Minggu, 17 November 2019


1.048 Jiwa Terdampak Banjir Mandor

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 79
1.048 Jiwa Terdampak Banjir Mandor

BERI BANTUAN - Bupati Landak, Karolin Margret Natasha saat memberikan bantuan kepada masyarakat yang terdampak banjir di Kecamatan Mador, Sabtu malam (08/06). Bupati menurunkan personil dari BPBD Kabupaten Landak yang di bantu pihak TNI dan POLRI untuk me

LANDAK, SP – Hujan deras yang terjadi sejak Jumat 7 Juni 2019 di wilayah Kabupaten Landak mengakibatkan beberapa kecamatan di Kabupaten Landak mengalami musibah seperti banjir di Kecamatan Mandor, Kecamatan Sengah Temila dan tanah longsor di Kecamatan Kuala Behe sehingga berdampak pada lumpuhnya aktifitas masyarakat dalam melaksanakan kegiatan sehari-hari.

Seperti di Desa Mandor, Kecamatan Mandor, akibat tingginya intensitas curah hujan yang mengakibatkan meluapnya sungai Mandor sehingga masyarakat di Desa Mandor mengalami musibah banjir yang terjadi sejak Jumat malam (07/06) dan hingga saat ini masih menggenangi rumah warga.

Pada Sabtu malam (08/06) Bupati Landak, Karolin Margret Natasa mengunjungi korban banjir di Desa Mandor, Kecamatan Mandor dengan didampingi Sekretaris Daerah Landak, Kasdim 1201/Mempawah, Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Landak, Camat Mandor, Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Mandor, dan Kepala Desa Mandor ke posko pengungsian di Kantor Desa Mandor untuk melihat kondisi masyarakat serta mengunjungi kediaman orang tua korban yang meninggal dunia.

“Untuk saat ini kondisi kedalaman air sudah mulai berkurang namun hanya rumah yang berada di bantaran sungai masih terendam banjir, tetapi kita masih meminta masyarakat untuk tetap mengungsi di posko pengungsian mengingat kondisi cuaca yang masih berpotensi hujan yang dikhawatirkan mengakibatkan banjir kembali lagi,” ucap Bupati Landak di sela kunjungannya.

Berdasarkan data dari BPBD Kabupaten Landak ada 3 Dusun yang terkena banjir yakni Dusun Mandor dengan jumlah korban yang terkena dampak banjir 983 jiwa atau 250 Kepala Keluarga (KK), Dusun Kopiang 47 jiwa atau 13 KK dan Dusun Liansipi 18 jiwa atau 5 KK. Selain warga yang terdampak, banjir kali ini juga menelan satu orang korban jiwa yakni Heru Gunawan (19) tahun.

“Ada 3 dusun yang terdampak banjir di Desa Mandor, Kecamatan Mandor yakni Dusun Mandor, Dusun Kopiang dan Dusun Liansipi dengan jumlah korban yang terkena banjir sebanyak 1.048 jiwa atau 268 Kepala Keluarga (KK) dengan menelan satu korban jiwa,” terang Karol lebih lanjut.

Saya mengimbau kepada seluruh masyarakat Kabupaten Landak dalam situasi bencana dan musibah ini agar berhati-hati serta saling menjaga, apabila kondisi tempat masyarakat sudah terendam banjir dan tidak bisa ditempati sebaiknya mengutamakan keselamatan jiwa dengan mengungsi di Posko pengungsian yang berada di Kantor Desa Mandor,” tambahnya meberikan himbauan.

Dalam tinjauannya, Bupati Landak juga sekaligus memberikan bantuan kepada masyarakat yang terdampak banjir di Kecamatan Mador dengan memberikan posko pengungsian, posko kesehatan, dapur umum dan bantuan sembako serta memberikan pertolongan evakuasi kepada masyarakat yang masih berada ditempat tinggal mereka dengan menurunkan personil dari BPBD Kabupaten Landak yang di bantu pihak TNI dan POLRI.

“Selain membuka posko pengungsian kita juga sudah membuka posko kesehatan dan dapur umum serta bantuan beras dan bahan makanan terhadap korban terdampak banjir ini, untuk mereka yang sakit saat ini sudah dirawat di Puskesmas yakni satu orang akan melahirkan dan satu orang lumpuh. Kita juga bekerjasama dengan pihak Kodim 1201/Mempawah dan Polres Landak untuk mambantu BPBD Kabupaten Landak dalam melakukan evakuasi terhadap masyarakat yang masih berada di tempat tinggal mereka,” pungkasnya. (dvi/nak)

Sektor Perkebunan Tumbuh Masif

Salah satu mahasiswa asal Kabupaten Landak, Benediktus mengaku prihatin dengan kondisi Landak dalam beberapa tahun terakhir yang acapkali mengalami banjir besar. Terlebih kata Benediktus hingga saat ini banjir tersebut telah juga memakan korban jiwa.

“Kita tentu prihatin, banjir yang sekarang kerap melanda wilayah kabupaten Landak telah memberikan sinyal kepada kita bahwa alam telah rusak cukup parah,” kata Benediktus di Pontianak, Minggu (9/6)

Menurutnya jika kesemibangan alam mampu dijaga oleh manusia tentu kondisi seperti ini bisa dihindari. Walaupun kata Benediktus banjir adalah hal yang lumrah terjadi saat memasuki musim penghujan. Namun dirinya berkeyakinan apabila alam masih seimbang tentu tidak akan berdampak parah.

“Hutan-hutan kita sudah banyak yang gundul, sektor perkebunan demikian masif membuka lahan, akibatnya daerah resapan air berkurang sangat drastis dan pada akhirnya menyebabkan banjir bandang saat hujan turun dengan intensitas tinggi,” imbuhnya.

Oleh karena itu, mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan di salah satu perguruan tinggi di kota Pontianak ini meminta agar pemerintah daerah bisa menekan lajunya perkembangan sektor perkebunan yang ia nilai telah banyak membabat hutan.

“Kalbar ini sektor perkebunan berkembang pesat di wilayah Landak salah satunya, apabila kondisi ini kkita biarkan terus maka hutan bisa habis dan nasib kita berada di ujung tanduk, ancaman banjir dan tanah lonsgosor tinggal menunggu menjadi bom waktu yang mengancam masa depan warga Kalimantab Barat dan Landak khususnya yang sejak beberapa tahun terakhir seri ng mengalami banjir besar,” pungkas Benediktus. (nak)