Melawi Gagal Atasi Penyakit Kaki Gajah

Melawi

Editor Kiwi Dibaca : 2619

Melawi Gagal Atasi Penyakit Kaki Gajah
KAKI GAJAH – Seorang wanita penderita kaki gajah mendapat kunjungan Dinas Kesehatan setempat. Sepanjang tahun 2017, telah ditemukan sedikitnya 53 kasus serupa di Melawi. Maka dari itu diperlukan upaya maksimal jajaran pemerintah daerah agar dapat menekan
NANGA PINOH, SP – Upaya mencegah dan mengeliminasi penyakit kaki gajah atau filariasis terus dilakukan Pemerintah Daerah Melawi. Hal itu dilakukan melalui proses Pemberian Obat Massal Pencegahan (POMP) Filariasis yang sebenarnya sudah berjalan lima tahun terpaksa diulang kembali hingga dua tahun ke depan akibat ditemukannya kasus keberadaan cacing filaria yang menjadi penyebab penyakit kaki gajah pada sembilan sampel penduduk. Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Melawi, Ahmad Jawahir dalam pertemuaan koordinasi Pemberian Obat Pencegahan Massal Filariasis di Nanga Pinoh, kemarin mengungkapkan, kasus kaki gajah di Melawi lumayan tinggi. Sepanjang tahun 2017, telah ditemukan sedikitnya 53 kasus. Maka dari itu diperlukan upaya maksimal jajaran pemerintah daerah agar dapat menekan dan mengobati penyakit berbahaya tersebut.

Dari hasil survei melalui Pre Transmission Assesment Survey (Tas), Melawi dinyatakan menekan angka penyakit kaki gajah. Pasalnya masih ditemukan sembilan sampel keberadaan cacing Filaria. “Karena itu Melawi harus kembali melanjutkan pemberian obat massal pencegahan Filariasis pada seluruh penduduk dari 2017 hingga 2018 mendatang,” kata Ahmad, kemarin.

Faktor Keberhasilan program ditentukan oleh tingkat kedisiplinan penderita dalam meminum obat yang memang dibagikan secara gratis. Apalagi program ini menargetkan Indonesia bebas Filariasis pada 2020 mendatang. "Pemberian obat sangat penting. Agar masyarakat kita tidak tertular oleh penyakit kaki gajah. Koordinasi dengan semua pihak terus dilakukan, agar Melawi bisa eliminasi Filariasis," ujarnya.

Ahmad Jawahir pun mengingatkan agar para petugas mengenal betul kondisi rumah tangga penderita kaki gajah dan jika mungkin dikenali melalui stiker rumah tangga peduli kesehatan, untuk menginggatkan warga supaya peduli menginggatkan penderita untuk minum obat. Pemberian obat pencegahan massal filariasis dilakukan terhadap semua penduduk selama satu tahun sekali. Dan sedikitnya dilakukan selama lima tahun berturut turut.

"Semua kecamatan di Kabupaten Melawi endemik Filariasis. Oleh karena itu, kepedulian dan komitmen kita semua sangat diperlukan," harapnya. Pertemuan ini sendiri dihadiri seluruh camat dan kepala Puskesmas dari 11 kecamatan. Termasuk pula sejumlah organisasi diundang untuk ikut memberikan dukungan dan sosialisasi agar kesadaran masyarakat mau meminum obat pencegah Filariasis semakin meningkat. 

Sementara itu, Sekda Melawi, Ivo Titus Mulyono saat membuka kegiatan meminta agar seluruh elemen ikut memberikan dukungan agar Melawi bisa bebas Filariasis dan tak ada lagi kasus baru yang muncul pasca pelaksanaan program POMP Filariasis. “Salah satu penyebab gagal ini karena kita tak rutin meminum obat anti Filariasis.

Nah,
camat dan kader yang hadir di sini bisa terus memakan obatnya sehingga pada 2019 ke depan kita bisa terbebas dari penyakit ini,” katanya.
Sekda menambahkan, penyakit Filariasis bisa menurunkan produktivitas kerja, menjadi beban keluarga serta menimbulkan kerugian secara ekonomi bahkan juga kecacatan. Karena itu, masyarakat Melawi didorong berpartisipasi aktif dalam bulan eliminasi kaki gajah yang digelar setiap bulan Oktober. (eko/ang)      

Komentar