Truk Sawit Merusak Jalan Pinoh-Ella

Melawi

Editor kurniawan bernhard Dibaca : 1011

Truk Sawit Merusak Jalan Pinoh-Ella
JALAN RUSAK – Tampak Jalan Pinoh-Ella di simpang Tahlud sampai Semadin rusak parah, membuat kendaraan terkadang amblas dan terbalik. Perbaikan dari perusahaan juga terhenti karena sejumlah perusahaan tak mau ikut ambil bagian. (Ist)

Warga Minta Perusahaan Tanggung Jawab


NANGA PINOH, SP
– Kondisi Jalan Nanga Pinoh-Ella Hilir, Melawi, hangat dibicarakan di media sosial sepekan terakhir. Foto-foto kendaraan mulai dari truk tangki pengangkut CPO, serta kendaraan warga amblas dan terbalik hingga antrean panjang kendaraan di tengah jalan berlumpur memenuhi lini masa.

Rusaknya Jalan Nanga Pinoh-Ella Hilir, persisnya di Desa Semadin Lengkong memang telah berlangsung lama. Kondisi itu diperparah lalu lintas kendaraan meningkat tajam setelah beroperasinya pabrik kelapa sawit PT Citra Mahkota di Menukung. 

Tokoh masyarakat Melawi, Feby menilai, penanganan jalan itu lambat, baik dari pemerintah maupun perusahaan sebagai pihak yang dianggap ikut bertanggungjawab dengan kerusakan jalan.

“Koordinasi keduanya juga saya nilai lambat. Karena kondisi jalan sudah sedemikian parah dan merugikan masyarakat yang melewati ruas jalan tersebut,” kritiknya.
Padahal dampak kerugian yang dialamai masyarakat sangat besar. Kendaraan-kendaraan milik masyarakat tak bisa beroperasi.

Kendati lalu lintas jalan yang saat ini didominasi angkutan milik perusahaan perkebunan, namun negara tetap wajib menyediakan infrastruktur yang baik untuk mempermudah investor masuk karena menyerap tenaga kerja begitu banyak.

“Termasuk sopir angkutan TBS dan CPO. Ini juga ada pengaruhnya dengan ekonomi masyarakat di sekitar perkebunan,” ucapnya.

Di sisi lain, perusahaan juga harus bekerja sama dengan Pemda yang memiliki banyak keterbatasan. Kalau perusahaan hanya mau menggunakan jalan, namun tak mau bersama membantu memperbaikinya tentunya perusahaan harus disalahkan.

“Seperti yang saya dapat infonya ada perusahaan yang ikut jual TBS ke PT Citra Mahkota, tapi tak mau ikut berpartisipasi walaupun sudah dikoordinasikan, ini harus disikapi oleh pemerintah,” sarannya.

Camat Nanga Pinoh, Daniel mengungkapkan, sebenarnya penanganan Jalan Pinoh-Ella sudah dikoordinasikan ke sejumlah perusahaan. Bahkan koordinasi ini sudah berjalan sejak tahun lalu.

“Sudah ada surat camat untuk menindaklanjuti kesepakatan bersama tersebut. Namun, kondisi di lapangan diketahui hanya dari PT CM dan PT Erna saja yang menurunkan alat berat serta material untuk memperbaiki jalan. Sedangkan dari PT SMS, PT BPK dan Trenggano sampai hari ini belum ada,” katanya.

Akibatnya, karena banyak perusahaan yang tidak ikut berpartisipasi, maka PT Erna yang sudah mulai melakukan perbaikan kembali menarik alat beratnya karena merasa diperlakukan tidak adil.

“Camat sudah melaporkan persoalan ini ke bupati. Yang pasti sebenarnya sudah ada kesepakatan soal perbaikan jalan bersama perusahaan. Hanya realitas di lapangan ya seperti ini,” terangnya.

Anggota Komisi D DPRD Melawi, Mulyadi menyesalkan perusahaan yang tak memenuhi komitmennya untuk bersama memperbaiki jalan tersebut. Harusnya kesepakatan yang telah dibuat dijalankan.

“Jangan sampai sudah diputuskan ternyata malah tidak ada action di lapangan. Perusahaan ini juga harusnya terbuka dalam setiap pertemuan, apa masalah dan bagaimana solusinya agar jalan ini bisa tertangani,” katanya.

Perbaiki Jalan Alternatif


Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Melawi, Makarius Horong mengungkapkan, Jalan Pinoh-Ella saat ini sebenarnya sudah berstatus jalan strategis nasional. Jalan ini dahulu jarang mengalami kerusakan seperti saat ini.

“Sebelum bicara penanganan, kita lihat dulu sebab kerusakannya apa. Karena setelah banyaknya kebun dan pabrik pengolahan kelapa sawit, sekarang jadi rusak berat. Padahal dulu lancar saja,” katanya.

Menurutnya, sepanjang Jalan Pinoh-Ella ini tak mampu menahan tonase kendaraan pengangkut CPO dan TBS yang jumlahnya bisa mencapai ratusan unit per hari. Ditambah dengan musim hujan yang tinggi, maka kondisnya makin parah.

“Sementara kita juga terhambat karena untuk memperbaiki ruas ini diperlukan dana yang cukup besar. Kita tak punya dana standby setiap saat. Sementara, tahulah APBD ini kapan mulai berjalankan,” ucapnya.

Tahun ini sebenarnya dianggarkan Rp3,5 miliar melalui DAK 2018 untuk memperbaiki ruas jalan tersebut. Anggaran ini sejatinya juga tak cukup untuk memuluskan jalan yang rusak berat hingga ke arah Semadin. Sehingga nantinya hanya  diperbaiki pada ruas yang mengalami kerusakan parah.

Dalam waktu dekat, dia lebih memilih untuk memperbaiki jalan alternatif mulai dari Simpang Semadin Lengkong dan menggunakan jalan yang mengarah ke Kelakik atau Logpon PT Erna. Jalan ini akan diperbaiki sehingga bisa digunakan masyarakat untuk menghindari ruas Semadin-Tahlud yang rusak parah.

“Tapi itu hanya untuk masyarakat. Nanti saya minta warga dan kades pasang portal sehingga perusahaan tak bisa lewat sana,” ucap dia. (eko/ang)