Anggaran Tunjangan Profesi Guru Melawi Capai Rp33 Miliar

Melawi

Editor Kiwi Dibaca : 708

Anggaran Tunjangan Profesi Guru Melawi Capai Rp33 Miliar
Seminar Pendidikan – Ratusan guru di Melawi ikut serta dalam seminar pendidikan yang diselenggarakan PGRI Kabupaten Melawi
NANGA PINOH, SP – Peran serta guru untuk meningkatkan kualitas pendidikan kepada murid menjadi hal penting untuk terus dilakukan. Sikap profesional dan ikhlas menjalankan tugas mendidik juga harus dimiliki oleh para guru.

“Guru juga harus punya sudut pandang bahwa tugas mereka tidak hanya sebatas administrasi sebagai aparatur. Tapi yang penting nilai pengabdian yang tulus,” kata Bupati Melawi, Panji seusai membuka Seminar dan Workshop Pendidikan yang diselenggarakan Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) Kabupaten Melawi, Selasa (31/10) Panji menilai, banyaknya guru yang bertugas di pedalaman juga sudah mendapat perhatian dari pemerintah, mulai dari berbagai tunjangan, termasuk tunjangan profesi yang diberikan pada guru bersertifikasi.

   “Negara sudah memberikan penghargaan yang cukup juga. Sekarang untuk Melawi sudah mencapai Rp33 miliar per tahun,” katanya. Dikatakan Panji, pemerintah tetap berupaya menginventarisir berbagai persoalan dan masalah yang masih dihadapi guru. Ia juga meminta Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud), agar persoalan yang mendasar bisa dijawab oleh pemerintah sesuai dengan prioritas yang ada dan kemampuan daerah.

“Ini juga terkait dengan profesi guru agar nantinya kinerja mereka bisa ditingkatkan,” katanya. Kepada guru yang sudah bersertifikasi pendidik, Panji meminta mereka menunjukkan bahwa sertifikasi tersebut menunjukkan sesuatu yang khusus bagi guru tersebut. “Mereka memiliki kelebihan dibandingkan dengan guru kebanyakan yang belum bersertifikasi. Maka dari sisi pekerjaan mereka bertanggung jawab dengan sertifikasi tersebut,” pesannya.

Panji juga menyampaikan pesan pada guru masa kini. Ia menuturkan, guru zaman dulu masuk ke dalam desa tidak pernah berpikir kembali ke kota. Dulu guru masuk ke alur sungai tidak menuntut jalan aspal. “Mereka tak pernah bilang, tak akan mati kita tak ada listrik. Guru zaman dulu tak pernah mengeluh tak ada sinyal,” katanya. Khusus untuk PGRI, Panji meminta organisasi ini bisa mengkonsolidasi dan membina guru. Pembangunan, menurutnya tak melulu soal fisik, tapi juga mental dan spiritual.

   “PGRI saya yakin dengan pembinaan dan silaturahmi dan ikatan kekeluargaan yang kuat diantara mereka, ini akan jadi organisasi yang akan eksis menghadirkan kejujuran, kebenaran dan keteladanan,” katanya. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Melawi, Joko Wahyono mengungkapkan ada 654 guru di Melawi yang kini sudah bersertifikat pendidik. Jumlah ini baru sebatas guru di tingkat SD dan SMP karena untuk SMA sederajat sudah beralih kewenangan ke provinsi.

“Sekarang, tidak bisa hanya mendaftar untuk bisa menjadi guru bersertifikasi. Dia harus ikut Uji Kompetensi Guru (UKG). Tahun ini ada 49 guru yang ikut PLPG,” katanya. Setiap tahun, lanjut Joko semua guru harus mengikuti UKG untuk mengukur mengukur kemampuan guru.

Untuk guru yang bersertifikasi, namun tak lulus UKG memang belum ada sanksinya. “Skor UKG standarnya sekarang 65. Hanya kita akui, hasil UKG guru guru di Melawi masih dibawah standar,” katanya. (eko/jee)