Harga Gas ‘Melon’ Melonjak

Melawi

Editor Kiwi Dibaca : 887

Harga Gas ‘Melon’ Melonjak
HARGA GAS NAIK – Dua pekerja memuat puluhan tabung gas elpiji 3 kilogram ke dalam truk untuk didistribusikan ke daerah. Sejak satu bulan terakhir, gas ‘melon’ itu langka di Melawi, jika pun ada, harganya sudah mencapai Rp25 ribu per tabung dari sebelumnya
NANGA PINOH, SP – Dalam satu bulan terakhir harga gas elpiji bersubsidi 3 kilogram mengalami kenaikan di Melawi. Di sejumlah pangkalan dan toko harga tabung gas ‘melon. ini naik dari yang awalnya hanya Rp18 ribu menjadi Rp23 ribu sampai Rp25 ribu per tabung. Seorang pengelola rumah makan di Nanga Pinoh, Dedi Kurniawan mengungkapkan, kenaikan tabung gas ‘melon’ sudah dirasakan sejak kurun waktu sebulan terakhir.

“Harga normalnya biasa Rp18 ribu kalau di eceran. Sekarang malah naik kadang sekitar Rp23 ribu sampai 25 ribu per tabung,” terangnya. Dedi mengungkapkan, tak hanya mahal, keberadaan elpiji 3 kilogram ini juga sempat langka, sehingga sulit didapati di sejumlah pangkalan maupun toko sembako. Pihaknya kemudian berusaha mencari pangkalan yang menjual gas tersebut, mengingat saat ini gas menjadi kebutuhan utama bagi rumah makan miliknya.

“Kenaikan ini pasti ada dampaknya bagi kita, karena bagi kita tentu menambah pengeluaran. Kebutuhan kami untuk gas termasuk lumayan, pas lagi ramai pengunjung ya gas juga banyak kita perlukan. Sehari bisa sampai lima atau tujuh tabung,” katanya. Menurut Dedi, untuk pemenuhan kebutuhan gas melon di rumah makannya, biasa dari agen atau pangkalan yang telah menjadi langganannya mengantar langsung elpiji ke rumah makannnya.

Namun, dengan adanya kelangkaan ini, ia pun terpaksa mencari sendiri gas ke toko-toko lain yang masih menjual. “Hanya saja, harganya lumayan mahal juga kalau di eceran,” terangnya. Dedi berharap agar gas melon ini bisa normal kembali seperti biasa. Karena sebagai pengusaha rumah makan, kenaikan harga gas tentu berimbas pada omzet sehari-hari. Sementara dirinya juga mesti berpikir ulang untuk menaikkan harga makanan.

“Rumah makan mau naikkan seribu saja, pelanggan saja sudah komplain. Makanya kita harapkan semoga bisa kembali normal,” harapnya. Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perdagangan, Alexander menerangkan, terkait kenaikan harga gas elpiji beberapa pekan terakhir, dirinya belum ada menerima laporan dari masyarakat secara resmi. Namun, pihaknya akan menurunkan tim ke lapangan untuk mengecek terkait kenaikan maupun kelangkaan elpiji tiga kilogram tersebut.

“Kalau memang harga masih naik pekan ini, kita rencananya akan lakukan pemantauan langsung ke agen dan pangkalan. Apa yang menjadi penyebab kenaikan harga gas bersubsidi ini,” katanya. Terpisah, Simon, pemilik toko sembako yang juga menjual elpiji 3 kilogram mengungkapkan pasokan gas dari pangkalan memang sudah tak lancar sejak sebulan terakhir. Harganya juga sudah tinggi dari pangkalan.

“Kami biasa jual Rp20 ribu per tabung. Sekarang karena dari pangkalan sering kosong, kalau ada stok pun harganya sudah tinggi sehingga sekarang terpaksa kita jual Rp25 ribu per tabungnya,” katanya. (eko/ang)