Program Sejuta Rumah di Landak Mangkrak

Landak

Editor hendra anglink Dibaca : 55

Program Sejuta Rumah di Landak Mangkrak
Rumah mangkrak
NGABANG, SP - Program sejuta rumah di Jalan Munggu, Desa Raja, Ngabang, Landak, mangkrak. Pasalnya, pekerja yang memulai pembangunan pada tahun 2017 tersebut, kini sudah tidak beraktivitas.

Perencanaan awal, dari seribu rumah yang dibangun, hanya berdiri satu buah rumah percontohan. Pantauan di lokasi, terlihat juga tumpukan batako yang sebagian sudah hancur. Selain itu, ada satu bangunan yang diduga kantor developer.

Kepala Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Pemukiman dan Lingkungan Hidup (DPRKPLH) Landak, Herman Masnur mengatakan, pembangunan rumah itu memang merupakan program sejuta rumah. Tapi untuk di Landak, hanya beberapa rumah saja yang dibangun.

"Pembangunan rumah itu sebetulnya sudah dibangun sejak tahun 2017 lalu. Tapi kita tidak tahu apa penyebabnya bengkalai," ujar Masnur, Minggu (6/1).

Pemerintah sebelumnya sudah memulai pembangunan dengan peletakan batu pertama, seharusnya pihak pelaksana tinggal meneruskan pembangunan rumah hingga selesai.

"Sampai sekarang tidak ada kejelasan. Kita juga tidak tahu apa penyebabnya pembangunan rumah itu terjadi mangkrak. Yang jelas, dari kami masalahnya sudah selesai semua, tidak ada yang nyangkut lagi," akunya.

Masnur memperkirakan, kemungkinan pembangunan perumahaan itu akan dilanjutkan. Namun dia tidak tahu pasti kapan.

"Apalagi pembangunan rumah itu sudah ada regulasi dari kita. Direncanakan dibangun seribu rumah dulu, meskipun program ini merupakan program sejuta rumah. Lahan pembangunan rumah juga sudah disiapkan belasan hektare," jelasnya.

Mantan Camat Ngabang, Yosep mengaku, pembangunan program sejuta rumah itu dibangun sejak ia masih menjabat.

Dia menjelaskan, pembangunan rumah itu diambil alih dari Asosiasi Pengembang Perumahan Rakyat Indonesia (Asperi) ke Real Estate Indonesia (REI).

“Kamikan hanya menyediakan data konsumen. Pada intinya, konsumen sudah kita data. Masalah verifikasi dan sebagainya itu merupakan tugas dari pihak yang membangun rumah," ujar Yosep.

Jika pembangunan rumah itu mangkrak, seharusnya harus ditindaklanjuti oleh REI. Namun dia harap pembangunan dilanjutkan kembali.

“Apalagi lahan untuk mendirikan rumah itu tidak bermasalah. Tinggal penyelesaian administrasi perubahan status lahan dari lahan pertanian ke lahan perumahan. Itu prosesnya tidak gampang," kata Kepala Disporapar Landak ini.

Ia berharap, hal-hal yang berkaitan dengan persyaratan harus segera dituntaskan. 

"Sayang sekali jika lahan dan pembangunan rumah itu terbengkalai tidak dilanjutkan. Rumah tersebut memang diperuntukkan bagi masyarakat ekonomi menengah dan PNS Golongan I dan II," katanya.

Yosep mengaku, harga rumah yang ditawarkan ke masyarakat merupakan harga standar yang disampaikan Presiden RI, Joko Widodo. Jadi nanti yang dibantu oleh pemerintah itu seperti jalan, air dan mungkin nanti ada subsidi juga. Sebab, secara global harga sudah ditetapkan.

“Mungkin nanti ada pengurangan-pengurangan. Nanti dari pihak REI yang akan menjelaskannya kepada konsumen. Kita hanya sebagai penyedia lahan saja," terangnya.

Satu di antara masyarakat, Yanto mengaku, batal mengambil rumah tersebut. Ia beralasan, harga rumah yang dipatok terbilang mahal bagi dirinya yang memiliki ekonomi menengah.

Harga rumah tersebut sebesar Rp142 juta. Dengan uang muka sudah subsidi sebesar Rp5.420.000 dan kredit sebesar Rp136.580.000. Sedangkan jangka waktu angsuran untuk 10 tahun sebesar Rp1.475.000, 15 tahun sebesar Rp1.104.900 dan 20 tahun sebesar Rp913.000.

“Harga ini cukup mahal jika dibandingkan dengan perumahan yang dibangun swasta," akunya.

Sesuai informasi yang dia terima, pembangunan sejuta rumah itu memang membantu bagi masyarakat yang kurang mampu guna memenuhi kebutuhan rumah.

"Tapi pada kenyataannya masih mahal juga. Kami sudah satu kali melakukan pertemuan dengan pihak developer. Ketika saya lihat sudah tidak sesuai lagi dengan sosialisasi yang sudah dilakukan, saya tidak hadir lagi ketika ada pertemuan selanjutnya. Saya mundur teratur," katanya.

Yanto mengaku, belum ada menyetor sejumlah uang kepada developer. "Kalau harganya belum cocok, saya tidak mau setor duit. Sebelumnya mereka sudah ada minta sejumlah uang sebesar Rp2 juta sebagai tanda jadi," ucapnya.

Ia menyambut baik program sejuta rumah itu akan dilanjutkan kembali. "Namun kalau harganya mahal, saya tidak berbinat," tegasnya. (dvi/ang)