Harga Gas Melon di Serimbu Rp50 Ribu

Landak

Editor Admin Dibaca : 436

Harga Gas Melon di Serimbu Rp50 Ribu
SUSUN GAS – Seorang pedagang menyusun tabung gas elpiji tiga kilogram. Harga gas melon di Desa Serimbu, Kecamatan Air Besar, Landak, mencapai Rp50 ribu. IST
NGABANG, SP – Harga elpiji tiga kilogram atau gas melon di Desa Serimbu, Kecamatan Air Besar, Landak,  mencapai Rp50 ribu.

"Sebelumnya seharga Rp35 ribu. Tapi sekarang naik menjadi Rp40 ribu hingga Rp50 ribu per tabung," kata satu di antara warga Serimbu, Maya, Rabu (26/12).  

Selain harga melambung tinggi, gas melon juga semakin susah didapat. "Saya tidak tahu kemana larinya gas itu. Kami sudah mulai putus asa, karena kesulitan mencari. Bahkan, kami mulai berpikir untuk memakai kayu bakar," akunya.  

Ia berharap, pemerintah bisa merespons mahal dan langkanya gas melon itu. "Jika ada yang menjual dengan harga tinggi, kita minta pemerintah bisa mengambil sikap. Demikian juga jika terjadi penimbunan, pemerintah bisa menindak tegas," harap ibu rumah tangga ini.  

Sekda Landak, Vinsensius mengatakan, sesuai aturan harga jual gas elpiji dari pemerintah, memang tidak ada kenaikan harga gas, khususnya ukuran tiga kilogram.  

Menurut dia, harga jual gas bersubsidi tetap Rp18 ribu per tabung. Harga itu sudah didistribusikan dari pangkalan ke pengecer. Hanya saja, ada peluang spekulan dadakan yang muncul jelang Hari Raya Natal dan Tahun Baru.  

“Mereka coba menaikan harga di atas Rp18 ribu per tabung. Dia tidak menjual harga normal," ujar Vinsensius.  

Kenaikan karena ada hukum ekonomi, semakin sedikit barang, banyak permintaan, harga pun naik. "Padahal sebenarnya barang itu tetap. Hanya dibuat sedikit oleh spekulan dadakan," katanya.  

Belum lama ini Pemkab Landak sudah menggelar operasi pasar di Pahauman dan Senakin, Kecamatan Sengah Temila, bekerja sama dengan Tim Satgas Pangan Landak yang menjual harga normal untuk gas melon.  

Terkait masih ada ASN di lingkungan Pemkab Landak, yang masih menggunakan gas melon, ia mengatakan hal itu situasional. Sebab, ASN ini juga manusia. Para pedagang juga manusia. Dalam situasi sangat memerlukan saat ini, kemudian keperluan dari masyarakat itu sangat tinggi, sedangkan barang yang sebenarnya cukup tapi distribusinya terbatas karena waktu dan sebagainya, mau tak mau cari pilihan.  

“Ini pun bersifat situasional. Jadi minta dipahamilah ASN atau pedagang menggunakan itu. Apalagi untuk keperluan Natal dan Tahun Baru," katanya.  

Ia mengaku, ASN di Landak memang sudah diwajibkan memakai gas ukuran lima kilogram. Hanya saja dalam situasi seperti ini, keperluan jadi meningkat.  

Vinsen mengatakan memang ada upaya untuk mengatasi penjualan harga gas yang teramat tinggi. Upaya itu seperti pengawasan, pengawalan dan pengendalian yang lebih intensif dari hari normal.  

"Sekitar dua minggu ini, keberadaan gas melon di Landak memang tidak normal seperti hari biasa. Tapi kita sudah melakukan pengawasan secara intensif," katanya.  

Ia menambahkan, setiap saat Pemkab Landak memang melakukam Sidak ketersediaan gas elpiji, termasuk harganya.   Kepada rumah makan, kafe, restoran serta usaha menengah ke atas, diimbau tidak menggunakan gas melon. “Ini demi kebaikan bersama. Sesuai aturan main, dia sudah melanggar aturan. Sanksinya seperti denda sampai kepada pencabutan izin usahanya," tegasnya.  

Anggota DPRD Kabupaten Landak, Yohanes meminta Pemkab Landak bisa menentukan Harga Eceran Tertinggi (HET) terhadap gas melon. Hal itu mengingat tidak seragamnya harga jual gas bersubsidi tersebut di masyarakat.  

"Saya kira Pemkab Landak bisa menentukan HET untuk gas subsidi itu. Dengan demikian, tidak ada lagi agen maupun penjual yang menjual di luar HET yang sudah ditetapkan, " ujar Yohanes.  

Selain itu ia juga berharap penentuan HET itu harus memperhatikan juga jarak tempuh dari Ngabang, ke sejumlah kecamatan.  

"Kita harus melihat jarak tempuh pendistribusian gas itu dari agen ke pengecer, terutama di daerah pedalaman Landak. Jangan pula bisnis gas elpiji yang mereka lakukan merugikan dirinya sendiri," katanya.  

Ia juga meminta Pemkab Landak bisa lebih intensif lagi meningkatkan penyaluran gas melon ke masyarakat. Sebab, disinyalir penyaluran gas bersubsidi itu salah sasaran.  

"Buktinya, yang seharusnya gas elpiji melon itu untuk orang miskin, tapi pada kenyataannya masih ada orang yang memiliki ekonomi tergolong mampu juga menikmati. Bahkan, ada pengusaha menengah ke atas seperti kafe, hotel dan rumah makan masih menggunakan gas elpiji," jelasnya.  

Apalagi, biasanya pengusaha itu membeli gas elpiji dengan jumlah yang banyak. "Jelas ini membuat gas melon menjadi langka. Belum lagi adanya penimbunan yang dilakukan agen atau pengecer. Oleh karena itu, Pemkab Landak bisa mengambil sikap dalam hal ini," harapnya. (dvi/ang)