Polri Siaga Hadapi Musim Kemarau

Landak

Editor elgiants Dibaca : 74

Polri Siaga Hadapi Musim Kemarau
PADAMKAN API - Kapolres Landak, AKBP Bowo Gede Imantio bersama sejumlah pejabat utama dilingkungan Polres Landak memadamkan kobaran api yang membakar lahan milik warga di Desa Serimbu, Kecamatan Air Besar, Sabtu (20/7). Ist
NGABANG, SP - Kapolres Landak AKBP Bowo Gede Imantio beserta sejumlah pejabat utama dilingkungan Polres Landak berjibaku memadamkan api yang membakar lahan milik masyarakat di Kecamatan Air Besar Kabupaten Landak, Sabtu (20/7). Titik api tersebut terpantau berada di Dusun Serimbu Desa Serimbu, Kecamatan Air Besar.

Dengan sedikit tergesa-gesa, tiga unit kendaraan dinas milik Polres Landak memasuki jalan menuju Kecamatan Air Besar yang jarak tempuh hampir dua jam dari Kota Ngabang. Setibanya di lokasi kebakaran lahan tersebut, Kapolres Landak dengan langsung dipandu Kapolsek Air Besar, Iptu Elvis Satria Efdi beraksi memadamkan api.

Lokasi lahan warga yang terbakar itu memang cukup menantang. Lokasi itu berada di lereng bukit, sehingga tim sedikit kesulitan memadamkan api. Hal itu dikarenakan mesin pengantar air sedikit tersendat.

"Polres Landak akan berusaha hadir dimanapun titik api terpantau," ujar Kapolres. 

Kapolres menegaskan selama masih bisa terjangkau, Polri akan mendatangi dan berupaya untuk mencegah dan menanggulangi Karhutla yang terjadi di daerah teritorialnya.

"Meski dengan peralatan seadanya, Polri akan berusaha ikut memadamkan titik api yang ada," katanya.

Lebih lanjut Bowo mengatakan, sejumlah peralatan pemadam api dan personel sudah disiagakan di Polres Landak. Kesiap siagaan yang dilakukan itu dalam rangka mengantisipasi kejadian Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di wilayah hukum Polres Landak.

"Menghadapi Karhutla ini, kita harus mengambil langkah cepat dan tepat. Kita sudah mempersiapkan segala sesuatu yang dibutuhkan dalam rangka penanganan Karhutla ini. Kesiapan yang kita lakukan itu mulai mempersiapkan mesin mini pemadam api hingga personelnya. Kami tidak mau kecolongan. Sebab, musim kemarau yang mulai melanda memungkinkan akan terjadinya Karhutla," ucapnya.

Bowo mengakui, wilayah Landak yang cukup luas dan medan yang cukup sulit menjadikan persiapan dilakukan sedini mungkin meski operasi Karhutla belum dimulai.

"Kami mengimbau kepada masyarakat atau pihak manapun yang akan membuka lahan untuk tidak melakukan dengan cara membakar. Kamipun melaksanakan patroli monitoring ke Polsek yang berpotensi terjadinya Karhutla," terangnya.

Sementara itu, Kapolsek Air Besar Iptu Elfis Satria memberikan teguran dan imbauan kepada pemilik lahan agar tidak membakar lahan lagi saat membuka areal perkebunannya. Hal ini langsung disampaikan Kapolsek kepada salah satu warga yang membakar lahan.

"Bapak Asmuni, tolong lain kali jangan bakar lagi lahannya," kata Kapolsek setengah menasehati pemilik lahan yang sudah sepuh.

Adapun areal lahan yang dibakar itu sekitar 0,5 Hektar. Sabtu sore kemarin, api pun dapat dipadamkan dengan cepat.

"Sama halnya dengan Polres Landak. Kami di Polsek Air Besar juga melakukan pencegahan Karhutla di wilayah hukum Polsek Air Besar. Berbagai cara kita lakukan. Salah satunya dengan menyiapkan alat pemadam kebakaran (Damkar)," jelas Elfis.

Dia menambahkan, pihaknya sudah menyiapkan alat Damkar berupa mesin penyedot air. Alat Damkar itu juga dilengkapi dengan selang penyedot air dan selang penyemprot.

"Sebagai upaya penanganan Karhutla, kita telah menyusun persiapan, baik personel maupun sarana dan prasarana yang dipergunakan oleh anggota apabila terjadi Karhutla," katanya.

Selain menyiapkan peralatan Damkar tambah Elfis, pencegahan Karhutla juga dilakukan secara persuasif dengan mendatangi warga, terutama mereka yang berprofesi sebagai petani untuk tidak membuka lahan pertanian dengan cara membakar. (dvi/nak)

Jaga Kobaran Api 

Salah satu warga Desa Serimbu Kecamatan Air Besar, Muhram mengaku jika dia memiliki lahan yang sudah dibersihkan setahun yang lalu. 

"Setau saya, waktu itu ketika kita hendak membakar lahan, kita harus melapor dulu ke aparatur desa setempat, pihak kecamatan, pihak Polsek dan pihak Koramil. Saya sudah melakukan hal itu," aku Muhram. 

Dikatakannya, laporan itu dilakukan supaya api yang membakar lahan dapat terjaga dan tidak menjalar kemana-mana.

"Setelah kita melapor, mereka juga ikut menjaga kobaran api supaya tidak menjalar kemana-mana, " ujarnya. 

Dia juga menjelaskan, memang ada aturan yang jelas untuk membuka lahan guna berladang dan berkebun sesuai kearifan lokal.

"Kalau tidak salah saya aturannya yakni UU Nomor 41 tahun 1999 tentang Kehutanan. UU inipun sudah sering disosialisasikan kepada masyarakat," imbuhya. 

Diterangkannya juga, dalam UU itu, masyarakat petani hanya diperbolehkan untuk membakar lahan dengan luas maksimal dua hektare per Kepala Keluarga.
 
"Sebelum membakar, disekitar lahan yang akan dibakar itu dikelilingi oleh sekat bakar sebagai pencegah penjalaran api ke wilayah sekelilingnya," jelas Muhram. (dvi/nak)