Karolin Minta Hargai Perbedaan

Landak

Editor elgiants Dibaca : 213

Karolin Minta Hargai Perbedaan
BUPATI LANDAK - Karolin Margret Natasa saat diwawancarai sejumlah media saat menghadiri pembukaan PGD ke 34 di Rumah Radakng Pontianak. Pada kesempatan itu dia meminta kepada peserta PGD untuk menghargai perbedaan. Ist
Bupati Kabupaten Landak, Karolin Margret Natasa menghadiri pembukaan Pekan Gawai Dayak (PGD) ke 34 di Rumah Radakng Pontianak, Kalimantan Barat, Senin (20/5). Kegiatan PGD itu dibuka langsung Presiden Majis Adat Dayak Nasional (MADN), Cornelis dan Gubernur Kalimantan Barat, Sutarmidji. 

Kegiatan PGD itu sendiri dijadwalkan akan  berlangsung 20 - 26 Mei 2019. Pada PGD ke 34 kali ini Karolin mengajak masyarakat untuk dapat melestarikan dan mengembangkan kebudayaan dari nenek moyang, terutama pada generasi muda yang harus tahu dan wajib untuk mempelajari kebudayaan nenek moyang.

“Kita berharap ajang Pekan Gawai Dayak bukan hanya ajang para sanggar untuk unjuk kebolehan dalam mengirim kontingen. Tetapi anak–anak muda Dayak bisa belajar dan mengembangkan kebudayaan dari nenek moyang ini, sehingga bisa terus dilestarikan,” ucap Karolin saat diwawancarai oleh media usai pembukaan PGD ke 34.

Selain itu, Bupati Landak juga mengajak masyarakat Kalimantan Barat dan kontingen Kabupaten Landak untuk dapat menghargai perbedaan. Apalagi saat pelaksanaan PGD tersebut bertepatan dengan bulan suci Ramadhan, sehingga pelaksanaan dua kegiatan itu dapat berjalan secara bersamaan dan penuh kedamaian.

“Saya mengimbau kontingen Kabupaten Landak dan masyarakat yang melaksanakan PGD dapat menghargai perbedaan dalam beragama, sehingga bisa menghargai umat Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa dan kita juga dapat melaksanakan kegiatan PGD secara aman dan damai,” seru Bupati cantik ini.

Bukan tanpa alasan, Karolin menilai secara garis besar gawai memiliki makna sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan. Oleh karena itu dalam perayaan gawai itu sendiri juga harus saling menghormati satu sama lain. Termasuk menghargai masyarakat Kalimantan Barat yang memang multi etnis dan agama. 

“Secara garis besar Gawai ini juga merupakan ucapan syukur kita kepada Tuhan atas rejeki padi yang diberikan tahun ini,” kata Karolin. (dvi/nak)