Sabtu, 14 Desember 2019


Panji Janji Tata Lokasi PKL

Editor:

Kiwi

    |     Pembaca: 548
Panji Janji Tata Lokasi PKL

Semrawut – Sejumlah PKL berjualan di tepi Jalan Garuda, walau sebenarnya tersedia lapak atau kios di dalam pasar.

NANGA PINOH, SP – Penataan Pedagang Kaki Lima (PKL) di sejumlah titik pasar Nanga Pinoh hingga kini belum dilakukan oleh Pemkab Melawi. Kondisi ini memunculkan kesemrawutan di sejumlah jalan sekitar pasar yang menjadi objek para PKL berjualan. Bupati Melawi, Panji mengungkapkan, pemerintah sudah membuat sejumlah langkah untuk menangani para PKL.

Mulai dari upaya sosialisasi dengan memanggil para PKL ini ke Pendopo Rumah Jabatan Bupati Melawi beberapa bulan lalu. “Setelah sosialisasi awal, kita kemudian bentuk tim terpadu. Semua pihak yang terkait untuk bisa melaksanakan tugas penertiban,” katanya, Rabu (11/8).

Dipaparkan Panji, tugas tim terpadu ini dimulai dengan adanya peringatan, pengosongan tempat. Hanya amanah dirinya, segala sesuatu harus sesuai mekanisme. Tim bergerak sesuai tahapan seperti mulai dari memberikan peringatan terlebih dahulu.

“Setelah tahapan disampaikan dengan baik dan benar, ternyata masih banyak dari warga kita yang tidak mau mengerti, baru terpaksa saya harus bertindak tegas. Karena ketertiban, kenyamanan umum di dalam kota Nanga Pinoh sebagai ibukota kabupaten, wajib kita tegakkan,” katanya.

Dipaparkan Panji, para PKL diharapkan tak terlalu mengotot untuk hal-hal yang justru merugikan semua pihak ke depannya. Di mana dampak yang muncul adalah kota menjadi kumuh, kotor dan sumpek. Apalagi ketertiban di depan rumah toko (ruko) serta jalan raya juga menjadi sangat terganggu.

“Saya yakin mereka nanti akan memberikan dukungan. Kalau perlu bantulah. Tidak usah dibongkar oleh aparat kita, tapi dibongkar sendiri, dibersihkan dan dikerjakan sendiri,” harapnya. Salah seorang PKL, Tain Iskandar beberapa waktu lalu mengaku sudah mendengar pemaparan pemkab terkait rencana penataan pasar dan relokasi PKL.

Ia sendiri berharap penataan ini menjadi bentuk perhatian terhadap para PKL yang memang menggantungkan hidupnya dari usaha berjualan. “Karena memang PKL belum punya tempat khusus untuk berjualan. Jadi kita merasa bahwa memang tempat kita berjualan ini salah. Tapi apa boleh buat, kondisi yan memaksa kami,” katanya.

Tain sendiri berharap, bila nantinya pemerintah akan merelokasi ke tempat yang lain, janganlah lapak pedagang ini langsung digusur atau dibongkar mengingat masih banyaknya barang yang ada di lapak.

“Tolonglah mengerti, pedagang ini juga banyak yang terlilit hutang, baik dengan bank maupun dengan para langganan,” katanya mengiba. (eko/jee)