat petani itu untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari keluarga," ungkapnya.

Selain itu tambahnya, membuka lahan dengan cara membakar itu memang sudah menjadi kearifan lokal bagi masyarakat Landak.

"Sebab, sejak dari nenek moyang, tradisi membakar lahan itu sudah dilakukan secara turun temurun hingga saat ini. Hanya saja, pembakaran lahan yang dilakukan itu harus mengikuti prosedur yang ada," katanya. (dvi/ang)