Jumat, 13 Desember 2019


Karolin Ingin Benahi Bidang Pertanian

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 153
Karolin Ingin Benahi Bidang Pertanian

BERI BANTUAN - Bupati Landak, Karolin Margret Natasa menyerahkan bantuan sarana dan prasarana alat dan mesin pertanian kepada kelompok tani. Penyerahan dilakukan saat peringatan Hari Krida Pertanian (HKP) di DPPKP Landak, Kamis (18/7).

NGABANG, SP - Dinas Pertanian, Perikanan dan Ketahanan Pangan (DPPKP) Kabupaten Landak menggelar peringatan Hari Krida Pertanian (HKP) ke-47 Tingkat Kabupaten Landak tahun 2019 di DPPKP Landak, Kamis (18/7). 

Peringatan HKP ini dihadiri langsung oleh Bupati Landak, Karolin Margret Natasa. Hadir juga sejumlah Kepala SKPD dilingkungan Pemkab Landak, pelaku pertanian dan tamu undangan lainnya. Adapun tema yang diambil dalam peringatan HKP tersebut yakni “Membangun Infrastruktur dan SDM Menuju Pertanian yang Berdaya Saing, Maju, Mandiri dan Sejahtera.
 
Menurut Plt Kepala DPPKP Landak, Alpius, seyogyanya peringatan HKP itu dilakukan setiap tanggal 21 Juni.

"HKP ini kita lakukan untuk konsolidasi, pengembangan diri, tukar menukar informasi, apresiasi, kemitraan dan butuh kerjasama juga, baik DPPKP Landak dengan penyuluh pertanian dan kelompok tani," ujarnya pada kesempatan tersebut.

Sedangkan tujuan digelarnya peringatan HKP itu, untuk mensosialisasikan program-program pembangunan pertanian dan memberikan wacana berpikir, kerja keras dan inovasi teknologi yang baik kepada masyarakat petani di Landak.

"Dengan demikian, dapat meningkatkan wawasan dan pengetahuan penyelenggara dan pelaku pembangunan pertanian. Selain itu, peringatan HKP juga merupakan evaluasi pembangunan sektor pertanian agar lebih meningkat di masa yang akan datang," terang Kepala Dinas Perkebunan Landak ini. 

Sementara itu, Bupati Landak, Karolin Margret Natasa saat membuka kegiatan peringatan HKP itu mengatakan, pertanian merupakan sektor penggerak utama pertumbuhan ekonomi di Landak. 

"Kini kita tengah berbenah dalam perbaikan infrastruktur pertanian. Salah satu yang sedang dibenahi yakni infrastruktur pertanian," akunya. 

Karolin mengakui, pencapaian kemajuan Landak sangat dipengaruhi oleh kemajuan pertanian yang ada. Apalagi secara mayoritas penduduk Indonesia merupakan petani, termasuk Landak.

"Kabupaten Landak mempunyai cita-cita ingin menjadi kabupaten yang mandiri, maju dan sejahtera. Ada berbagai macam cara yang dapat kita tempuh untuk mencapai itu. Salah satunya dengan meningkatkan kualitas pertanian yang ada di Landak," imbuhnya.
 
Mantan anggota DPR RI ini menambahkan, salah satu kunci meningkatnya kualitas pertanian yang ada yakni bagaimana infrastruktur dan SDM pertanian yang mendukung.
 
"Disatu sisi, para petani kita dituntut untuk memproduksi hasil pertanian yang banyak, berkualitas dan berdaya jual tinggi. Namun, dilema terjadi disini, karena disisi yang berbeda, para petani kita kewalahan akan itu, dengan melihat infrastruktur yang boleh dikata masih terbilang minim," ucapnya.

Diakuinya juga, memang sangat dirindukan oleh para petani di Landak adanya infrastruktur pertanian memadai, menunjang keleluasaan dalam proses pertanian dan memberikan kesejahteraan bagi para petani.

"Pembangunan jalan usaha tani merupakan salah satu infrastruktur pertanian yang sangat berperan penting dalam kemajuan dan hasil tani sendiri,” sebut Karolin.
 
"Apalah arti hasil yang berkualitas jika akses untuk membawa keluar hasil tani guna untuk pemasaran tidak mendukung. Medan yang sulit dijangkau oleh kendaraan adalah salah satu masalah serius yang kerap kali dirasakan oleh para petani," lanjutnya. 

Selain transportasi pemasaran lanjut bupati, akses jalan juga harus menjadi tolak ukur guna memudahkan para petani untuk melakukan aktivitasnya.

"Untuk itu, sejak tahun 2017 hingga 2018 lalu, kita telah membangun jalan usaha tani sepanjang 35.250 M. Pada tahun 2018, produksi padi di Landak mencapai 268.135 ton atau naik 9,66 persen dari tahun 2017 dengan 244.520 ton," terang Bupati. (dvi/nak)

Perlu Pembinaan Serius Petani Lokal

Salah satu mahasiswa asal Kabupaten Landak, Benediktus menilai memang sudah seharusnya pemerintah memperhatikan nasib para petani. Lebih khusu lagi para petani lokal yang selama ini sulit berkembang.

“Masyarakat lokal kita sedang menghadapi masa transisi dalam hal bertani, mereka butuh bimbingan dan dukungan penuih pemerintah,” kata mahasiswa salah satu perguruan tinggi di Pontianak ini.

Menurutnya kebiasaan masayarakat lokal sejak dulu adalah berladang dan belum mengenal cara bertani yang tersistem dengan menggunakan perangkat pendukung seperti pupuk dan mesin pertanian.

“Tapi perlahan kan kebiasaan itu mulai hilang karena hutan kita juga sudah tak selebat dahulu. Sudah sulit mempraktikan cara berladang. Petani lokal mulai belajar sitem bertani yang lebih jauh dari kesan seperti bakar membakar,” terangnya (nak)