Kamis, 19 September 2019


Bahaya Karhutla Capai Level Ekstrem

Editor:

elgiants

    |     Pembaca: 88
Bahaya Karhutla Capai Level Ekstrem

KARHUTLA. Peristiwa Karhutla yang terjadi di Landak pada musim kemarau panjang tahun 2019 ini. Saat ini, bahaya Karhutla di Landak sudah sampai pada level ekstrem. Ist

NGABANG, SP- Akibat kemarau yang berkepanjangan, peringkat bahaya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Landak memasuki tingkat ekstrem. Untuk mengantisipasi hal tersebut, Pemkab Landak mengimbau masyarakat waspada terhadap karhutla.

Bupati Landak Karolin Margret Natasa mengatakan, jika tingkat waspada karhutla disikapi, maka kebakaran akan dapat diminimalisir dan dampaknya juga tidak akan meluas.

“Saat ini masyarakat memang sudah musimnya membakar ladang. Nah, untuk menghindari kebakaran meluas, maka saya mengimbau kepada masyarakat untuk waspada terhadap api tersebut supaya tidak membakar lahan sekelilingnya. Adapun cara sehingga tidak terjadinya kebakaran tersebut, bagi warga yang akan membakar ladang wajib melaporkan kepada kepala dusun, desa hingga camat dan petugas terkait," pinta bupati, Rabu (14/8).

Selain itu, Karolin juga mengimbau warga yang ingin membersihkan sekeliling ladang untuk tidak membakar lahan lainnya. Pembakaran lahan setidaknya bisa dilakukan pada sore hari.

“Berladang dengan cara membakar ini sudah turun temurun yang diwarisi dari nenek moyang kita. Namun, pada saat itu jarang terjadi kebakaran, karena mereka memakai cara tradisional yakni membersihkan sekeliling ladang. Bahkan, membuat parit kemudian membakar ladang pada sore hari," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Perkebunan (Disbun) Landak, Alpius mengakui jika instansi yang dia pimpin sudah menggelar rapat koordinasi dengan pihak terkait terhadap kegiatan karhutla yang ada di Landak.

"Kami sudah melakukan rapat koordinasi berkaitan dengan aktivitas karhutla di Landak. Rakor tersebut kita laksanakan bersama dengan instansi terkait dan perusahaan perkebunan. Kapolres Landak juga ikut hadir dalam rakor itu, " ujar Alpius.

Dia berharap, menghadapi musim kemarau berkepanjangan tahun 2019 ini, semua instansi terkait dan perusahaan perkebunan bisa bersinergi dalam penanggulangan Karhutla.
"Upaya-upaya itu bisa saja melakukan imbauan secara preventif maupun penanggulangannya jika terjadi Karhutla," ucapnya.

Diakuinya, perusahaan perkebunan di Landak juga sudah menyatakan kesiapan untuk menanggulangi karhutla di Landak.

"Mereka sudah siap siaga semua. Mereka juga memobilisasi peralatan Damkar yang mereka miliki. Apalagi tersedianya peralatan Damkar merupakan pra syarat utama bagi perusahaan perkebunan. Sebab dia harus siap sarana dan prasarana dalam upaya penanggulangan dan pencegahan Karhutla," terangnya.

Disamping itu terangnya lagi, karhutla yang terjadi di lahan masyarakat petani, terutama yang berdampingan dengan lahan perusahaan.

"Perusahaan sih pada prinsipnya tidak lagi mengelola lahan usaha perkebunan dengan menggunakan bakar, mereka semuanya tanpa bakar, " terangnya.

Dia juga mengimbau kepada perusahaan perkebunan di Landak supaya membantu jika terjadi kebakaran lahan di areal lahan masyarakat. Disamping itu, pihak perusahaan juga melakukan patroli dilahan konsensi mereka.

"Bagi perusahaan perkebunan yang memiliki luas lahan melampaui dari penguasaan lahan, supaya merevisi luasan lahan yang dimiliki. Sebab, jangan sampai nanti masyarakat membakar lahan, lalu perusahaan yang memiliki ijin konsensi di areal luasan, tidak mempekerjakan masyarakat. Itu akan terkait juga. Makanya kita minta perusahaan untuk melakukan revisi, " jelas mantan Pj Sekda Landak ini. (dvi)

Paham Cara Berladang

Komandan Manggala Agni Daerah Operasi (DAOPS) Pontianak Pondok Kerja Landak, Syarif Hardiansyah mengatakan, saat ini Sistem Peringkat Bahaya Kebakaran (SPBK) di Kabupaten Landak diakuinya memang sudah memasuki level ekstrem.

“Perlu diketahui bahwa untuk peringkat bahaya kebakaran pada minggu ini sudah memasuki tingkat ekstrem dan ini berlaku bukan hanya di Landak tapi di Kalimantan Barat. Namun, untuk Kabupaten Landak, dikarenakan letaknya lebih tinggi dan struktur tanahnya lebih banyak kandungan mineral dibanding Pontianak dan sekitar, maka api akan cepat padam, sehingga asap yang terjadi akibat kebakaran juga cepat hilang," jelas Syarif.

Selain itu Syarif juga menyampaikan, dari hasil pantauan lapangan yang didapat, untuk masyarakat Kabupaten Landak diakuinya sudah banyak yang memahami cara berladang, terutama dalam membakar ladang.

“Meski masih ada terjadi kebakaran di lapangan, tetapi dari hasil yang kami dapat bahwa masyarakat Kabupaten Landak sudah cukup banyak yang memahami berladang dengan cara membakar ladang tersebut," akunya.

Meski begitu lanjutnya, untuk menghindari kebakaran, maka alangkah baiknya warga melaporkan kegiatan tersebut sebelum melakukan pembakaran lahan.

"Hal inipun memang sudah berlaku. Bahkan, kita sudah sering mendapat laporan dari Kepala Desa terkait kegiatan tersebut," pungkasnya. (dvi)