Jumat, 13 Desember 2019


Pemkab Gelar Upacara Harganas dan HKN

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 76
Pemkab Gelar Upacara Harganas dan HKN

INSPEKTUR UPACARA - Bupati Landak, Karolin Margret Natasa bertindak selaku inspektur upacara pada peringatan Harganas dan HKN yang berlangsung di halaman Kantor Bupati Landak, Rabu (17/7) pagi.

NGABANG, SP - Dalam rangka memperingati Hari Keluarga Nasional (Harganas) ke-26, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Landak menggelar upacara yang berlangsung di halaman Kantor Bupati Landak, Rabu (17/7) pagi. 

Upacara yang digelar bersamaan dengan Hari Kesadaran Nasional (HKN) itu dipimpin langsung Bupati Landak, Karolin Margret Natasa yang bertindak sebagi inspektur upacara. Hadir juga dalam upacara tersebut, seluruh Kepala Organisasi Perangkat Daerah (OPD) dan Aparatur Sipil Negara (ASN) dilingkungan Pemkab Landak.

Dalam sambutan Gubernur Kalimantan Barat yang di bacakannya, Bupati mengungkapkan, peringatan Harganas dapat dimaknai sebagi ajang mensosialisasikan program Kependudukan Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga (KKBPK).

“Peringatan Harganas Hari ini merupakan ajang untuk menggelorakan dan mensosialisasikan program Kependudukan Keluarga dan Pembangunan Keluarga untuk mewujudkan bangsa Indonesia yang berkarakter dan sejahtera,” jelas Karolin.

Melalui peringatan Harganas ke-26 itu, Bupati Landak juga menyampaikan, setidaknya ada empat konsep pendekatan ketahanan keluarga.

“Pada peringatan Harganas ke-26 ini, merefleksikan empat konsep pendekatan ketahanan keluarga. Empat konsep itu yakni, keluarga berkumpul, keluarga berinteraksi, keluarga berdaya serta keluarga peduli dan berbagi,” jelasnya.

Lebih lanjut Karolin menyampaikan pentingnya keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat sebagai sarana membentuk karakter dan menentukan kualitas bangsa.

“Keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat. Peran keluarga sangat penting untuk membentuk  karakter dan menentukan kualitas bangsa. Keluarga merupakan pondasi dalam menopang berkempangnya sebuah bangsa," katanya.

Karolin juga mengungkapkan, ada delapan fungsi dari keluarga yang merupakan wahana pertama dan utama dalam sosialisasi nilai-nilai kehidupan, dimana dengan menjalankan fungsi-fungsi tersebut, suatu keluarga  akan berkualitas dan berketahanan serta berkarakter yang nantinya akan menciptakan bangsa Indonesia yang sejahtera.

“Keluarga sebagai wahana pertama dan utama dalam sosialisasi nilai-nilai kehidupan memiliki fungsi agama, cinta kasih, perlindungan, ekonomi, sosial pendidikan, reproduksi,sosial budaya, dan lingkungan,” jelas Karolin.

Dia berharap, adanya Harganas itu dapat dijadikan momentum untuk mewujudkan visi dan misi pembangunan keluarga.
“Saya harap dengan Harganas ke-26 tahun 2019 ini dapat menjadikan momentum dan kesempatan untuk mewujudkan visi dan misi pembangunan  keluarga,” ucapnya.

Selain itu tambah Karolin, diharapkan juga sebagai ajang untuk meningkatkan komitmen dan sinergitas antara pemerintah, swasta maupun mitra lainnya dalam mendukung keberhasilan program pembangunan keluarga. (dvi/nak)

Jangan Hanya Sibuk Seremonial

Salah satu mahasiswa asal Kabupaten Landak, Benediktus berharap agar peringatan terhadap hari-hari tertentu yang acap dilakukan oleh pemerintah tidak hanya menjadi seremonial belaka. Selama ini menurutnya acapkali peringatan-peringatan hanya merupakan bentuk rutinitas dan seremonial yang tidak membawa pengaruh sama sekali.

“Silahkan maupun peringatan apapun, tapi harus ada penekanan. Apa yang ingin dicapai pada momentum tersebut dan bagaimana realisasinya. Jangan hanya di sebut sebut saja, harus real dan nyata tindakan yang diambil,” ulasnya saat di temui di Pontianak, Rabu (17/7).

Benediktus menilai upaya membangun masyarakat harus nyata dilakukan oleh pemerintah. Pemerintah dewasa ini lanjutnya tidak lagi bisa bermain-main dalam mewacanakan suatau program atau arah pembangunan sebab masyarakat sudah semakin pintar dan dewasa.

“Masyarakat kita semakin hari sudah semakin cerdas dalam menilai kinerja pemerintah, jadi pemerintah tidak lagi bisa main-main,” ucapnya.

Terhadap kondisi keluarga indonesia dewasa ini, Benediktus menilai masyarakat secara keseleuruhan belum mampu lepasa dari yang namanya jerat kemiskinan. Ini menjadi PR besar untuk pemerintah.

“Kita harus mampu lepas dari jerat kemiskinan, kebijakan harus berpihak p[ada rakyat bukan segelintir orang atau keluarga pejabat,” pungkasnya. (nak)